Posts

Showing posts with the label in memoriam

Terima Kasih

Image
Puncak Gunung Talang, Solok, Sumatera Barat (Mei 2015)  Dalam kurun waktu dua puluh tahun, tidak banyak yang bisa aku pahami tentang ‘dunianya yang baru’, dunia yang ia bangun di dalam kepala dan perasaannya sendiri. Tanpa pintu masuk, hanya jendela yang sesekali ia buka kepada ‘dunia luar’ sejak tahun 2005 hingga berpulang di tahun 2025. Pembuluh darah vena di kedua kakinya tersumbat akibat minim aktivitas fisik. Puluhan literatur fiksi dan non-fiksi yang aku kumpulkan di era pra-AI hampir tidak membantu sama sekali. Kecuali satu, mereka yang memutuskan --sukarela atau dipaksa keadaan-- memasuki dunia tersebut, mungkin memang bukan untuk dipahami (ingin memahami karena diam-diam berharap kelak bisa kembali hidup ‘normal’ di dunia yang kita anggap ‘normal’), hanya butuh diterima, tanpa label, tanpa stigma, dan tanpa syarat. Mendiang guru mengaji yang berhati lembut menangkap kegelisahanku, menyempatkan diri berkunjung ke rumah menjenguk kakak. Kata beliau, “Kakakmu tidak sakit, ia ...

Selamat Jalan Mas Didi Kempot

Image
Sebagai generasi yang mengalami gerakan Reformasi '98, secara materi dan psikis, lagu 'Stasiun Balapan' yang populer setahun kemudian (1999) ikut menemani momentum 'move-on', termasuk merelakan laba mengerjakan proyek konstruksi rumah mesin di pulau Barra Caddi habis untuk menutupi kenaikan harga material dan jasa berlipat-lipat dari 50% sampai 200% akibat inflasi dan nilai tukar rupiah yang keok. Pasal 'keadaan darurat' dalam kontrak dengan pemilik proyek hanya mencakup kejadian alam luar biasa. Awal tahun 1999 rumah mesin selesai meski harus akrobat, Alhamdulillah, diresmikan walikota Makassar, masuk tipi. Kembali ke Makassar membawa pegalaman manajemen koboi, yang sayangnya tidak berguna menghadapi badai berikutnya, rencana meminang kekasih dengan untung dari proyek tersebut, ambyar. Sepakat tidak melanjutkan hubungan kami. Umur segitu, patah hati bukan sesuatu yang mudah dong, butuh waktu dan ruang khusus 'merayakan' patah hati dan batal me...

Selamat Jalan Mas Danarto (27 Juni 1940 - 10 April 2018)

"Ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tidak terbatas. Luas bagi cakrawala. Mengapa harus ditangisi? Jelas ini salah tafsir." (Danarto, 2008:10) Berkenalan dengan cerpen-cerpen mendiang awalnya dari majalah Matra, majalah lelaki tahun 90an yang memuja maskulinitas dengan beberapa lembar foto perempuan-perempuan yang membuat dadaku bergemuruh di usia yang kurang setahun dua puluh ketika itu. Membaca cerita pendek tulisan mendiang sengaja kulakukan paling akhir sebelum meletakkan kembali majalah ke rak buku, syahwatku tertunduk malu setiap kali berhadapan dengan metafora yang digunakan Mas Danarto dalam cerita pendeknya. Banyak tulisan mendiang yang meninggalkan bekas, meluaskan, mewarnai cakrawala berpikir dan imajinasiku. Aku masih ingat ceritanya tentang malaikat maut yang ketika membentangkan sayapnya membuat gerhana segalaksi Bima Sakti, tetapi mampu menyamar menjadi guci keramik pajangan di ruang tamu seorang saudagar. Sejak membac...

Selamat Jalan Om Ancung

Barusan terima beritanya, pukul 21 WITA Kamis 27/2 berpulang di Makassar. Hampir bersamaan dengan tabrakan dua sepeda motor depan rumah di Padangpanjang, satu orang meninggal di tempat. Beruntung pernah mengenal dan akrab dengan orang unik seperti Syamsun Ayun Lili. Perintis band tua di Makassar, JPL band, dedengkot drag race di Dago dengan Peugeot pemberian keluarganya (kelak dikirim ke Makassar, antik, setir kiri, masih jalan dan membuat banyak cerita lucu dengan kami), mendiang salah satu aktifis "Malari" dari fakultas seni rupa ITB, menolak NKK/BKK, selamat oleh salah seorang pamannya petinggi ABRI, kakaknya masih walikota Makassar ketika itu. Mendiang termasuk terlambat menikah, nanti usianya sudah 45 tahun lebih. Saking senangnya, undangannya saya minta yang bikinkan, 200 lembar undangan manis dan sederhana, dari karton concorde warna abu-abu, kami hiasi dengan tinta biru, semuanya buatan tangan. Tanda sayang pada seseorang yang kami anggap om sendiri. Main dan nong...

