Posts

Showing posts with the label INDONESIANA

Seperti Kemerdekaan, Kebahagiaan Pun Bisa Dipasung

Image
"Jual-beli (kemerdekaan) anak ayam di depan sebuah sekolah, Makassar 2014" Tulisan pertama dari beberapa seri bertema #kemerdekaan dan #17an. Tambahan Referensi, arti 'merdeka' menurut KBBI): Agar tidak terjebak euforia absolutisitas semu ‘kebahagiaan dan kemerdekaan’, selain menyarankan referensi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) baik kalau pernah membaca buku “The Black Swan”, tulisan ekonom Nassim Nicholas Thayeb, yang menurutku berhasil memenangkan gugatan intelektual atas “White Swan” yang selama beberapa dekade, putih diyakini sebagai satu-satunya warna bulu angsa sampai ditemukan angsa berbulu hitam di Australia.  Muslim yang sering membaca surah ‘Al Ikhlas’ dan memahami nuansa ketauhidan di sana, rasanya tidak perlu membaca ‘The Black Swan’ jika hanya untuk memahami ketidak-absolut-an dunia.  Penegasan bahwa Allah Ta’ala tidak dapat diserupai dan menyerupai apa pun, juga menekankan selain Tuhan semuanya tidak absolut. Mesti berpasang-pasangan, selalu ad...

Debat

Image
Sekitar tahun 1999, beberapa tahun setelah resmi meninggalkan lingkungan kampus secara fisik, karena jatuh cinta pada dunia praktik. Tempat di mana aneka teori, hukum, dan hipotesa lahir kemudian terlahir kembali, mendadak seorang kawan menelepon. Mengajakku kembali ke kampus. "Gratis. Cuma sehari, makan siang, kopi, dan yang terpenting, ada perdebatan dengan gambaran dan suasana berbeda yang kau miliki selama ini, tidak seperti rapat-rapat settingan pengkaderan kepemimpinan di organisasi kampus, atau yang kau lihat di tipi-tipi," katanya panjang lebar, berusaha menghilangkan keraguan yang tergambar jelas dalam suaraku. "Debat tentang apa? Antar siapa atau antar apa?" "Topik debatnya saya sama tidak mengertinya denganmu, tentang kesehatan calon ibu untuk menekan angka kematian bayi dan ibu." "Lalu apanya yang penting?" "Lihat dan nilai sendiri, saya pernah mengikuti sekali. Debat tertutup, tapi denganku kita bisa duduk di bangku pa...

Utopia Mengeuforia Paranoia **

Image
Intrik Pilkada DKI Jakarta 2017 'terpaksa' menjadi konsumsi nasional karena statusnya sebagai ibu kota negara dan semua media nasional bermarkas di sana. Tidak semuanya buruk, kami di daerah bisa belajar bagaimana para politikus di Jakarta menggoreng isu yang berskala nasional, mendunia hingga akhirat. Keadaan yang eskalasinya melebar, menyebar, kemana-mana tidak tertebak dan beberapa luput diantisipasi. Hampir sama tidak jelasnya dengan judul yang menjadi pilihan redaksi untuk opini pertama di tahun 2017 (** mestinya ini dimuat di kolom opini situs komunitas pewarta warga di wartakita.id yang sedang ganti server sampai malam nanti) . Penggerak kehidupan dunia dan menuju akhirat masih sama dari jaman manusia mulai mengenal hidup berkelompok dan memilih pemimpin kelompoknya: u topia; euforia; dan paranoia , yang artinya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: Kapitalisme mengkonversi segala sesuatu menjadi kapital dan bisa diuangkan. Segila apa pun nafsu manusia pada ...

Elok-elok Apak, Ibu

Image
Ikut berduka untuk Eri, pendaki yang meninggal dunia di puncak Garuda gunung Merapi. Foto keluarga sebelum turun gunung Talang, 17-05-2015 Akhirnya naik gunung tanpa menyalahi janji ke tata’ Mukding 15 tahun lalu, mau naik lagi kalau bawa istri atau anakku. Bukan gunung Bawakaraeng yang kudaki, tapi gunung Talang di Solok Sumatera Barat. Ikut rombongan tetangga dan teman-teman ponakan di Padang 17 orang, paling tua sendiri, cuma seorang yang sepantaran kelahiran tahun 76, si Bongki. Dua jam naik sepeda motor kecepatan 60-80 kmj dari Padang sampai ke jalur pendakian via dusun Air Batumbuak di Solok. Jalan Padang-Solok-Jambi sudah banyak berubah ketimbang tahun ‘96. Tikungan diperlebar plat beton, di beberapa tikungan sudah ada lampu jalan dengan sel surya. 100 meter dari gerbang, melapor, bayar retribusi, biaya parkir dan penitipan helem, sambung jalan kaki sekitar 1-2 kilometer ke camp ground sebelum memulai pendakian. Sejak melapor, pendaki sudah bisa membaca spa...

