Friday, November 3, 2017

Sehabis Menonton "Cold Mountain"


"Jika cintamu tulus, maka kejujuran menjadi seringan bangun kesiangan di hari Minggu pagi."

Tidak banyak film yang berhasil membuatku ingin menontonnya berulang kali sampai ingin menulis postingan blog yang sekian lama dianggurin. Film "Cold Mountain" (2003) salah satunya.

Film yang diangkat dari novel berjudul sama, karangan Charles Frazier tahun 1861 dengan latar perang saudara di Amerika Serikat, di internet banyak reviewer yang menyebut filmnya lebih menarik ketimbang novelnya. Entah, belum pernah membaca novelnya, tapi kalau menyimak kuatnya dialog dalam film, mestinya novelnya juga sebagus filmnya.

Dialog Ada Monroe ketika menghampiri Inman yang enggan masuk ke dalam ruangan karena kehujanan. Ada membawa baki keluar agar tidak mencolok ia keluar khusus untuk menemui Inman, ingin mengajaknya masuk. Mereka berbincang dengan satu dua kata.

"Ini tidak seperti harapanku, kita hanya berdiri dan tidak berbicara. Tidak cukup jika hanya seperti ini." Inman memulai dengan kalimat yang lebih panjang.
"Cukup buatku." Ada menjawab Inman dengan tatapan.
"Apa warna langit malam? Bagaimana cara elang terbang, atau bagaimana menjelaskan ini, ketika kau bangun rusukmu memar karena semalaman memikirkan seseorang begitu keras."

Ada terdiam, akting Nicole Kidman yang memerankan Ada Monroe berhasil di sini (salah satunya, ada banyak ekspresi yang berhasil ia terjemahkan cukup dengan tatapan mata). Tanpa gestur, tanpa ekspresi, dan tanpa menjawab, hanya sinar matanya yang berbinar bisa menunjukkan ia jatuh cinta pada ucapan Inman barusan.

Khas novel jaman dahulu, tidak angkatan Balai Pustaka di Indonesia, atau penulis yang sejaman dengan Hemmingway, padat pesan moral namun tanpa kesan menceramahi.

Nasihat tentang kesetiaan dari Ayah Ada Monroe untuk putrinya, contohnya:
"Ibumu meninggal dunia ketika kau masih 22 bulan, dengan cintanya yang sesingkat itu cukup buatku seumur hidup."

Film ini juga berhasil menerjemahkan nasihat lain tentang kesetiaan nyaris tanpa dialog ketikan Inman terpaksa berteduh di rumah milik seorang perempuan muda dan bayinya yang ditinggal suaminya berperang.

Inman menolak dengan halus ajakan seorang perempuan yang tadinya hanya ingin agar ia berbaring di sampingnya. Gestur, ekspresi, tidak murahan tapi sendu dan manusiawi. Ditambah ucapan Inman ketika menolak. "Aku sedang mencintai seseorang, aku amat mencintainya." Lalu menaruh kepala perempuan tersebut ke atas dadanya, "Cobalah untuk tidur." Tidak terjadi apa-apa sampai keduanya tertidur.

Tidak lupa menyisipkan kritik pada kebiasaan manusia berperang, melalui reaksi Ruby, sahabat Ada Monroe yang menemaninya di peternakan setelah ayah Ada meninggal dunia, ayah Ruby tertembak.

"Perang ini karena kebodohan manusia. Mereka menyebutnya awan gelap, tapi mereka sendiri yang membuat cuacanya, lalu memaki hujan ketika badai datang."

Adegan puitik lainnya, setelah Inman yang sedang dirawat setelah terluka dalam peperangan menerima surat Ada Monroe. Inman bimbang memenuhi permintaan Ada agar segera pulang dengan risiko dianggap desertir, atau bertahan sampai perang usai. Seorang Bapak tua yang buta sejak lahir menyapanya ketika keluar ke teras rumah sakit.

"Apa kabar anak muda?"
"Apa yang akan kau berikan untuk 10 menit agar mampu melihat?"
"Tidak sepeser pun."
"Kita berbeda, aku akan melakukan apa saja untuk 10 menit agar aku bisa segera tiba di suatu tempat."
"10 menit untuk suatu tempat atau seseorang buatmu, aku tidak akan mau membayar sepeserpun untuk kehilangan apa yang pernah kumiliki."

