Posts

Showing posts with the label sastra

Berlahan Luruh ***

*** interpretasi suka-suka lirik lagu "Falling Slowly" Entah kamu siapa, yang aku tahu kubutuh kau. Kata berhamburan menyerbu, menipu, dan aku hanya diam. Permainan yang tak pernah cukup, melebihi tujuan kita bermain, sekarang harus sebagaimana mestinya. Bawalah kapal ini sebelum benar-benar karam, arahkan menuju rumah, masih ada waktu. Lantangkan harapanmu dalam doa-doa, ada pilihan dan kau akan berhasil kali ini. Embun luruh di pelupuk, mengenali sepasang mata yang menatapku. Jangan surut. Rasa yang mengantar, rasa yang meniadakan, dan aku yang menghitam. Engkau sudah cukup menderita memerangi dirimu sendiri, kini waktunya menang. Dayunglah kapal ini menuju pulang sebelum karam, kita masih ada waktu.

Pecinta **

Ketika musim gugur tiba, berapa banyak orang yang patah hati saat bunga-bunga rontok, karena cintanya belum sampai ke akar? ~ Rumi (diadaptasi) ** dari pada latihan ngarang pakai aplikasi android prompts, prompts #40 tentang kotak yang ditemukan di loteng dan bukan milikmu. Menulis lebih mudah dari pada ngarang :D .. sambung besok, film mandarin di gtv bagus :D

Cinta dan Gravitasi **

** interpretasi suka-suka film "Interstellar" "Cinta dan gravitasi tidak terikat ruang dan waktu." Asyik, ilmu pengetahuan (fisika quantum) di film ini berdamai dengan absurditas cinta. Pas, contoh unconditional love (not even need chemistry or hormonal) adalah cinta ayah (Cooper) pada putrinya Murph. Seru, karena menyandingkan "cinta" dan "gravitasi" sebagai dua hal yang 'merdeka' dari ruang dan waktu. Bila gravitasi adalah bentuk fisika dari cinta yang abstrak, maka cinta se-maha apa yang ada pada blackhole ? Pantas, kaum sufi menggunakan cinta untuk semua perkara. ***

Pulang

dengan cara sendiri-sendiri kita semua pernah rapuh. tidak apa, peluk hati di luar dirimu seharian. berbulan. menahun. pada satu ketika. - sembuh ** ** terjemahan suka-suka puisi Nayirrah Waheed .

Koran Pagi

Konon, koran pagi negeri langit kurang lebih sama dengan koran di bumi. Sudah tersedia template kosong untuk artikel, dari opini, surat dari pembaca, resonansi, berita biasa, slot iklan, lengkap dengan headline dan lain-lain. Bedanya, koran langit tanpa editor, tanpa tema atau misi tertentu, semua berita tertulis apa adanya, ditulis langsung oleh pembuat berita. Tiap pukul 1 pagi dini hari malaikat turun ke bumi membawa template kosong hingga pukul 4 subuh, sebelum kembali lagi ke langit. Kadang kembali dengan template yang sudah penuh terisi berita hingga perlu halaman ekstra, kadang hanya terisi satu berita, kosong tanpa berita juga pernah. Halaman khusus berita kebodohan dan kejahatan mahluk bumi tidak begitu menarik, mereka sudah menyaksikan sendiri semua kelakuan manusia dari jaman Adam hingga manusia akhir jaman. Tidak ada yang baru, hanya pengulangan atau variasi belaka. Dari pembunuhan pertama Kabil dan Habil, kelakuan umat Luth, kesombongan umat Musa akan kecerdasan...

Fiksi: Garis Keperakan IV

BAB IV - Menari Menarilah, karena hidup adalah gerak; melangkah, berlari, jatuh, melompat, berjinjit, berputar dan terdiam. Coba berbalik dan tutup mata sehabis menatap langsung sorot lampu atau matahari, masih tersisa bulatan terang jejak lampu di kelopak. Hanya butuh satu ketukan di garpu tala hatiku, untuk gaung yang kubawa seumur hidup. Aku sudah tahu apa yang membuat gemanya berhenti, sentuhan lembut pada salah satu cabang tala. Seperti yang dilakukan Tania semalam, maukah dia selalu ada? ...sudah dulu latihan nulis fiksinya

