Kenikmatan, Kesenangan, dan Kebahagiaan
Beberapa manusia yang memiliki ikatan rasa dan moral yang baik dan mendalam dengan sesama ciptaan lain, biasanya mengetahui kapan waktunya meninggalkan orang-orang atau makhluk lain yang tulus mereka cintai, tanpa pamrih, dan tanpa niat.
Entah sadar atau tidak sadar, mereka biasanya membuat semacam pertanda, atau simbol perpisahan. Terkadang berupa kalimat singkat, berkunjung ke dalam mimpi, atau sampai menuliskan pesan khusus, seperti kisah berikut yang belum sempat kami periksa kebenaran kisahnya, tetap kami jadikan bagian dari pembuka tulisan lepas ini, karena mengandung pesan yang senuansa.
Seperti biasa, seorang guru di sekolah dasar di Jepang, sebelum murid-muridnya meninggalkan kelas, ia menuliskan tugas untuk diselesaikan di papan tulis setelah kelas kosong. Bunyi tugas untuk siswa-siswanya yang ia cintai, menyadari waktunya meninggalkan dunia sudah dekat, kira-kira begini:
“PR Terakhir. Tidak ada batas waktu.
Jadilah orang yang bahagia.
Saat kalian mulai mengerjakan tugas ini, mungkin aku sudah ada di surga. Tidak usah buru-buru mengerjakannya. Kalian bebas menggunakan waktu yang dimiliki.
Tetapi suatu hari, tolong kumpulkan padaku dan katakan, “Aku sudah melakukannya. Aku sudah bahagia.”
Aku akan menunggu kalian mengatakan itu.”
Sepintas, kebahagiaan rasanya terlalu absurd dan sulit kita buat terperinci, terlalu ‘surgawi’ dan tidak membumi. Ilmu pengetahuan membuat kebahagiaan sedikit konkret dengan menemukan sebab-sebab timbulnya rasa bahagia adalah proses kimia-hormonal belaka.
Film “Pursuit of The Happiness” pun membenarkan betapa nyata kebahagiaan yang tercipta setelah kebutuhan mendasar terpenuhi kemudian diikuti dengan pemenuhan kebutuhan akan kenikmatan dan kesenangan sesuai hierarki Maslow.
Ada empat jenis hormon sumber rasa kebahagiaan.
Dopamin. Juga dikenal sebagai hormon "perasaan baik", dopamin adalah hormon dan neurotransmitter bagian penting dari sistem penghargaan otak. Dopamin dikaitkan dengan sensasi yang menyenangkan, bersama dengan pembelajaran, memori, fungsi sistem motorik, dan banyak lagi.
Serotonin. Hormon ini (dan neurotransmitter) membantu mengatur suasana hati serta tidur, nafsu makan, pencernaan, kemampuan belajar, dan memori.
Oksitosin. Sering disebut "hormon cinta", oksitosin sangat penting untuk persalinan, menyusui, dan ikatan orangtua-anak yang kuat. Hormon ini juga dapat membantu meningkatkan kepercayaan, empati, dan ikatan dalam hubungan, dan kadar oksitosin umumnya meningkat dengan kasih sayang fisik seperti ciuman, pelukan, dan hubungan intim.
Endorfin. Endorfin merupakan pereda nyeri alami tubuh, yang diproduksi tubuh sebagai respons terhadap stres atau ketidaknyamanan yang terjadi. Kadar endorfin juga cenderung meningkat saat kamu melakukan aktivitas yang menimbulkan perasaan memuaskan seperti makan makanan lezat, berolahraga, atau berhubungan intim.
Ilmu pengetahuan belum bisa merinci sebab non teknis, seperti takdir, mengapa keempat hormon tersebut bisa terpicu, kemudian memberikan rasa bahagia, kecuali sebagian besar rahasia bahagia timbul oleh hal-hal yang mendatangkan kenikmatan dan kesenangan.
Sebelum mengetahui fungsi keempat hormon kebahagiaan tersebut, sekitar sepuluh tahun lalu atau lebih lama lagi, kami juga memiliki konsep kebahagiaan yang sama. Tanpa kenikmatan atau kesenangan maka tidak akan ada kebahagiaan. Konkret, realistis dan membumi.