3 Induk Pengasih dan 1 Ayah Pengayom

Sebelum pulang kampung saat SMA Kelas I, sudah tahu ada konsep “Tiga Berpilin Jadi Satu” di Minangkabau dari buku “Alam Terkembang Jadi Guru” (A.A. Navis). Akhirnya melihat sendiri bagaimana penerapannya dan terkagum-kagum. Umur segitu sedang semangat-semangatnya belajar berorganisasi di Makassar. Tiga kaki, kokoh dan stabil saling sokong menyokong membangun peradaban masyarakat dan peradaban tiga komponen lembaga masyarakat itu sendiri. Tahun 1989 kuanggap masa keemasan penerapan konsep cerdik pandai - alim ulama - penghulu. Masjid Qura’ Batang Gadih masih berupa Langgar berdinding kayu. Sebagian teras masjid berada di atas sungai. Almarhum Buya sesekali mengajak berjama’ah ke sana. Dikenalkan pada mereka yang suka berlama-lama di masjid, bergelar adat mirip satu sama lain, kalau bukan Pakih (dari kata Pak Kiai), mesti Katik (dari kata Khatib). Sempat diajak mendengar almarhum Buya bersama-sama penghulu adat, kaum terdidik, bermusyawarah menyelesaikan masalah-masalah kes...

Satu Bis Kekuasaan **

** terjemahan suka-suka arti kalimat abuse of power Habis ngedit postingan "Membangun Peradaban #1" nambahin beberapa kutipan ayat Qur'an, buka twitter sebentaran, lagi rame pemblokiran situs dan penarikan buku agama Islam yang mengajarkar radikalisme. Gugling tapi belum dapat artikel yang bisa terbaca jelas bagian yang dianggap mengajarkan kekerasan. Kalau mau jujur, ada beberapa hadit's dan ayat Qur'an yang bila tidak diikuti penjelasan tambahan tentang konteks utuh, mulai dari merunut ayat sebelum dan sesudah, konteks surah di mana ayat tersebut tertulis, hingga sejarah mengapa ayat atau hadits tersebut diturunkan, isi tekstualnya kekerasan. Apakah lantas membuat umat Islam yang berpegang kepada Hadits dan Qur'an menjadi pelopor kekerasan? Hanya sebagian kecil. Sebagian besar masih tetap berpegang teguh kepada apa yang dicontohkan Rasulullah SAW, menjadi rahmat bagi alam semesta. Proses sebuah "teks" yang dibaca manusia sebelum menjadi paham...

Oleh-Oleh #1: Perantau

Kemarin di kota Padang, sempat survey pandangan mata 2 hari, ceritanya diminta jadi mentor salah satu ponakan oleh ibunya yang mau memulai wirausaha. Sekalian menyindir halus, saya yang belum menetap di satu bidang usaha dan tempat :D Karena pengalaman pernah ikut jadi penggembira waktu perancangan master plan kota Palu, cara berpikir melihat kota Padang pakai kaca mata itu. Melihat zonasasi, melihat bentukan-bentukan zona baru dari perpotongan dua atau lebih zona, pergeseran pertumbuhan kota karena isu potensi megatrust, potensi sumber daya alam, potensi sumber daya manusia, infrastruktur, budaya dan lain-lain. Dalam dua hari, tentu baru bisa memandang kota Padang sebagai pendatang. Ikatan emosional baru datang dari gen, bukan pengalaman eksplorasi dan berbaur. Mau memandang diri sebagai putera daerah juga, agak mengganjal meski ayah ibu asli Minang. Lahir besar di Makassar, selanjutnya nomaden. Menyebut diri perantau juga tidak pas. Hari terakhir survey, berakhir di kafe kampus...

