Posts

Showing posts with the label surat

Surat-surat Yang Mestinya Kubacakan Di Sampingmu #2

Image
Kembang di halaman 'Rumah Gadang' suku kami, suku mendiang Ibu, seusai pemakamannya 5/4/2017 Surat-surat yang kutulis buatmu memang kurencanakan untuk kubacakan di sampingmu, kemudian berbincang tentang isinya. Hampir seluruh pendek-pendek, sekitar 600 karakter atau dua kali ngetwit 300 karakter. Hanya tiga surat yang lebih dari 3000 karakter, lebih dari 300 kata. Surat pertama isinya singkat: " Jika kamu berpikir suatu hari kita akan bersama, maka kita akan bersama." Bukan Law of Murphy, aku bahkan tidak perlu berpikir.  Bayangkan akan seberapa panjang jadinya pembicaraan tentang kemungkinan bersama, dan ‘Law of Murphy’ saat kita telah bersama. Isi surat kedua tidak kalah ringkas: “Perpisahan adalah ujian terbaik untuk takdir kebersamaan. Andai dugaanku benar, aku ingin berterima kasih pada mereka yang telah mengusahakan ujian ini untuk kita.” Surat ketiga: “Mengetahui rencanamu melanjutkan sekolah, aku tidak ingin membebanimu dengan rindu selama di sana. ...

Surat-surat Yang Mestinya Kubacakan Di Sampingmu #1

Kebayoran Lama, 07 April 2018 Thankful for what I feel inside right now, padahal baru merencanakan bertemu, belum beneran bertemu, menyapa, berbincang dan bilang selamat ulang tahun yang tertunda sejak aku tiba bulan Desember tahun lalu.  Berbeda dengan perjalanan sebelum-sebelumnya ke Jakarta, yang dipenuhi rasa cemas, takut, asing dan minder. Kali ini anteng dan damai, seolah akan bertemu bagian diriku sendiri yang telah saling kenal kemudian berpisah dan akan dipertemukan kembali.  Berdebar-debar masih terasa, tetapi tidak acak, kali ini iramanya teratur dan indah. Saya suka dan bersyukur untuk itu. *** Akhirnya ketemu sebagian dari banyak file surat-surat buatmu di antara tumpukan draf. Surat di atas kutulis tidak lama setibaku di Tanah Kusir, Kebayoran Lama, sepulang dari Bandung. Setelah pertemuan sekilas di Babakan Ciamis di depan gang kecil sepulang dari mesjid selepas Asar, ketika manggaa darimu mendahului punten ku, kelabakan menjawab anak-anak kecil pul...

Dear My Future Lovely Wife..

Image
Setelah semua keinginanmu itu kau utarakan, boleh aku sampaikan keinginanku? Aku ingin kau ada di sini, sekarang, atau kau lebih suka ada dalam buku rahasia tergantung pada pohon besar di lauhful mahfudz daripada turun ke bumi menemaniku? Tadi malam seorang kawan mengeluh padaku tentang istrinya, "Adakah istriku itu menganggap aku suaminya, atau ia menikahi aku untuk mimpi-mimpinya sendiri? Untuk apa kami bersama bila selalu "dia", "aku" tanpa "kita". Aku seperti jembatan tol yang dinikahinya agar dia lebih mudah mencapai semua inginnya. Entah, apakah setelah semua dicapainya aku akan ditinggalkannya juga, seperti meninggalkan gerbang tol." Dengan "sok tahu sekali" seolah pernah jadi suami. Kuberitahukan padanya bahwa salah satu tugas seorang suami adalah mendidik istrinya, membenarkan bacaan Al-Qur'an istrinya yang salah, dan menjadi pemimpin keluarganya. Kau tidak harus menjadi jalan tol baginya yang akan diinjak saat d...