Tagihan cair langsung bahagia, berjalan dengan pacar lebih bahagia lagi. Berhasil mempecundangi atau menguasai orang lain, bohong dan curang tanpa ketahuan, menjadi panutan dan idola, dianggap cerdas dan alim, punya pasangan yang hebat dan terkenal, meraih apa yang orang lain cuma bisa diimpikan, membuat orang iri dan cemburu, mampu membeli barang-barang baru lagi mahal dan tren, membalas sakit hati, menuntaskan dendam, memenangi kompetisi, menang berjudi, menjadi ketua tim atau memimpin dan berkuasa, meraih hadiah besar, dan lan-lain termasuk sumber-sumber kebahagiaanku ketika itu.
Sampai kemudian Imam Al Ghazali menyentil lewat kalimat singkatnya, “Belum berilmu seseorang yang kebahagiaannya masih terpengaruh dengan ada atau tidaknya uang.”
Ah, yang benar saja.
Hampir semua sumber kenikmatan yang kukenal membutuhkan uang. Semuanya sudah terkapitalisasi oleh manusia, pun agama dan Tuhan. Pacaran pakai ongkos dong. Apalagi kekuasaan dan tahta.
Namun, kalau kebahagiaan ditentukan ada atau tidaknya uang untuk membeli kenikmatan, sifat Maha Adil Tuhan patut dipertanyakan, mengapa membuat sunnnatullah harus ada yang miskin baru ada yang kaya, harus ada yang bodoh barulah ada yang pintar dan membodohi.
Jawaban pertanyaan kami di atas banyak kita temukan dari kutipan orang-orang di internet, dari para motivator, inspirator, pesohor, dan seleb media sosial, yang entah sudah menemukan jawabannya atau malah sedang mencari kebahagiaan (semu) lewat kalimat-kalimat bijak bestari.
Semua jawaban yang kami temukan tidak berupa kata, tetapi pengalaman. Banyak di antaranya yang tidak terangkum kata, tetapi berusaha kami gambarkan sebaik mungkin.
Ada dua atau tiga pengalaman terakhir kami yang berhasil membawa pulang kembali kenangan bagaimana konsep kebahagiaan yang ditentukan oleh pemenuhan kenikmatan dan kesenangan, berproses menjadi kebahagiaan pada tahap berikutnya tidak ditentukan oleh keberhasilan memenuhi keinginan dan kebutuhan akan kenikmatan dan kesenangan, yang kemudian meminta agar menuliskannya.
“Kusayangki”
Sejak tiga tahun terakhir, ruang-ruang tempat kami bertemu kebahagiaan menyempit dan dimasuki seenak perut, jauh masuk sampai ke ruang mimpi dalam tidur. Biasa saja, kuanggap sebagai pertanda waktunya meng-upgrade ruang-ruang membuat janji temu dengan kebahagiaan. Mulai kami sebut tidak biasa dan seenak perut ketika pendudukan ruang tersebut diikuti dengan pemaksaan yang memasuki wilayah akidah kami. Tidak ada jalan datangnya ridha Allah melampaui yang melalui ridha ibumu, jangankan menjual ridha mendiang ibuku dengan dunia dan isinya, kekuasaan, tahta, atau hadiah kompetisi, mati pun rela kulalui demi tetap menggenggam ridha-Nya melalui ridha ibuku. Tulisan ini untuk kesekian kalinya adalah penegasan sikap, tidak akan bosan kami ulangi, persistenti mempertahankan sikap kami tidak boleh kalah dengan persistensi yang ingin mengubahnya. Semoga dengan demikian segera berakhir, tersadar bahwa ada jenis cinta yang menjadi sumber derita bagi orang lain, lalu memperbaiki kerusakan-kerusakan yang timbul, melanjutkan hidup menerima ketetapan-Nya yang akan membuka mata hati dan pikiran, bahwa kenyataan yang menanti setelah menerima kenyataan yang lalu pasti lebih baik, karena dasarnya mempertahankan akidah. Bukankah semua yang baik-baik pasti dari Allah Ta’ala dan yang buruk-buruk akibat perbuatan kita sendiri.
Dalam proses menemukan ruang baru, tentu saja tetap harus bekerja dan mencari uang, kebahagiaan di darat satu-satunya jalan menuju kebahagiaan dalam pikiran dan perasaan, tanpa syariat seorang muslim tidak akan pernah mencapai hakikat dan makrifat, tidak akan pernah berhasil meraih mukmin, muttakin, mukhsinin, dan mukhlisin, jalan ke surga hanya dengan melalui dunia. Ketimpangan antara kenyataan dengan pikiran, perasaan dan khayalan, hanya akan membuat jalan mengenal kebahagiaan sebenarnya semakin jauh dan berbelit.
