Monday, April 16, 2018

Isra' Mi'raj #2

Pertama dan terakhir kali ngeblog tentang Isra' Mi'raj ternyata sepuluh tahun lalu. Semalam kubaca ulang kemudian menambah sedikit kalimat penutup. Saking semangatnya menulis blog, salam pembukanya selalu dibagus-bagusin, giliran akhir tulisan suka tanpa pamitan tanpa konklusi, dulu keahlian membuka belum sepasang dengan kemampuan menutup.

Seingatku, belum mencari jawaban dua pertanyaan di tulisan lama tentang Isra' Mi'raj, karena menjawab "mengapa" dan "untuk apa" tidak bisa dengan hanya duduk tafakur di ruang pikir, butuh pengetahuan empiris agar dapat jawaban yang seutuh mungkin. Sementara sebagai umat dan awam mustahil berharap diperjalankan dalam semalam dari Masjidil Haram lalu ke Al-Aqsa kemudian ke Arasy, setelah sebelumnya Jibril telah mencuci bersih rongga dada, perut, dan hati Beliau SAW., lalu mengisinya dengan hikmah dan iman.

Satu-satunya cara mencari tahu jawaban "mengapa" dan "untuk apa" kemudian meyakini Isra' Mi'raj bukan fiktif hanya dengan mengenal dan melakukan 'oleh-oleh' perintah salat yang diberikan Allah SWT. Kebetulan mendiang guru mengaji yang majelisnya aku ikuti diam-diam selama beberapa tahun selalu mengutamakan salat di setiap obrolan dan kajiannya.

Catatan pembaruan: Kemarin pagi menunda menulis lebih lanjut postingan ini, malu hati sebulan terakhir subuhku kepagian. Tahu-tahu penceramah di televisi, catatan fb kakak, dan teman-teman lain yang subuhnya sebelum matahari terbit, sedang berada di horizon yang sama dalam memandang Isra' Mi'raj. Bisa begitu ya. Semoga benar jika kusimpulkan topik ini memang harus dituliskan, karena hikmah 'hadiah' perintah salat yang isinya kurang lebih sama telah diambil alih, berikutnya berusaha mengulang sebisaku apa yang pernah diajarkan mendiang guru mengaji tentang salat.

Hulu dan Muara: Dua Kalimah Syahadat
Kita salat karena bersyahadat, dan dengan salat kita meluruskan syahadat. Berbeda dengan sumpah dan baiat-baiat lainnya, Syahadatain ini berat, Dilan juga tahu. Aku bersaksi, bukan aku berjanji, bukan aku bersumpah.

Menyaksikan Allah SWT adalah Tuhan? Menyaksikan Muhammad SAW adalah Rasulullah? Pengingkaran utama dan pertama umat Islam adalah pada syahadatain, bila tidak melanjutkan proses dari sekadar ucapan, menjadi pengakuan, hingga mencapai penyaksian yang bentuknya tentu tak sama dengan yang dialami oleh Baginda Nabi SAW., nabi Musa A.S., dan nabi-nabi lain. Untukku yang awam, tak melihat Allah pun tak apa, masih bisa bersyukur selama masih bisa melihat kekuasaan-Nya bekerja, selama masih bisa merasa tak luput dari penglihatan-Nya.

Kata mendiang, dengan belas kasihan-Nya, mustahil kita diminta bersaksi tanpa bisa menyaksikan, tetapi harus berproses. Baginda Nabi SAW, saja harus 'diakselerasi' dengan pencucian rongga dada dan perut sebelum Isra' dan Mi'raj.

Istinja dan bersuci, meniru cara Jibril
Di hadapan Pencipta semua ciptaan haram hadir, apa lagi yang memang haram zat, sifat, dan caranya. Setelah Rasulullah SAW. tidak ada lagi manusia maksum, yang suci dari kesalahan dan dosa.

Jadi bagaimana pantas bermi'raj dalam salat dengan kondisiku yang tertimbun dan menimbun dosa? 