Pilihan

Hanya capres, caleg, cabup dan calon-calon lain yang berjiwa besar hingga 'merelakan' dirinya menjadi opsional, menjadi pilihan. Kecuali calon kekasih, bakal teman hidup, perempuan maupun laki, tidak mau jadi opsional. Saya atau tidak usah sekalian, biasanya begitu. Menjadi pemimpin negara, atau daerah memang butuh nyali, meski belakangan dari beberapa pileg dan pilkada, agak bergeser pengertian nyali. Dari berani menanggung amanah dan tanggung jawab besar, menjadi berani merasa mampu amanah. Karena tahu bagaimana beratnya pergulatan batin ketika menjadi opsi, saya akan memilih pada Pilpres 9 Juli nanti. Itu kalau bisa memilih dengan KTP berbeda dengan domisili sekarang. Kemarin mau cari kartu A5 biar bisa nyoblos, tapi belum ketemu kantor KPUD terdekat. Karena pernah punya pengalaman bagaimana membebaskan diri dari posisi 'pilihan', mungkin bisa membantu para pemilih, bila pilihannya ternyata tidak menjadi pengumpul suara terbanyak 9 Juli nanti. Pertama, jangan p...

Pusat Data Berbasis Komunitas

Ada yang salah dengan engineer (atau hanya saya saja?) bila bertemu masalah teknik dan teknis, pertanyaan yang paling pertama terpikirkan kok: "Dimana bisa membeli alat sesuai kebutuhan? Bukan bagaimana membuat alat yang dibutuhkan?" Dari perancang, tenaga teknis ahli hingga pekerja kita punya. Sisa mencari grafik ideal antara target pencapaian pekerjaan dengan pemberdayaan. Kemarin masih 'iseng' membuat rancangan topologi dua titik kamera pengamat, jadi makin 'iseng' ketika diberi tahu, harus expand-able, surveillance bisa dikembangkan mengamati daerah seluas yang diinginkan pengguna di masa datang. Kalau hanya memikirkan bagaimana merancang bangun sistem secara keseluruhan, pilihan teknologi dan alat, sudah selesai. Pertanyaan berikutnya, siapa yang akan merawat? Adakah pemakai memiliki sumber daya manusia untuk merawat? Bagaimana layanan purna jual dari alat-alat terpilih untuk digunakan? Belum juga jadi, sudah ribet sendiri. Sudah semestinya, ribet janga...

Nagabonar, Bujang dan Lukman*

* kutipan adegan film Nagabonar “Tidak terima aku bang. Masak pangkat aku kopral? Sementara si Lukman abang beri pangkat mayor. Kurang apa pengabdian aku pada abang!” protes Lukman pada Nagabonar saat pembagian pangkat. Sebelum pasukan Nagabonar bertemu untuk berunding dengan pasukan Belanda yang dipimpin oleh seorang Kolonel. Mereka sudah bersiap-siap, termasuk dengan membagi-bagikan pangkat agar tidak dipandang sebelah mata oleh pasukan belanda. Pasukan Nagabonar hanya sekumpulan gerilyawan tanpa pendidikan dan pangkat formal ketentaraan. “Semua keperluan abang dan emak abang aku yang urus, sementara si Lukman sibuk dagang beras, mengambil untung tapi tidak masuk ke kas pasukan. Minimal pangkatku sejajar si Lukman.” “Heh Bujang! Jangan kau suruh lagi aku protes si Lukman, bisa habis pangkatku diturunkannya. Tadi aku minta pangkatku marsekal biar enak disebut orang-orang kampung, itu si Nagabonar, marsekal lubuk pakam, malah diturunkannya jadi jendral. Kalau kuprotes lagi pang...

Politisi Sambilan

Pada akhirnya, beda antara pengangguran dengan orang sukses, bukan banyaknya waktu luang, tapi waktunya dipakai untuk apa. Salah satu definisi orang sukses yang pernah kubaca: mereka yang memiliki banyak waktu luang untuk melakukan apa saja yang mereka sukai. Ada yang malas-malasan depan stereo-set sambil baca buku, ada yang traveling, dan berbagai kesenangan lain yang tidak sempat mereka lakukan saat mengejar kesuksesan. Beberapa yang beruntung, kesenangan mereka yang mengantarnya mencapai definisi-definisi kesuksesan. Pernah baca kisah, tentang eksekutif sukses yang punya banyak waktu luang. Di suatu kesempatan, dia memutuskan traveling ke kampung halaman ibunya di kaki gunung. Sudah tidak ada apa-apa. Rumah, sawah dan kebun warisan kedua orang tuanya sudah dibagi rata untuknya dan saudara-saudara. Ia menumpang menginap di rumah salah seorang petani yang masih kerabat jauh ibunya. Usai subuh setiap hari, pak tani sudah berangkat ke sawah. Tidak sempat menemani minum teh panas dan sa...

