Posts

Showing posts with the label ubud

Hari Kelima: Penundaan - (penutup)

Bagian penutup oleh-oleh cerita selama perjalanan ke Ubud malah aku tulis di Bandung, setelah seharian jadi fotografer dadakan di acara wisuda S3 Fakultas Ekonomi UNPAD. Diwisuda dari perguruan tinggi, sesuatu yang tidak sempat aku rasakan :') Ikut tertular kebahagiaan yang menyeruak di kampus UNPAD Dipatiukur dari pagi hingga petang, kebahagiaan menembus halang-rintang, harapan dan mimpi-mimpi mereka beterbangan di udara. Selamat, selamat.

Hari Ketiga: What the hell?

Image
Sebelum mendengar salah satu penanya kemarin di Neka Gallery, yang protes tema UWRF2011 mestinya "cultivate the capitalism within" bukan "cultivate the land within" sudah mulai merasa aneh, kudapati di beberapa pojok Ubud, kita seperti menjadi "tamu" di negeri sendiri. Aku mulai motret pemandangan khas urban, pengemis dan gelandangan. Tidak sebanyak dan separah pemandangan di kota yang lebih besar seperti Makassar apalagi Jakarta. Kacau ini. Bukannya liburan malah mikir. Dari mengamati seorang kawan dan karyawannya di sini, bekerja bagi mereka adalah ibadah, apapun pekerjaannya, kasar ataupun berdasi, untuk umat Hindu yang taat, kerja itu ibadah juga. Sama, hampir semua agama juga mengajarkan begitu, apapun aktifitas kita, sedapat mungkin nilainya ibadah. Jatuh cinta juga begitu, landasan pertamanya vertikal dulu, ibadah karena Tuhan, tidak lupa berterima kasih pada yang memberi topi tapi lupa berterima kasih pada Tuhan yang memberi kepala unt...

Oleh-Oleh Hari Kedua (Arsitektur dan Feromon)

Image
Pemandangan depan penginapan indah, hamparan sawah berundak, ingatkan pengalaman liburan masa kecil di  Batusangkar, mengairi sawah dengan bantuan gravitasi. Di Ubud perusahaan penjual dan penyewaan alat berat tidak bisa hidup. Mereka tidak butuh traktor, tongkang dan lain-lain untuk mengubah muka bumi, mereka yang patuh dan menyesuaikan diri pada rupa bumi. Orang Ubud menyadari bumi ini "rumah" dan mereka hanya "tamu" yang akan "pergi". Mereka tamat soal Arsitektur dan pengairan tanpa sekolah formal. Semalam berjalan kaki dalam hujan, aku tidak merasa sepi, aku menjadi noktah, bagian dari semesta raya. Arsitektur rumah dan tata kota di Ubud beresonansi penuh harmoni dengan alam sekitar, aku menemukan ketenangan batin pada tingkatan tertentu. Tenang, sama seperti kegalauan juga bertingkat-tingkat, ada ketenangan yang bisa dibangun melalui arsitektur dan tata kota yang baik, berselaras dengan alam sekitar. Dengan membenahi arsitektur dan tata kota ...

Oleh-Oleh dari Ubud (Bagian Satu)

Image
Sebenarnya selain ini ada 2 postingan lain tentang perjalanan ke Ubud kemarin (5 - 10 Oktober 2011), tapi kusimpan kembali, karena akan aku masukkan dalam "draft", statusnya menjadi "sedikit rahasia", halah .  catatan tambahan 20 Mei 2012 *kepikiran untuk memasukkan "episode Ubud" dalam novel yang entah kapan kuselesaikan, menyelesaikan fiksi mungkin lebih mudah, sisa ngarang, sementara menulis jurnal "perjalanan" harus menunggu beberapa episode perjalanan yang belum selesai. Keperluanku selama perjalanan ini juga tak banyak, menjenguk dan menemani bapak ketemu gede sampai beliau berangkat ke Cina berobat kanker Paru, juga untuk memastikan 45 hari terakhir ini delusi saja atau delusi juga untuk pembuka jalan ke delusi lainnya, sudahlah, karena sebaik-baiknya galau itu adalah galau yang terarah, sekedar memastikan tidak menambah derita di tempat lain. Banyak pengalaman berharga selama di sini, egois bila tak kubagi. Hari Pertama: Penggembira ...