Jawab beliau: Jangan asal bersyahadat kemudian salat karena ingin mi'raj, tetapi syahadat kemudian salat karena apa yang membuat Rasulullah SAW dimi'rajkan, dan yang membuat Baginda Nabi SAW. sudi mau kembali ke dunia. Kalau aku, mungkin memilih berada di sisi Allah saja, lupa pada umat. Kecintaan Beliau SAW. pada umat manusia mengantarnnya menjadi kecintaan Allah, dan kecintaannya pada Allah SWT. membuatnya mencintai ciptaan-Nya.

Cinta? 

Jangan buru-buru merasa pantas mencintai dan dicintai, bersih-bersih dulu, pantaskan dirimu sejak niat, cara istinja, cara wudhu, cara mandi junub, cara salat. Salat taubat dulu, dan kalau sanggup tambah dengan puasa sunat niatnya membersihkan diri, yang kita harap setelah berusaha memantaskan diri, Allah jatuh kasihan hingga kita dipantaskan.

Kemudian?

Aku tidak tahu.  

Lho?

Cintamu dan cinta-Nya siapa yang tahu, kecuali yang saling mencintai.

Merayu khusyuk
Khusyuk itu nikmat, dan tidak ada yang kenikmatan yang mudah dan instan.

Segitu amat?

Makanya kusebut merayu bukan menuju khusyuk, tujuanmu tetap Allah, meskipun Allah tidak butuh salatmu, kita yang butuh salat. Bila khusyuk saja nikmat, bagaimana mi'raj.

Caranya merayu khusyuk?

Takbir saja dulu, nanti i'tidal, rukuk, sujud dan lain-lain menyusul. Kalau khusyuk adalah kendaraan, kendarai sebaik mungkin berusaha sampai ke tujuanmu, kalau syahadat, niat, dan bersucimu sudah benar dan bagus, kelak di sepanjang perjalanan bakal tahu sendiri dan diberi tahu bagian mana dari kendaraanmu yang rewel, suka mogok, sebab dan cara memperbaiki, sekaligus jalan mana yang terbaik.

Menutup dengan salam
Salat mencegah pelaku salat dari perbuatan mungkar dan keji, periksa kelakuanmu setelah mulai mengerjakan salat. Salat yang tegak akan membuat pelakunya membawa keselamatan bagi dirinya dan orang lain, seperti salam penutup salat yang isinya berupa doa keselamatan dan kedamaian. Doa yang berusaha kau wujudkan setiap usai salam dan sebelum takbir berikutnya.

Jadi 24 jam x 7 hari salat melulu?

Katanya cinta, apalagi yang lebih nikmat selain menghabiskan waktu dengan kecintaan. Kelakuanmu memperbaiki salatmu, dan salatmu terbaikkan oleh kelakuanmu.

Berserah diri
Tidak ada manusia yang pantas bertemu Allah kecuali yang dipantaskan oleh-Nya.

***

Wednesday, April 11, 2018

Selamat Jalan Mas Danarto (27 Juni 1940 - 10 April 2018)

"Ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tidak terbatas. Luas bagi cakrawala. Mengapa harus ditangisi? Jelas ini salah tafsir." (Danarto, 2008:10)

Berkenalan dengan cerpen-cerpen mendiang awalnya dari majalah Matra, majalah lelaki tahun 90an yang memuja maskulinitas dengan beberapa lembar foto perempuan-perempuan yang membuat dadaku bergemuruh di usia yang kurang setahun dua puluh ketika itu. Membaca cerita pendek tulisan mendiang sengaja kulakukan paling akhir sebelum meletakkan kembali majalah ke rak buku, syahwatku tertunduk malu setiap kali berhadapan dengan metafora yang digunakan Mas Danarto dalam cerita pendeknya.