Kudus

malam kudus, sunyi senyap, semua berpendar, semua terdiam. Beberapa teman dan sahabat memeluk beragam agama dan kepercayaan. Kami sering diskusi, kadang hingga ke aqidah. Diskusi, bukan debat, karena tidak ada pihak yang diserang lalu satunya lagi bertahan. Tidak berdebat karena kesadaran, soal aqidah dan keimanan, sudah bukan wilayah kekuasaan manusia. Manusia tidak bisa memilih, mau lahir dari keluarga majusi, nasrani, yahudi, budha, hindu, muslim atau atheist. Nanti setelah berakal sedikit, baru mulai muncul klaim-klaim paling benar. Bahkan ada yang begitu sibuknya mengklaim, hingga apa yang diyakininya sebagai jalan kebenaran tidak juga selesai dilaluinya. Malam natal beberapa tahun lalu di rumah mendiang, usai menonton 'boxing day' liga Inggris, sama-sama terdiam di depan layar televisi, menikmati orkestrasi lagu Holy Night. Meski muallaf sejak menikah, setiap menjelang Natal rumahnya dihiasi pernik Natal, untuk saudara-saudara dan ibunya. "Ajarkan saya tent...

Bombong Kaluku**

**Bombong: anak/bakal buah kelapa yang terjebak dalam buah kelapa lain, biasanya sebesar jambu rasanya gurih, berwarna gading; Kaluku: kelapa (bahasa Makassar) Banyak kenangan dan teladan tentangnya di masa kanak-kanak. Bisa dibilang pohon apapun yang kita panjat dan petik buahnya, rawa manapun yang kita ceburi untuk cari ikan kanjilo (sejenis Lele) atau ikan balebalang (sejenis ikan rawa mirip Kakap), selama berada di antara got besar dan gang satu di kampung Parang, masih tanah mendiang suaminya. Sikapnya yang penuh kasih jadi semacam "antidot" buatku yang lebih dulu mengenal karakter "tuan tanah" dari komik, yang biasanya kejam. Dari sekedar membolehkan kami main-main di kebunnya, hingga menyeberangkan jalan ke mesjid tempat belajar mengaji alif rateanna aa, alif rawanganna ii (alif berbaris atas aa, alif berbaris bawah ii). Mendiang punya banyak orang yang bisa ia suruh, tapi kalau urusan anak-anak, turun tangan sendiri. "Belah kelapanya, airnya ta...

Selamat Jalan pak Tarmizi

Image
foto: antaranews.com

Tra la la Tri li li Tara di di

Image
No one would steal from the old man but it was better to take the sail and the heavy lines home as the dew was bad for them and, though he was quite sure no local people would steal from him, the old man thought that a gaff and a harpoon were needless temptations to leave in a boat. "The Oldman and The Sea - Ernest Hemingway" In memoriam Ali Walangadi , rest in peace 14th February 2011

In Memoriam AT. Mahmud.. Ambilkan Bulan Bu..

Image
Ambilkan Bulan Bu by Tasya Download now or listen on posterous Tasya - Ambilkan Bulan Bu.mp3 (5617 KB) Entah apa jadinya masa kecil kita tanpa lagu-lagu almarhum.. AT Mahmud lahir di Palembang, Kampung 5 Ulu Kedukan Anyar, 3 Februari 1930. Ia anak kelima dari sepuluh bersaudara. Ibunya bernama Masayu Aisyah, ayahna bernama Masagus Mahmud. Ia diberi nama Abdullah dan sehari-hari dipanggil Dola. Namun, sebutan nama Abdullah atau Dola kemudian menghilang. Nama pemberian orang tua tercatat terakhir pada ijazah yang dimilikinya pada sekolah Sjoeritsoe Mizoeho Gakoe-en (sekolah Jepang) tahun 1945. Pada ijazah itu nama lengkapnya tertulis Mgs (Masagus) Abdu'llah Mahmoed. Di rumah, kampung, dan teman sekolah, ia lebih dikenal dengan nama Totong. Pada surat ijazah Sekolah Menengah Umum Bagian Pertama (setingkat SLTP) tahun 1950, namanya tertulis Totong Machmud. Ambilkan bulan Bu, Ambilkan bulan Bu yang slalu bersinar dilangit Di langit bulan benderang Cahyanya sampai...

Makna sebuah titipan - WS. Rendra

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya, bahwa hartaku hanya titipan Nya, bahwa putraku hanya titipan Nya, tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku? Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku? Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ? Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka, kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita. Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, Seolah semua "derita" adalah hukum...

Tidak Pernah Lebih Mudah

Image
"An.." "Saya ulang kali latihan dengannya untuk hadapi keadaan sekarang, entah dia atau saya yang akan lebih dulu pergi. Di tempat tidur kita obrolkan tentang perpisahan, hampir tiap malam An!" "Tapi saya tidak juga merasa kuat.." Berikutnya hanya isak tangis yang kudengar. Tangisan laki-laki tua berusia 89 tahun yang mengabariku istrinya meninggal dunia. Seorang laki-laki tua veteran pejuang kemerdekaan terisak pada kehilangan yang dia sadari memang bukan miliknya. Perpisahan tidak akan pernah lebih mudah, walau itu adalah perpisahan yang kita alami untuk ke sejuta kali, sekalipun.