Posts

Seperti Kemerdekaan, Kebahagiaan Pun Bisa Dipasung

Image
"Jual-beli (kemerdekaan) anak ayam di depan sebuah sekolah, Makassar 2014" Tulisan pertama dari beberapa seri bertema #kemerdekaan dan #17an. Tambahan Referensi, arti 'merdeka' menurut KBBI): Agar tidak terjebak euforia absolutisitas semu ‘kebahagiaan dan kemerdekaan’, selain menyarankan referensi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) baik kalau pernah membaca buku “The Black Swan”, tulisan ekonom Nassim Nicholas Thayeb, yang menurutku berhasil memenangkan gugatan intelektual atas “White Swan” yang selama beberapa dekade, putih diyakini sebagai satu-satunya warna bulu angsa sampai ditemukan angsa berbulu hitam di Australia.  Muslim yang sering membaca surah ‘Al Ikhlas’ dan memahami nuansa ketauhidan di sana, rasanya tidak perlu membaca ‘The Black Swan’ jika hanya untuk memahami ketidak-absolut-an dunia.  Penegasan bahwa Allah Ta’ala tidak dapat diserupai dan menyerupai apa pun, juga menekankan selain Tuhan semuanya tidak absolut. Mesti berpasang-pasangan, selalu ad...

Niat

Image
Senja di dermaga 'POPSA' Makassar, 2014. Ciri kata-kata yang mengandung sifat-sifat baik, yang juga kata kerja —karena butuh kerja keras dengan banyak pengulangan sebelum berkarakter atau bersifat demikian— biasanya hanya satu kata. Seperti; sabar, syukur, tulus, ikhlas, baik, benar, indah, harapan, bahagia dan lain-lain. Satu kata, tetapi tidak membuat seseorang serta merta demikian setelah tahu, dan memahami definisi, ciri dan sifat, sesuai kata yang dimaksud. Seorang fotografer (IG @brunosoaresfphotography), menulis keterangan gambar untuk fotonya di Instagram, foto satu sampan kecil tenang mengapung di teluk yang tenang dengan pasak-pasak bekas tiang dermaga kayu yang berdiri lebih tenang, untuk ketergantungannya pada media sosial. (Foto di sini belum mendekati 50% ketenangan yang digambarkan fotonya). “Dalam dunia yang semakin cepat, setiap hari semuanya semakin buram. Dunia di mana kita tanpa sadar dan tanpa niat masuk ke dalamnya sembari berusaha meyakinkan diri...

Ininnawa

Mungkin takdir menganggap urusan dengan kawanku belum tuntas, kami dipertemukan lagi di sebuah warung kopi. Tanpa basi-basi, kembali mengingatkan dengan nasihat ibunya, “Ibuku pernah menasihati, kalau kamu menerima perlakuan buruk yang tidak kamu sukai dari siapa saja, sebelum membalasnya ingatlah satu hal, tidak ada yang lebih membutuhkan kebaikan ketimbang mereka yang terpaksa atau tidak telah berbuat buruk kepadamu.” “Bagaimana menunda marah?” Tanyaku sembari tersenyum bersyukur, nasihat keras dari seorang kawan tetap lebih baik dari pujian seorang musuh. “Ininnawa, sabbara’e!” Jawabnya singkat, kemudian pamit sebelum sempat bertanya, maksudnya lagu yang dinyanyikan ibu-ibu suku Bugis ketika menidurkan anak? Meskipun lahir dan besar di Makassar, bahasa Bugisku tidak sefasih bahasa Makassar. Lagu “Ininnawa” sering diputar sopir angkot, di warung kopi, langgam pengiring di kedai Ballo (tuak khas Sulawesi Selatan) atau di televisi lokal. Ada tiga verse dengan lirik yang hanya be...