Banyak tulisan mendiang yang meninggalkan bekas, meluaskan, mewarnai cakrawala berpikir dan imajinasiku. Aku masih ingat ceritanya tentang malaikat maut yang ketika membentangkan sayapnya membuat gerhana segalaksi Bima Sakti, tetapi mampu menyamar menjadi guci keramik pajangan di ruang tamu seorang saudagar. Sejak membaca kisah itu, selama beberapa tahun selalu curiga pada setiap guci besar di ruang tamu rumah yang aku kunjungi.

Tulisannya adalah tulisan kedua yang kuanggap membenarkan imajinasi antara terjaga dan tertidur ketika diselimuti kegelapan yang menyerap seluruh cahaya disekitarku. Pertama, tulisan GM. Sudharta kartunis Kompas yang menggambarkan sosok malaikat maut sebagai makhluk terpekat dari semua hitam yang paling gelap, yang mengunjunginya ketika sedang sakit keras. Sementara mendiang menggambarkan malaikat maut memiliki seribu mata di sekujur tubuh dan sayapnya. Awas mengintai setiap manusia yang diharuskan berpulang.

Walaupun imajinasi dan halusinasiku mendapatkan pembenaran dari tulisan-tulisan mendiang, tidak pernah berani merasa telah disapa oleh dua malaikat Tuhan. Penggambaran mendiang tentang Jibril juga kubenarkan jika pembandingnya halusinasi absurdku lainnya. Jibril sosok yang ceria, wangi, tinggi, tegap, putih dan bersih, dia usil dalam konteks ingin membahagiakan dan menghibur, tetapi tak sanggup menahan kesedihan ketika melihat manusia mati-matian demi kehidupan kini yang tak abadi.

Akulah Jibril, yang pada suatu hari melihat sebuah sekolah dasar yang anak-anaknya sedang mampat pikirannya, maka kutukikkan layang-layangku seperti hendak menyerbu layang layang yang lain, tepat di tengah atap itu: brag-brag kada brag beberapa genting kuperintahkan jatuh, tentu saja kubikin tidak mengenai mereka, melainkan kepingan-kepingan itu biarlah jatuh di lantai saja. Mereka jadi terkejut, semuanya menengok ke atas yang tanpa langit-langit itu, hingga lubang yang menganga itu menghantarkan sinar matahari ke dalam. Setelah itu kukirimkan hujan khusus lewat lubang atap itu. Mereka bubar keluar. Di halaman sekolah guru dan murid-murid itu terheran heran memandang ke langit. Bagaimana mungkin ada hujan setempat yang begitu kecil, demikian mereka saling berkata, yang semuanya kusambut dengan tersenyum saja. Yang menyenangkan adalah pikiran guru dan murid-murid itu menjadi segar dan kemudian mereka ramai-ramai belajar di sebuah bukit yang rimbun di seberang halaman sekolah. Sebenarnya itulah yang kukehendaki. Mengapa mesti belajar di dalam kelas saja? Apakah padang rumput yang luas itu bukan kelas? (Kutipan Cerpen "Mereka toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat" - Danarto)


Usai magrib dan isya tadi kubisikkan doa, yang semoga sampai ke telinga mendiang Mas Danarto, aku ini muridmu yang mengaji karya-karyamu.

Friday, November 3, 2017

Sehabis Menonton "Cold Mountain"


"Jika cintamu tulus, maka kejujuran menjadi seringan bangun kesiangan di hari Minggu pagi."

Tidak banyak film yang berhasil membuatku ingin menontonnya berulang kali sampai ingin menulis postingan blog yang sekian lama dianggurin. Film "Cold Mountain" (2003) salah satunya.

Film yang diangkat dari novel berjudul sama, karangan Charles Frazier tahun 1861 dengan latar perang saudara di Amerika Serikat, di internet banyak reviewer yang menyebut filmnya lebih menarik ketimbang novelnya. Entah, belum pernah membaca novelnya, tapi kalau menyimak kuatnya dialog dalam film, mestinya novelnya juga sebagus filmnya.