Selanjutnya nonton sendiri deh.

Beruntung bisa menonton film ini saat sedang menulis draf novel lain tentang kawan semasa SD, dan sedang mengedit draf sebelumnya yang kusangka selesai, yang ternyata bila memakai standar Angkatan Laut AS semua yang kita anggap selesai sebenarnya baru 40% tuntas, dengan begitu mereka terbiasa melakukan sesuatu melampaui batasan. Tapi kalau harus menunggu 100%, aku tidak mau kehilangan apa yang ingin kumiliki.

Thursday, February 2, 2017

La la Land, Resensi Suka Hati


Selang seminggu nonton dua film, "Passenger" dan "La la Land", keduanya rilis akhir tahun 2016 lalu, dan bagus karena mebuatku kepingin menulis resensi.

"La La Land" duluan dapat jatah kutulis karena akhir kisahnya yang tidak sesuai harapan penonton (saya) walau tetap happy ending.

Akhir kisah yang membuat keriuhan Pilkada DKI yang menjadi konsumsi nasional terlihat mati gaya sehabis menonton film ini.

Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling) dua individu yang berusaha mewujudkan impiannya di kota Los Angeles, bertemu pertama kali di kemacetan jalan, sudah menggambarkan sosok 'kebaikan' dalam bentuk person (manusia) saat bertemu pertama kali. Sama-sama merasa baik, merasa paling berhak duluan mendapat jalan, tidak sabaran, sebelum saling mengumpat.

Ada dua hal yang sanggup mengumpulkan dan menyatukan hampir semua hal di dunia, pertama nafsu dan keserakahan, dan yang kedua cinta. Layaknya semua ciptaan, nafsu dan cinta tidak lepas dari hukum yang mengikat setiap ciptaan, punya masa.

Bedanya, yang disatukan oleh nafsu akan berakhir dengan kehancuran dan kebencian, sedang yang disatukan cinta akan berakhir dengan saling membaikkan. Paragraf ini dan sebelumnya tidak ada dalam film, kebetulan satu konteks dengan salah satu bab dalam draft bukuku, sekalian promo colongan.

Mia dan Sebastian memilih jalan yang berbeda di akhir film, mereka saling cinta tapi tak berakhir dengan pernikahan. Tak ada benci, sakit hati apa lagi dendam, hanya kenangan.

Nafsu tak selamanya nafsu, cinta tak selamanya cinta, butuh konsistensi dan berkah agar tak terbolak balik, yang awalnya nafsu bisa menjadi cinta, mungkin awalnya cinta akhirnya menjadi nafsu.

Masih ada waktu mengubah pertunjukan nafsu menjadi kisah cinta. Dari saling meyakini dan mengklaim diri sebagai kebaikan dengan menuduh yang lain sebagai keburukan, menjadi saling memuji dan mendorong untuk kebaikan.


Friday, January 20, 2017

Utopia Mengeuforia Paranoia **

Intrik Pilkada DKI Jakarta 2017 'terpaksa' menjadi konsumsi nasional karena statusnya sebagai ibu kota negara dan semua media nasional bermarkas di sana. Tidak semuanya buruk, kami di daerah bisa belajar bagaimana para politikus di Jakarta menggoreng isu yang berskala nasional, mendunia hingga akhirat. Keadaan yang eskalasinya melebar, menyebar, kemana-mana tidak tertebak dan beberapa luput diantisipasi. Hampir sama tidak jelasnya dengan judul yang menjadi pilihan redaksi untuk opini pertama di tahun 2017 (** mestinya ini dimuat di kolom opini situs komunitas pewarta warga di wartakita.id yang sedang ganti server sampai malam nanti).