Fiksi: Garis Keperakan III

BAB III – Interlude Ketika band metal dan band rock sedang bermain musik menyela konser di satu panggung, kira-kira musik apa yang akan mereka mainkan? Menurutku, kalau bukan dangdut mestinya soul. Musik yang membuat band musik bingar melembut, jujur menari dengan perasaan mereka sendiri. Karena segala kebaikan hidup ada pada kejujuran. Malam ini aku diajak makan malam Roy. Aku suka caranya menatapku di tempat Deni kemarin. Dia jujur, terlalu jujur bahkan, tidak ada yang disembunyikan sorot matanya, membuatku kembali merasa perempuan. Lugu mungkin lebih pas, kata-katanya berhamburan tanpa koreksi. Aku ingin sejujur dia. Pelayan menghampiri kami, “Sudah siap mau pesan apa?” “Aku pesan sereal,” kata Roy buru-buru. “Aku minta lemon tea,” kataku. “5 menit siap, dua itu saja dulu?” tanya pelayan menatap heran pada catatan pesanan kami berdua. “Apa tidak terlalu malam untuk sereal Roy?” aku sama herannya dengan pelayan kafe. “Kau sendiri, kenapa pesan teh?” “Karena kau me...

Fiksi: Garis Putih Keperakan II

Bab 2 – Metal Tania “The things of the night cannot be explained in the day, because they do not then exist.” ERNEST HEMINGWAY, A Farewell to Arms ”Hemmingway gila! Ibu harus tahu ini.” Bergegas aku turun ke kamarnya. “Apa hidup kurang getir, kenapa Hemmingway harus menulis kisah yang tidak berakhir bahagia? Dari awal sampai menjelang akhir pembaca digiring berpikir tentang akhir bahagia. Istrinya hamil dan menunggunya pulang dari peperangan. Dia bahkan berdansa sendiri sambil membayangkan dipeluk suaminya. Saya sampai membayangkan menemaninya berdansa. Kenapa Hemmingway tega membunuhnya? Tepat setelah suaminya pulang ke rumah?” “Roy, bisa besok saja kau cerita? Ini pukul 3 pagi.” Kata ibu mengusap matanya. “Kalau nisan Hemmingway dekat sini, sekarang juga aku ke sana bu. Dia keterlaluan!” “Lalu kenapa kami yang dibangunkan kekesalanmu Roy? Kau berutang maaf pada ibumu dan aku.” Kata ayah menatapku serius. “Aku tidak mau minta maaf, ini kesalahan Hemmingway.” “Kalau be...

Fiksi: Garis Putih Keperakan I **

** iseng latihan, menulis interpretasi film "Silver Linings Playbook" Bab I - Rock Roy Setiap orang memiliki kegilaannya masing-masing. Salvador Dali, Pablo Picasso, Van Gogh, Gaugin, Sebastian Bach, Beethoven, menjadi terkenal karena kegilaan mereka. Sementara saya, dengan keputusan pengadilan dinyatakan gila dan harus dirawat di rumah sakit jiwa. Ayahku, divonis pengadilan tidak boleh masuk stadion seumur hidup. Sejak itu ayah menonton klub bola kesayangannya dari televisi. Di stadion ayah berkelahi dengan pendukung tim lawan yang berakhir di rumah sakit, patah tulang dan gegar otak ringan. Kegilaan ayah mungkin menurun padaku. Saya sendiri bingung, yang gila sebenarnya siapa. Para hakim yang menjatuhkan vonis saya gila dan harus dirawat, atau cinta sudah tidak lagi dianggap sebagai kegilaan yang bisa dimaklumi meski tidak masuk akal. Orang-orang itu sudah benar-benar gila, bila tidak lagi membutuhkan cinta agar bisa menerima kegilaan masing-masing Menurut dokter ...

Berlaku Adil

Betapa sulit berlaku adil. Terkadang logika keadilan sudah ketemu, rasa keadilan malah luput atau kebalikan. Begini akibatnya bila logika dan rasa keadilan lebih sering janjian ketemuan di maaf, bukan ketemu di laku. *** Bab I – Cinta ** “Sebelum ada cinta, siapapun bukan apa-apa.” Ternyata cinta tidak sesederhana komik H.C. Andersen. Di sana tokohnya selalu berakhir bahagia, menua bersama. Cinta bisa menemukan keindahan tersembunyi pada apapun, pada siapapun, di mana cinta bisa tumbuh memegahkan. Bila beruntung, cinta bisa menetap bersama di sana.  Bila tercerahkan, cinta harus merelakan sebagian dirinya menetap di sana dan pergi sampai bertemu cinta lain yang melengkapi apa yang sudah ditinggalkannya. Bila dimurnikan, cinta harus membagikan seluruh kecintaannya. Meninggalkan separuh demi separuh hatinya pada setiap yang dicintainya.  Hingga hatinya kosong dan cukup lapang untuk memahami cinta Tuhan. *** ** sengaja dibocorkan, biar semanga...

