Posts

Showing posts with the label prosa

PADA SUATU KETIKA - tulisan @muharywn

PADA SUATU KETIKA Saat mana angin tak berhembus, saat mana dingin tak menembus. Seorang anak kecil berjalan dengan bunga di tangan. Tak ada yang tahu dari mana asalnya. Gerangan siapakah ia. Mungkin nama memang tak ia punya. Anak kecil itu berjalan memasuki sebuah negeri yang penuh huru-hara. Negeri yang porak-poranda dilanda bencana. Sambil berjalan, terdengar ia seperti berbisik. Mungkin ia bernyanyi. Suaranya lirih, tapi tak ada yang peduli. duh, aduh nestapa ini dimana ujungnya pilu ini dimana akhirnya duh, aduh duka yang meremukkan jiwa sajak mana mampu menampungnya

Dear My Future Lovely Wife..

Image
Setelah semua keinginanmu itu kau utarakan, boleh aku sampaikan keinginanku? Aku ingin kau ada di sini, sekarang, atau kau lebih suka ada dalam buku rahasia tergantung pada pohon besar di lauhful mahfudz daripada turun ke bumi menemaniku? Tadi malam seorang kawan mengeluh padaku tentang istrinya, "Adakah istriku itu menganggap aku suaminya, atau ia menikahi aku untuk mimpi-mimpinya sendiri? Untuk apa kami bersama bila selalu "dia", "aku" tanpa "kita". Aku seperti jembatan tol yang dinikahinya agar dia lebih mudah mencapai semua inginnya. Entah, apakah setelah semua dicapainya aku akan ditinggalkannya juga, seperti meninggalkan gerbang tol." Dengan "sok tahu sekali" seolah pernah jadi suami. Kuberitahukan padanya bahwa salah satu tugas seorang suami adalah mendidik istrinya, membenarkan bacaan Al-Qur'an istrinya yang salah, dan menjadi pemimpin keluarganya. Kau tidak harus menjadi jalan tol baginya yang akan diinjak saat d...

Memoar Veteran Pejuang Kemerdekaan Pada Sahabatnya

Image
Zaman Edan dan Doa Buat Husni Djamaluddin Oleh:  Ali Walangadi, terangkum dalam buku "Husni Djamaluddin (alm) yang Kami Kenal" kalo tidak salah gitu deh judulnya. Bukunya ama hardcopy tulisan asli dengan mesin ketik (Pak Ali 88 tahun ini tetangga, guru lukisku, kakek, ayah, teman, sahabat, saudara dan juga musuhku :) ada di Makassar Ada banyak memoar "old-crack" Indonesia utamanya yang sekampung dengan almarhum pak Husni. Tulisan pak Ali Walangadi ini salah satu favoritku dan untuk kali ke-3 setiap bulan Agustus aku repost.   Kita lahir di zaman edan, ketika kita mulai mengenal huruf dan tanda-tanda alam, hutan, laut, dan langit, kita pun melangkah masuk Kota Makassar. Di taman kota terpajang pengumuman dengan huruf besar: “Verboden voor Dieren en Inlander.” Ketika kita tanya pada papa dan mama: “Apakah kita sama dengan binatang?” Papa diam dan beranjak dari kursi malasnya yang tua, sedang mama diam dan merunduk, “Kok begitu?” Di Eropa, Perang Dunia II melet...

Pidato Kebudayaan Taufiq Ismail

Image
Sederetan gelombang besar menggebu-gebu menyerbu pantai Indonesia, naik ke daratan, masuk ke pedalaman. Gelombang demi gelombang ini datang susun-bersusun dengan suatu keteraturan, mulai tahun 1998 ketika reformasi meruntuhkan represi 39 tahun gabungan zaman Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pembangunan, dan membuka lebar pintu dan jendela Indonesia. Hawa ruangan yang sumpek dalam dua zaman itu berganti dengan kesegaran baru. Tapi tidak terlalu lama, kini digantikan angin yang semakin kencang dan arus yang menderu-deru. Kebebasan berbicara, berpendapat, dan mengeritik, berdiri-menjamurnya partai-partai politik baru, keleluasaan berdemonstrasi, ditiadakannya SIUPP (izin penerbitan pers), dilepaskannya tahanan politik, diselenggarakannya pemilihan umum bebas dan langsung, dan seterusnya. Dinikmati belum sampai sewindu, tapi sementara itu silih berganti beruntun-runtun belum terpecahkan krisis yang tak habis-habis, tagihan rekening reformasi ternyata mahal sekali. Bahana yang datang t...

Husni Djamaluddin Bergabung dengan Kehendak Allah Saja

Image
Tulisan Taufiq Ismail, yang kebetulan masih nangkring dalam PC di Makassar. Tengah hari, Selasa 7 September 2004, sahabat kami Husni Djamaluddin muncul di Rumah Horison, Jalan Galur Sari II/54, Jakarta Timur.  Koalisi penyakit di dalam tubuhnya telah menjadikan dia alumnus (paling kurang) lima hospital: Rumah Sakit Akademis, MMC, Persahabatan, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Pisau bedah telah menyayat-nyayat tubuhnya dua kali untuk menyingkirkan kanker di saluran pencernaannya dan meringkas sembilan meter ususnya.  Dalam tiga tahun terakhir ini, penyair ini telah melompat-lompat antara hayat dan maut silih berganti dengan tangkas dan ritmis, menghindar jangan sampai tersentuh tali yang diayun-ayunkan ke kiri ke kanan ke atas ke bawah dalam permainan kehidupan ini, mondar-mandir Makassar-Jakarta-Makassar-Jakarta.  Husni kelihatan segar siang itu. Dia memperhatikan galeri foto sastrawan yang baru disusun rapi fotografer-wartawan Ed Zoelve...