Tentang Kehilangan

Image
Dua batu gamping penanda pusara mendiang ibu sebelum dipasang subuh-subuh sehari setelah pemakaman. "Ibuku pernah menasihati, kekasih yang berani mengambil risiko kehilangan dirimu bukan perempuan yang tepat untuk dinikahi." Kata kawanku dengan mimik serius, lalu kembali sibuk dengan aplikasi obrolan di ponselnya. Walau sekadar menyalin ulang, nasihat ibunya cocok bagi yang merasa memiliki lalu takut kehilangan. Bukan buatku yang sedang belajar malu hati kalau sampai takut kehilangan sesuatu yang memang bukan milikku, nyawa yang membuatku bisa menulis sekarang juga bukan punyaku. Sengaja kudiamkan agar obrolan berlangsung singkat. Kami pun berpisah tanpa mencari tahu, mengapa ia menjadi bagian dari gelombang ke sekian yang memasuki wilayah yang beberapa tahun terakhir berusaha diubah orang-orang, tanpa menjelaskan di balik gelombang yang membawanya menemuiku dengan nasihat ibunya ada apa, siapa, dan mengapa. Tidak heran, besarnya imbalan dan idealnya ambisi, harapan ...

Tidak Ada Pembenaran Mendurhakai Ibu

Kromosom X atau kromosom Y dalam benih seorang Bapak memang yang menentukan apakah janin anaknya kelak lelaki atau perempuan. Kemudian Ibu yang menyabung nyawa sembilan bulan, berbagi semua sumber daya tubuhnya, selama beberapa waktu, denyut jantung Ibu menjaga jantung janin tetap berdetak, udara yang ia hirup menghidupi sang janin. Sembilan bulan dengan beraneka rupa kesakitan, seorang Ibu masih harus mengalami puncak rasa sakit fisik yang pernah dikenal manusia di bumi saat melahirkan. Itu pun masih ditambah dengan puncak-puncak kesakitan batin dan perasaan saat membesarkan dan mendidik anak. Wajar kalau Baginda Nabi Muhammad Salallahualaihiwassalam mengharuskan seorang Bapak menunggu anaknya menuntaskan tiga lapis keutamaan mengabdi kepada sosok Ibu, sebelum ketiban giliran. Seharusnya semua Ibu dan manusia paham mengapa seorang anak wajib menolak mengabaikan wasiat mendiang ibunya. Seharusnya semua pembenaran yang menurut logika lebih besar dari bakti anak kepada ibu, tidak...

Khusyuk

Image
"Jika seseorang terpanggil menjadi tukang sapu, hendaknya ia menyapu jalan layaknya Michael Angelo sedang melukis, atau Beethoven ketika membuat komposisi musik, atau seperti Shakespeare menulis puisi. Menyapu jalan di tangannya menjadi pekerjaan yang begitu agung, hingga penduduk langit dan bumi berhenti sejenak untuk berkata, 'Di sini pernah hidup seorang tukang sapu agung yang menuntaskan pekerjaannya dengan begitu baik'". Tidak sengaja menemukan kutipan di atas, dari salah satu buku yang sebagian telah termakan rayap. Sayang kalau dibuang begitu saja sebelum membaca ulang bagian yang masih bisa terbaca. 'Formula' menjadi tukang sapu agung yang mengguncang langit dan bumi, kurang lebih sama dengan formula meraih salat yang khusyuk dari mendiang guru mengaji kami. "Usahakanlah ketika duduk 'tasyahud' dalam salat, pohon-pohon di bumi dan di lauhul mahfudz ikut melantunkan dan bersaksi dengan dua kalimah syahadat yang kamu baca, hingga me...

Berbagi Catatan Kecil #1

Image
Setiap membaca buku non-fiksi, biasanya mencatat beberapa bagian dari buku yang sedang kubaca. Kadang bagian dari dalam buku tersebut, juga pemikiran yang melintas saat membaca satu paragraf, atau satu bab. Jadi ini bukan resensi, mana pantas membuat penilaian atas "Rahasia Yang Mahaindah. Sempat ragu memuat catatan kecilku di sini setelah membaca sekilas hadis yang redaksinya kira-kira: "Termasuk kezaliman jika membagi hikmah kepada mereka yang tidak mau menerimanya, dan termasuk kezaliman jika tidak berbagi hikmah kepada mereka yang membutuhkan." Duh, Gusti Allah. Buru-buru mencari kembali teks hadis tersebut, sebagai alasan tidak jadi memuat catatan kecilku di sini, tetapi tidak ketemu. Semoga kegagalanku menemukan redaksi hadis tersebut pertanda untuk memuat catatan kecil setelah menamatkan Bab I, yang kumulai dengan Basmalah dan pikiran berikut: "Tidak menjadi wali tidak mengapa, jelas itu bukanlah tujuan ketaatan dan menghamba, hamba lebih takut bila ma...