Dialog Ada Monroe ketika menghampiri Inman yang enggan masuk ke dalam ruangan karena kehujanan. Ada membawa baki keluar agar tidak mencolok ia keluar khusus untuk menemui Inman, ingin mengajaknya masuk. Mereka berbincang dengan satu dua kata.

"Ini tidak seperti harapanku, kita hanya berdiri dan tidak berbicara. Tidak cukup jika hanya seperti ini." Inman memulai dengan kalimat yang lebih panjang.
"Cukup buatku." Ada menjawab Inman dengan tatapan.
"Apa warna langit malam? Bagaimana cara elang terbang, atau bagaimana menjelaskan ini, ketika kau bangun rusukmu memar karena semalaman memikirkan seseorang begitu keras."

Ada terdiam, akting Nicole Kidman yang memerankan Ada Monroe berhasil di sini (salah satunya, ada banyak ekspresi yang berhasil ia terjemahkan cukup dengan tatapan mata). Tanpa gestur, tanpa ekspresi, dan tanpa menjawab, hanya sinar matanya yang berbinar bisa menunjukkan ia jatuh cinta pada ucapan Inman barusan.

Khas novel jaman dahulu, tidak angkatan Balai Pustaka di Indonesia, atau penulis yang sejaman dengan Hemmingway, padat pesan moral namun tanpa kesan menceramahi.

Nasihat tentang kesetiaan dari Ayah Ada Monroe untuk putrinya, contohnya:
"Ibumu meninggal dunia ketika kau masih 22 bulan, dengan cintanya yang sesingkat itu cukup buatku seumur hidup."

Film ini juga berhasil menerjemahkan nasihat lain tentang kesetiaan nyaris tanpa dialog ketikan Inman terpaksa berteduh di rumah milik seorang perempuan muda dan bayinya yang ditinggal suaminya berperang.

Inman menolak dengan halus ajakan seorang perempuan yang tadinya hanya ingin agar ia berbaring di sampingnya. Gestur, ekspresi, tidak murahan tapi sendu dan manusiawi. Ditambah ucapan Inman ketika menolak. "Aku sedang mencintai seseorang, aku amat mencintainya." Lalu menaruh kepala perempuan tersebut ke atas dadanya, "Cobalah untuk tidur." Tidak terjadi apa-apa sampai keduanya tertidur.

Tidak lupa menyisipkan kritik pada kebiasaan manusia berperang, melalui reaksi Ruby, sahabat Ada Monroe yang menemaninya di peternakan setelah ayah Ada meninggal dunia, ayah Ruby tertembak.

"Perang ini karena kebodohan manusia. Mereka menyebutnya awan gelap, tapi mereka sendiri yang membuat cuacanya, lalu memaki hujan ketika badai datang."

Adegan puitik lainnya, setelah Inman yang sedang dirawat setelah terluka dalam peperangan menerima surat Ada Monroe. Inman bimbang memenuhi permintaan Ada agar segera pulang dengan risiko dianggap desertir, atau bertahan sampai perang usai. Seorang Bapak tua yang buta sejak lahir menyapanya ketika keluar ke teras rumah sakit.

"Apa kabar anak muda?"
"Apa yang akan kau berikan untuk 10 menit agar mampu melihat?"
"Tidak sepeser pun."
"Kita berbeda, aku akan melakukan apa saja untuk 10 menit agar aku bisa segera tiba di suatu tempat."
"10 menit untuk suatu tempat atau seseorang buatmu, aku tidak akan mau membayar sepeserpun untuk kehilangan apa yang pernah kumiliki."

Selanjutnya nonton sendiri deh.

Beruntung bisa menonton film ini saat sedang menulis draf novel lain tentang kawan semasa SD, dan sedang mengedit draf sebelumnya yang kusangka selesai, yang ternyata bila memakai standar Angkatan Laut AS semua yang kita anggap selesai sebenarnya baru 40% tuntas, dengan begitu mereka terbiasa melakukan sesuatu melampaui batasan. Tapi kalau harus menunggu 100%, aku tidak mau kehilangan apa yang ingin kumiliki.