Untuk bekerja dengan tenang, tetap produktif menghasilkan karya yang belum semuanya bisa diuangkan dan tidak harus menjadi uang, kami biasanya mencari atmosfer dan ekosistem yang cocok, jika tidak menemukan, maka berusaha membuatnya sendiri, mengkondisikan ruang, atau menerima kekurangan dan ketidak-ideal-an sebagai bagian dari proses kreatif dan produksi yang memang dibutuhkan dan harus ada.
Tiga tahun terakhir ruang-ruang tersebut dimasuki tidak mengenal keadaan ayah keponakan kami sedang sakit dan butuh banyak ketenangan sebelum berpulang, demi menghalau kami keluar atau 'sekadar' melampiaskan kejengkelan dan sakit hati. Padahal kami juga manusia, bukan ternak dan tidak terikat kewajiban mematuhi paksaan keluar. Kami sekadar menjalankan ikrar iftitah yang diperbaharui minimal lima kali sehari, menegaskan kami tidak ingin berada di bawah kekuasaan manusia lain lewat paksaan maupun manipulasi, setelah kerja pasukan penghalau reda untuk hari ini, barulah keluar mencari ruang kerja ideal. Bekerja, berbuat sesuatu, terlebih bila bermanfaat, juga mendatangkan kebahagiaan.
Menemukan warung kopi dan masjid yang bebas dari pengaruh infiltrasi kode-kode yang tidak mengenal kepatutan mana wilayah Tuhan dan membawa perkara apa, dan mana yang wilayah manusia untuk membahas hal-hal yang tidak dibawa mati, termasuk jenis kebahagiaan tersendiri, setelah usai rasa sedih berapa orang yang hari ini niatnya ke mesjid harus rusak, semoga ketidakutuhan pengetahuan baik dan buruk perbuatan demikian menjadi jalan beroleh ampunan. Alhamdulillah, semakin lama semakin menghilang.
Tanpa gangguan, bekerja di rumah juga menyenangkan, terlebih dengan gangguan empat keponakan yang baru beberapa bulan lalu menjadi yatim. Mengelus ubun-ubun mereka, tetapi malah kami yang merasa terguyur rahmat dan berkah Tuhan.
Hanya saja, untuk proses yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan minim interupsi agar bisa menyimak dengan baik ide dan suara yang berasal dari dalam pikiran dan perasaan, memang butuh ruang dengan privasi lebih pekat.
Warung kopi yang kami datangi suatu malam beberapa minggu lalu masih baru, belum sempat tersentuh jejaring perkodean. Kami sedang menikmati proses membuat saluran untuk mengumpulkan sen demi sen ketimbang menunggu tagihan belasan juta cair, yang mungkin saja bagian dari perkongsian kebahagiaan yang bersyarat dan berketentuan.
Password koneksi wi-fi internet di warkop tersebut berhasil membuatku dan pelayan yang mengantarkan segelas kopi pesananku tersenyum bahagia.
“Apa password wifinya?” Tanyaku.
“Kusayangki.” Jawabnya tersipu malu.
“Terima kasih.” Jawabku dengan nada senang.
Senang yang tidak dibuat-buat. Sudah lupa, kapan terakhir kali rasa sayang dalam bentuk kata diucapkan perempuan yang bukan kerabat dan keluarga langsung dan khusus buatku. Walaupun sekadar lucu-lucuan memberi password wifi demikian, tetap membahagiakan. Dan untuk menegaskan itu sekadar password wifi, pelayan itu kembali lagi dengan kertas bertuliskan paswword “kusayangki”. Keinginan menggodanya segera kutepis, sebab jika kuteruskan maka saat itu juga kebahagiaan yang kurasakan menjelma menjadi kesenangan. Sudah wilayah teknis kimia-hormonal, bukan lagi kejutan indah takdir.
Kebahagiaan yang satu akan menarik kebahagiaan berikutnya. Begitu pula dengan nestapa. Berusahalah menemukan kebahagiaan yang selalu berbagi sisi dengan duka derita. Temukan pemicu yang bisa membuat koin kehidupan itu membalik keadaan.