Penggerak kehidupan dunia dan menuju akhirat masih sama dari jaman manusia mulai mengenal hidup berkelompok dan memilih pemimpin kelompoknya: utopia; euforia; dan paranoia, yang artinya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:


Kapitalisme mengkonversi segala sesuatu menjadi kapital dan bisa diuangkan. Segila apa pun nafsu manusia pada uang, penggeraknya tidak akan lepas dari tiga hal di atas, bedanya ada yang dengan sadar menjadikan uang sebagai alat, dan ada yang tidak sadar sedang diperalat uang. Sama saja antara yang memperalat dan diperalat uang karena dasarnya sama, dorongan utopia, euforia dan paranoia* (*di sini = ketakutan tidak beralasan).

Atau sesosialis bagaimanapun seseorang yang agamais, komunis dan fasis, meski malu mengakui bahwa nilai dalam semua ideologi dan agama kini banyak yang menjual dengan harga tertentu atau nilai tukar, semangatnya juga digerakkan oleh utopia, euforia, dan paranoia. Sama saja dengan kapitalisme.

Harapan dan ketakutan adalah 'alat bantu' yang digunakan Tuhan pada manusia sebelum mulai mengenal dan mencintai-Nya, manusia yang bermain dengan 'perkakas' Tuhan pada manusia lain sudah pasti tidak memiliki daya untuk mengendalikan ujung dari harapan dan ketakutan manusia di akhirat, euforia belaka.

Sekuat apapun keinginan seseorang untuk meraih kehidupan akhirat yang baik, sulit melepaskan diri dari dorongan rasa takut dan harapan, mungkin karena dua kesamaan tersebut hingga akhirat terbawa-bawa ke politik dan kekuasaan dunia.

Politikus sebaiknya tahu dan pertimbangkan kadar pemahaman dan pengendalian emosi penduduk Jakarta dan Indonesia sebelum membawa masalah akhirat ke panggung politik. Sebelum panggung nasional yang sedang diisi oleh panggung lokal menimbulkan keriuhan seperti sekarang.

Ormas diadu, masyarakat terkotak-kotak, ketakutan dibesar-besarkan. Takut pada kebangkitan PKI, takut kebhinekaan tercabik, dan takut pada persatuan umat Islam setelah aksi 411 dan 212 posisinya sama dan sejajar, takut pada sesuatu yang bukan Tuhan. Mengekspresikan rasa takut tidak membawa perubahan apa-apa, kecuali memang ingin menunggangi rasa takut sebagai kendaraan meraih kekuasaan. Redaksi yang berbasis di Makassar tidak ingin membahas riuhnya Pilkada DKI Jakarta lebih jauh, lebih tertarik dengan hikmah yang bisa kami pungut dari kebisingannya.

Nasionalisme dan kebhinekaan tidak akan rusak karena keteguhan umat beragama memegang keyakinannya masing-masing, tapi rusak oleh kebelum-pahaman tentang ajaran agama masing-masing yang dasarnya ingin membaikkan diri sendiri sebelum orang lain ikut tertarik ikut baik. Rusak oleh ketidak mampuan menerima perbedaan agama dan perbedaan kemampuan memahami perbedaan.

Bila kekuasaan dunia dan politik ingin mewujudkan utopia, dengan menggunakan euforia dan paranoid sebagai alat sekaligus semangatnya, silahkan saja. Indonesia terlalu besar untuk ditentukan nasibnya oleh keriuhan Pilkada Jakarta.

Namun tidak demikian halnya bila umat beragama yang terlanjur terbawa-bawa, perjalanannya jangan terhenti pada harapan dan ketakutan. Harus diteruskan, hingga mengenal Tuhan yang kadang membuat harapan sebagai satu-satunya tempat bergantung, dan di lain waktu menjadikan ketakutan sebagai dorongan untuk terus maju, dan akhirnya ketakutan dan harapan lepas dari genggaman saat mulai mengenal apa yang membuatnya takut, membuatnya harap, kemudian jatuh cinta.

Jangan tertipu slogan dan pamflet ideologi, membaikkan tidak melibatkan nafsu, nafsu mutmainnah bukan berarti nafsu ingin membaikkan, tapi nafsu yang telah tenang dan tunduk tanpa dorongan keinginan sekalipun keinginan membaikkan.

Semoga kekuasaan dan politikus juga bisa belajar dari cara Tuhan mengajar manusia lewat ketakutan dan harapan. Melepaskan utopia, euforia dan paranoia, sebelum cinta menjadi sebab dan tujuan berkuasa.