Apapun Itu, Bukan karena Benci

Saya termasuk yang meyakini, bahwa satu tindakan kecil kita bisa mengubah semesta ke arah yang lebih baik atau buruk, termasuk dengan sekalimat, sekata. Mengubah semesta mungkin masih terlalu jauh, yang paling pasti dan tidak butuh waktu lama, efeknya ke jiwa dan badan kita. Coba, sebelum memulai mengumpat, memfitnah, mengumbar aib orang (meski sambil ketawa-ketiwi menghitung bayaran mungkin) ukur tekanan darah dan kandungan zat yang bisa menjadi indikator kesehatan, lalu bandingkan setelah mengumpat, memfitnah dan membenci. Di bawah mikroskop, kristal air berubah buruk bila dimaki dan menjadi indah ketika diselamati. Mungkin karena meyakini teori "kepakan sayap kupu-kupu di Amazon bisa menjadi penyebab badai di California beberapa bulan kemudian", mungkin juga karena alam semesta selama ini bertahan bermilyar tahun dengan reaksi berantai, baik dalam skala 'universe' hingga skala 'atom'. Para penyebar fitnah, para pembuka aib sedang mengambil posisi berd...

A Beautiful Mess**

** inspired when heard same song title from Jason Mraz Akhirnya tadi sore bisa seangkot dengan anak 'seribu wajah', duduk bersampingan. Bertemu kali pertama beda angkot, saya hanya bisa mengamati dari jauh. Kemeja lengan panjang terkancing hingga ujung kerah, bersepatu boot karet, tas selempang menyilang di bahu, bertopi hijau dan tidak pernah kehilangan senyum. Selalu minta duduk di depan samping pak supir. Berkah untuk angkot yang dipilihnya, penumpang tidak lama menunggu angkot penuh. Klakson dipencet-pencet berulang kali seolah mendesak kenek agar bekerja lebih gesit mencari penumpang, angkot harus segera berangkat. Tidak ada yang marah, malah tertawa bareng, seangkot, seterminal terlihat amat sayang padanya. Sering disusupi haru bila melihat anak 'seribu wajah'. Bagai menatap 'wajah Tuhan' kataku, bagai diserbu keharuan yang sama ketika berdo'a atau bersimpuh sujud. Wajah mereka seperti bayi, pikirannya tidak disusupi kecenderungan...

Demokrasi Ayam Hitam **

Bila berkesempatan berada di TPS di Makassar tanggal 9 April nanti, saya tidak golput versi ke TPS membatalkan kertas suara atau versi tidur di rumah. Saya mau memilih ala Demokrasi Ayam Hitam, kearifan lokal suku Kajang Dalam di Bulukumba. Tahun 1995, seorang kawan seangkatan di FT Arsitektur mengundurkan diri dari kampus, karena terpilih menjadi Lurah di Kajang Dalam, usianya baru 19-20 tahun. Lurah di suku Kajang Dalam tidak setara dengan "Ammatoa" pimpinan suku. Lurah di sana hanya berfungsi administratif. Seorang Lurah hanya bisa terangkat bila sudah disetujui oleh Ammatoa. Banyak cerita 'mistis' tentang suku Kajang Dalam, ada ayah seorang kawan tahun 1990 harus ke sana mengambil foto semua kepala keluarga untuk di data kemudian dibuatkan KTP gratis, biayanya ditanggung pemkab. Berbekal surat dari Lurah dia berkeliling perkampungan dari rumah ke rumah mengambil foto. Negatif dari dua kamera yang dibawa saat dicuci, gambarnya kosong, seperti memotret matahari,...

Karakter

Pikiran menjadi kata-kata, kata-kata menjadi tindakan, tindakan menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi karakter, dan karakter membentuk nasib. ~ Pepatah Kuno Ada dalam dialog Margareth Tatcher di film "Iron Lady", adegan sesudah mengundurkan diri dari jabatan PM, mulai sepuh dan sering berhalusinasi tentang mendiang suaminya. "Tahukah pikiranku seperti apa? Pikiranku menjadi kata-kata, kata-kataku menjadi tindakan, tindakanku menjadi kebiasaan, kebiasaanku menjadi karakter, dan karakterku ikut membentuk nasib Inggris Raya, jadi lebih baik dari sebelumnya." Saat didesak dokter agar bisa membedakan mana yang ilusi dan mana yang kenyataan, dagunya terangkat tegak, intonasi dan artikulasinya bertenaga, dokter yang menasehatinya malah kena semprot ala Perdana Menteri (lagi PMS :D ). *** Kepingin bisa mengurai hasil pengamatan langsung pada beberapa orang 'berkarakter baik' yang kukenal dekat dan sudah lebih dulu berpulang. Siapa tahu bisa diduplikasi...