Keesokan sore, di simpang jalan menuju warung kopi yang lain, kendaraan di jam pulang kantor padat memenuhi jalan. Hampir lima menit menunggu arus kendaraan memberi ruang, akhirnya tersisa satu mobil Terios atau Rush, kami tidak begitu memperhatikan, kuputuskan mengalah beberapa detik lagi sebelum melintas. Mobil itu malah merem lebih dulu. Tak mau kalah, kami tetap tidak bergerak sembari memberi sinyal agar mobil itu terus berjalan dengan melambaikan tangan. Apa yang terjadi berikutnya benar-benar kebahagiaan yang menyusul kebahagiaan kecil karena password wifi kemarin.
Jendela mobil hitam yang berkaca gelap itu mendadak terbuka, dari balik setir terlihat wajah seorang perempuan muda berjilbab hitam yang tertawa terpingkal-pingkal, baru tersadar sedang terlibat dalam kompetisi yang disebut dalam Al Quran sebagai bentuk (kecil) ‘berlomba-lomba dalam kebaikan’. Sebelum ia membuka pintu mobilnya, sambil tertawa, ia kuminta terus berjalan kali ini dengan dua tangan dan dia mau mengalah.
Bukan hanya kebahagiaan yang kudapatkan sore itu, juga semakin paham bahwa dalam berlomba-lomba dalam kebaikan, tidak pernah ada yang kalah. Jika ada yang merasa kalah dalam sebuah kompetisi, maka pasti mengikuti lomba yang bukan termasuk perlombaan kebaikan.
Lupa, kapan persisnya pertama kali mengetahui kenikmatan dan kesenangan bukanlah syarat mutlak sebelum mengenal kebahagiaan. Agama memang menjadi panduan awal kami untuk mengenal kebahagiaan demikian. Mengejar kenikmatan hidup di dunia seperti meminum air laut saat kehausan, sampai kering empat samudera, dahaga tetap ada. (Update terbaru ada samudera ke lima. Pada Hari Laut Sedunia, 8 Juni 2021 lalu, para kartografer Nat Geo mengatakan arus deras yang mengitari Antartika membuat perairan di sana tetap berbeda dan layak untuk punya nama sendiri. Para kartografer atau ahli pemetaan tersebut menamakan wilayah perairan tersebut sebagai Samudra Selatan, Southern Ocean.
Ternyata kebahagiaan yang bersumber dari kenikmatan dan kesenangan tidak mengenal cukup, bikin candu, tanpa puncak, egosentris dan memudarkan rasa empati pada orang, makhluk dan lingkungan sekitar.
Sekitar pertengahan tahun 2008, sehabis menerima sejumlah uang, honor tenaga ahli selama setahun, penggantian biaya perjalanan dinas, tagihan layanan koneksi internet selama setahun, dan tagihan biaya pembangunan infrastruktur jaringan komputer, jumlahnya cukup untuk menikahi tiga perempuan di Makassar dengan mahar yang sedang dianggap standar ketika itu. Kami keluar mencari makan malam di waktu tidur, sekitar pukul 11 malam di kota Palu.
Warung sari laut langganan kami memang buka dua puluh empat jam. Saat itu sedang sepi, setelah ramai di jam makan malam, lewat tengah malam kembali ramai oleh mahasiswa yang begadang mengerjakan tugas. Di depan kami, seorang anak perempuan menyantap lahap nasi dan ayam goreng, sementara ayahnya yang masih berpakaian buruh bangunan menyantap nasi dengan lalapan. Tidak terkatakan seberapa besar kebahagiaan yang terpancar dari mata seorang ayah dan mata putrinya ketika mereka sesekali saling memandang sambil menyantap makan malamnya. Dugaanku, ayahnya lembur dan ini bukan hari Sabtu, hari di mana buruh bangunan menerima gaji mingguan, karena itu hanya memesan satu porsi ayam goreng lalapan dengan dua piring nasi.
Ingin sekali memesankan seporsi lauk lagi, tetapi ayahnya menatapku dengan senyuman yang seolah mengingatkan niat baikku justru akan merusak kebahagiaan mereka.
Makanan yang tadinya ingin kumakan di tempat, kami minta agar dibungkus saja. Harus cepat-cepat sampai di rumah kontrakan, sebelum air mataku jatuh di sana. Betapa Maha Adil Tuhan, setiap orang Dia beri kemampuan merasa berbahagia dengan apa yang ada pada mereka. Tidak tergantung posisi, jabatan, tahta, kekuasaan, harta, nasab, dan hal-hal yang selama ini kami anggap sebagai syarat mutlak agar merasakan kebahagiaan.
bersambung..