On The Night Like This*

On the night like this, theres so many things I wanna tell You On the night like this, theres so many things I wanna show You Cause when You around, I feel safe and warm Cause when You around, I can fallin' love everyday In the kiss case like this, there are thousand good reason I want You to stay Mocca - On The Night Like This *sudah ah, nanti keterusan, case mulai terdengar jadi kiss .

Fakta atau Fiksi, Agama untuk Anak-anak

Mungkin kepagian kalau menulis tentang ini, melamar saja belum, apalagi punya anak. Ini gara-gara membaca hasil penelitian yang menarik kesimpulan (sementara) bahwa anak yang religius cenderung sulit membedakan mana fakta dan mana fiksi. Artikel lengkapnya di sini . Definisi-Definisi Saya mengambil definisi religius, sekuler, fakta dan fiksi mengikuti artikel hasil penelitian tadi. Religius adalah anak-anak yang disekolahkan di sekolah agama dan atau di sekolah umum namun aktif ke tempat ibadah formal, dan sekuler adalah anak-anak yang sekolah di sekolah  umum dan tidak aktif ke tempat ibadah formal. Fakta adalah kisah yang tidak memuat keajaiban dan keilahian. Fiksi adalah dongeng dan kisah yang memuat keajaiban juga keilahian. Penelitian itu jangan disikapi sebagai serangan ilmu pengetahuan terhadap agama, postinganku juga bukan bentuk bantahan atas hasil penelitian tadi. Saya hanya mau bercerita bahwa mempercayai keajaiban (kalau perlu kehilangan akal sehat) itu asyik, apa...

Epik

Rasa-rasanya hanya soal 'cinta' yang tidak bakal kehabisan 'epos' atau keping kisah dari cerita yang tidak berkesudahan. Saya jadi bisa memandang dengan sudut pandangku sendiri, sudut pandang suka-suka tentang pilpres, gara-gara pulang dari Bambu Apus numpang taksi yang mutar radio GenFM sebelum Argentina-Belgia dimulai, tepat sesudah debat calon presiden. Nama sopirnya pak Ujang Taruna, kalau makan sate mesti bawang gorengnya banyak. Lagu terakhir sebelum acara tebak-tebakan skor bola yang sudah mau mulai, kebetulan lagu yang lagi kepengen kudengar, jangan tanya siapa penyanyi atau apa judul lagunya. Epik pertama. Pak Ujang ngerti aja, jendela ditutup AC dikencengin, biar asyik dengar lagunya. Bonus wangi bawang. Mereka yang sering membaca atau mengutip Jalaluddin Rumi, Rabi'ah Al Hadawiyah, Ibn Arabi dan lain-lain mesti tidak asing dengan pemikiran mereka, tentang 'cinta' yang agung, haru tak cengeng. Karena lagu itu, jadi kepikiran bagaimana bila ...

Prolog 1 ~ Pengantar

Mengantar seseorang pergi tidak pernah mudah. Kali kedua, ketiga dan seterusnya sama sulitnya dengan kali pertama. Namun kita bisa belajar dari ahlinya. Dari keikhlasan para masinis, pilot, kapten kapal dan sopir saat mengantar penumpang. Seperti keikhlasan senja merelakan keindahan jingga pada pekat malam. *** Setiap pejalan, mesti pernah merasakan masa ketika diharuskan hidup menjadi pengantar. Mendiang paman, kakak ibu tertua, seorang sopir tronton lintas pulau Sumatera – Jawa, sebelum akhirnya menikmati hari tuanya di Prabumulih dan berpulang di sana, pernah bertutur sedikit kisahnya saat menjadi seorang ‘pengantar’. Kadang-kadang dia harus berangkat sendiri tanpa sopir cadangan atau kenek, nanti di kota berikutnya baru mendapat sopir cadangan. Melintasi hutan sawit, lereng dan tebing gunung, sulit untuk tidak merasa sepi tanpa kawan seperjalanan. Biasanya bila ada orang yang melambaikan tangan di tepi jalan minta menumpang, atau saat singgah makan di warung ada ya...

Pematung #1

Image
  Angin enggan bergerak, matahari cukup terik, rimbun daun pepohonan di taman menghalau silau sebelum senja. Seorang gelandangan menenteng tas kantor, bajunya lusuh robek di bahu. Memutari tugu macan di taman tiga kali, lalu duduk bersila di samping ukiran nama-nama veteran pejuang. Ditumpahkan isi tasnya. Ada kapur tulis, kertas ampelas, kondom bekas, pisau ukir tumpul, tusuk gigi, kopiah, sarung lusuh, kaos kaki, dan seragam pejuang serwarna kaki, hitam kecoklatan di atas, putih di telapak. Aku yang mengamati sejak tadi, dianggap tak ada. Tidak pedulinya menyaingi patung macan di sampingnya. Dari kejauhan sulit membedakan mana yang patung. "Hei! Bisa beri aku sebatang rokok?" Kaget, nyaris menjatuhkan kamera yang kukemasi, siapa yang meminta rokok, patung macan atau gelandangan yang mematung duduk bersila. "Cepat sedikit, sebentar lagi gelap." Kuangsurkan rokok sebungkus, "Ini buat bapak." "Sebatang saja, kelak mematung aku tidak mero...