Tiga Kaki

Salah satu bab dari tulisan kumpulan surat-surat imajiner yang sedang kutulis, bercerita tentang Tan Malaka. Posting ini karena baca kumpulan artikel pemikiran Tan Malaka di internet. MADILOG, buah pikiran Tan Malaka jauh melampaui jamannya, jauh sebelum membaca konsep trivium Nassim Nicholas Thaleb: "Pendidikan ‘trivium’ (tiga bidang dasar) yang ideal dan paling tak merugikan masyarakat kiranya matematika, logika, dan bahasa; cukup banyak penulis dari pelajaran bahasa muncul untuk mengimbangi kehilangan kebijaksanaan akibat matematika; cukup banyak matematika dan logika untuk mengontrol kata-kata dan retorika.” MADILOG: Materialistis; Dialektika; dan Logika. Konsep yang ingin dibumikan Tan Malaka untuk memajukan Indonesia. Konsep Tan Malaka masih terlalu 'puitik' bila dibandingkan konsep trivium Nassim Nicholas Thaleb yang sudah semi-aktual, atau lebih membumi. Wajar kalau pemikiran Tan Malaka puitik, dia hidup di jaman romantisme flamboyan, jaman ketika rambut men...

Why Do You Love Me

So sweet and tenderly.. ~ Koes Plus Masih terinspirasi Koes Plus, masih terkenang Murry. Masa kecilku bahagia, bila ukurannya lagu-lagu apa saja yang bisa terdengar dari radio tape transistor milik ayah atau dari koleksi kasetnya. Pemutar piringan hitam, ada tapi sudah rusak di gudang. The Panbers, Koes Plus, The Beatles, Keroncong, Campur Sari, Saluang, banyak tidak semua kuingat. Ayah dosen biasa di PTN, gajinya tidak akan mencukupi untuk semua peralatan elektronik miliknya, tekad dan berkah nafkah halal yang memampukan. Waktu SD kelas 5, teman-teman sekolah yang kebanyakan dari kalangan yang lebih lapang, sudah mulai pakai sepeda ke sekolah. Jadi kepingin punya sepeda juga. "Apa tanpa sepeda kamu tidak bisa belajar? Kalau masih bisa, berarti tidak penting. Ayah usahakan belikan, apa saja kebutuhan sekolahmu dan 7 saudaramu, sepeda belum penting. Masih lebih hemat seperti sekarang dengan becak langganan." Saya dan 2 orang kakak satu SD, langganan antar jemput dengan bec...

Kolam Susu

Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada topan tiada badai kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.  Kolam Susu ~ Koes Plus. Selamat jalan ‘Murry Koes Plus’.  Kemarin menulis catatan acak, judulnya ‘Indonesia Incorporated’. Salah satu cara menjaga otakku tetap ‘waras’ dengan sesekali diajak mikir dan menulis topik lepas yang sok serius. Bila urusan satu itu mulai kembali riuh. Pepatah: “yang waras mengalah”, cocok digunakan hampir di semua kondisi, kecuali perkara cinta. Karena saya tidak mau mengalah, pepatahnya jadi; yang waras menulis. Udah, gitu aja curcolnya. ***  Lirik lagu “Kolam Susu” termasuk lirik yang visioner. Sejak tahun 70an sudah melihat ‘kodrat’ negeri kita, untaian mutiara hijau di atas lautan. Dua ‘kekayaan’ yang tidak akan habis, karena siklusnya utuh tak putus. Perikanan konvensional seperti saat ini, memang belum seutuh siklus pert...

Epilog 26 ~ Tango

No mistakes in a tango, not like life. You making mistakes, just tango in, tango out ~ Scent of a Woman, movie dialogue. Kemarin ternyata hari tango sedunia. Tarian ini memang istimewa, banyak menginspirasi kutipan, sampai merek biskuit. Dua adegan yang selalu teringat dari film lama, Scent of a Woman . Pertama, adegan Al Pacino mengajak perempuan yang ditaksir asistennya menari tango . Kedua, saat Al Pacino ngamuk-ngamuk di sidang komite disiplin sekolah asistennya, tentang integritas, tentang menjadi laki-laki, dan menjadi pemimpin. Dan teriakan khas Al Pacino sepanjang film, “Huhaa!” Musik pengiring tango juga asyik. Pilu biolanya, malah bikin ingin menari. Mirip lagu dangdut, liriknya mendayu-dayu, tapi joged juga. Tango, tarian tentang kepercayaan, kesetiaan, integritas, menjaga kesimbangan berdua dengan terus bergerak. Sepanjang tarian tidak sekalipun genggaman terlepas. It takes two to tango. *** MK dan judicial review UU yang mengatur waktu pileg, waktu pilpres,...