Pematung #1
Angin enggan bergerak, matahari cukup terik, rimbun daun pepohonan di taman menghalau silau sebelum senja. Seorang gelandangan menenteng tas kantor, bajunya lusuh robek di bahu. Memutari tugu macan di taman tiga kali, lalu duduk bersila di samping ukiran nama-nama veteran pejuang. Ditumpahkan isi tasnya. Ada kapur tulis, kertas ampelas, kondom bekas, pisau ukir tumpul, tusuk gigi, kopiah, sarung lusuh, kaos kaki, dan seragam pejuang serwarna kaki, hitam kecoklatan di atas, putih di telapak. Aku yang mengamati sejak tadi, dianggap tak ada. Tidak pedulinya menyaingi patung macan di sampingnya. Dari kejauhan sulit membedakan mana yang patung. "Hei! Bisa beri aku sebatang rokok?" Kaget, nyaris menjatuhkan kamera yang kukemasi, siapa yang meminta rokok, patung macan atau gelandangan yang mematung duduk bersila. "Cepat sedikit, sebentar lagi gelap." Kuangsurkan rokok sebungkus, "Ini buat bapak." "Sebatang saja, kelak mematung aku tidak mero...