Bintang Jatuh

"Bintang itu kok jatuh Kek?" "Bukan jatuh, lagi kejar penguping rahasia langit." "Kenapa langit mesti berahasia?" "Tidak ada rahasia, bila kau sendiri sudah rahasia." "Bingung.. Masuk ah, embun mulai turun." "Tidurlah duluan, mintakan kopi panas untukku pada nenekmu.." bunga api berlompatan dari kretek kulit jagung bintang jatuh di ujung bibirnya ***

Oh Maha..

tangis bapak tua padamkan tungku perapian turun ke jalan Sudah lewat tengah malam, debu-debu beterbangan di jalan. Kota ini tidak pernah tidur, pepohonan masih gugurkan dedaunan. melangkah bapak tua membelah hujan mengadu rindu Membaca denyut jantung tiap perkara. Pada akhirnya, jantung hati lampaui segala ihwal. dalam deras hujan pemuda menyapa oh bapak, istirahatlah biar kutuntaskan rindumu Hidup terus bergulir melalui ruang-ruang dingin. Sesekali bulir air berkunjung di musim panas, datang dengan keping kenangan. *inspired when i heard "Omaha" from Counting Crows and big bee around my lamp..

90 hari

Kata ibuku, saat usia kandungan seorang perempuan sudah berusia 90 hari lebih, maka di alam ruh, para malaikat sudah mulai kasak-kusuk menyiapkan ruh yang paling pas untuk sang janin. Pas untuk perilaku kedua orangtua sang janin sebelum, sementara dan sesudah mengandung bakal bayi. Pas untuk jaman di mana sang bayi akan tumbuh dan dewasa. Sesekali ada anomali bila Tuhan mau, entah sang bayi yang melampaui jamannya atau keajaiban-keajaiban lain. Konon anomali untuk pengingat manusia, setiap 100 tahun sekali di suatu kampung ada satu manusia yang sepengasih Ibrahim, atau ada satu kejadian ajaib, seperti tumbuh tunas dari potongan batang pisang bekas alas memandikan jenazah seorang ibu, yang setiap berjalan matanya awas mengumpulkan dan merobek kertas yang didapatinya ada lafaz nama Tuhan, jangan sampai terinjak mahluk. Atau liang lahat seorang renteneir yang selalu sempit, dan timbunan yang mestinya berlebih setelah terisi mayat, malah tak cukup-cukup. Beberapa ruh yang pas, hasil ...

Why Should I?

Sudah pukul 4 pagi, sebentar lagi subuh. Masih sibuk denga tabel-tabel elektronik, menghitung rugi, apa masih bisa saling subsidi atau harus ajukan force major  juga. Sudah dua minggu tidak ke pulau. Lima remaja berandal pengangguran, tetangga dekat rumah, sejak awal sudah aku libatkan, tetap tinggal di sana, selesaikan apa yang bisa selesai dengan sisa material.

Pada Sabtu Sore yang Basah

Image
Senja selepas hujan adalah momen mistis. Embun halus sisa hujan yang dilewati cahaya matahari menjadi warna-warni syahdu, embun dan cahaya sedang bercinta.   Seorang tua dan anak muda dari tepi tanggul pemecah ombak terdiam menikmati warna-warna yang hanya bisa terasa di hati. Sekejap saja warna itu akan hilang, secepat menghilangnya uap air di udara. Ia tak ingin berkedip sedikitpun, sementara pak Tua mengatupkan matanya seolah tidur, melangkah berlahan menuju laut. "Tuan, apa kau akan berjalan di atas air? Buatlah tanda, aku juga ingin bisa sepertimu.." Ditegurmya pak Tua melihat kakinya sudah sampai di bibir laut. Tak menjawab, ombak kecil menyapu jari-jari hingga ke tumitnya, dan terus melangkah berlahan. "Tuan, ke sini saja duduk bersamaku, aku ada rokok dan bawa kamera. Jangan mati dulu sebelum foto berdua!" Pak Tua itu semakin ke tengah, air laut sudah sepinggangnya dan masih terus berjalan, hingga akhirnya lenyap sama sekali. Dimulai bintik