Thursday, February 2, 2017

La la Land, Resensi Suka Hati


Selang seminggu nonton dua film, "Passenger" dan "La la Land", keduanya rilis akhir tahun 2016 lalu, dan bagus karena mebuatku kepingin menulis resensi.

"La La Land" duluan dapat jatah kutulis karena akhir kisahnya yang tidak sesuai harapan penonton (saya) walau tetap happy ending.

Akhir kisah yang membuat keriuhan Pilkada DKI yang menjadi konsumsi nasional terlihat mati gaya sehabis menonton film ini.

Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling) dua individu yang berusaha mewujudkan impiannya di kota Los Angeles, bertemu pertama kali di kemacetan jalan, sudah menggambarkan sosok 'kebaikan' dalam bentuk person (manusia) saat bertemu pertama kali. Sama-sama merasa baik, merasa paling berhak duluan mendapat jalan, tidak sabaran, sebelum saling mengumpat.

Ada dua hal yang sanggup mengumpulkan dan menyatukan hampir semua hal di dunia, pertama nafsu dan keserakahan, dan yang kedua cinta. Layaknya semua ciptaan, nafsu dan cinta tidak lepas dari hukum yang mengikat setiap ciptaan, punya masa.

Bedanya, yang disatukan oleh nafsu akan berakhir dengan kehancuran dan kebencian, sedang yang disatukan cinta akan berakhir dengan saling membaikkan. Paragraf ini dan sebelumnya tidak ada dalam film, kebetulan satu konteks dengan salah satu bab dalam draft bukuku, sekalian promo colongan.

Mia dan Sebastian memilih jalan yang berbeda di akhir film, mereka saling cinta tapi tak berakhir dengan pernikahan. Tak ada benci, sakit hati apa lagi dendam, hanya kenangan.

Nafsu tak selamanya nafsu, cinta tak selamanya cinta, butuh konsistensi dan berkah agar tak terbolak balik, yang awalnya nafsu bisa menjadi cinta, mungkin awalnya cinta akhirnya menjadi nafsu.

Masih ada waktu mengubah pertunjukan nafsu menjadi kisah cinta. Dari saling meyakini dan mengklaim diri sebagai kebaikan dengan menuduh yang lain sebagai keburukan, menjadi saling memuji dan mendorong untuk kebaikan.


Friday, January 20, 2017

Utopia Mengeuforia Paranoia **

Intrik Pilkada DKI Jakarta 2017 'terpaksa' menjadi konsumsi nasional karena statusnya sebagai ibu kota negara dan semua media nasional bermarkas di sana. Tidak semuanya buruk, kami di daerah bisa belajar bagaimana para politikus di Jakarta menggoreng isu yang berskala nasional, mendunia hingga akhirat. Keadaan yang eskalasinya melebar, menyebar, kemana-mana tidak tertebak dan beberapa luput diantisipasi. Hampir sama tidak jelasnya dengan judul yang menjadi pilihan redaksi untuk opini pertama di tahun 2017 (** mestinya ini dimuat di kolom opini situs komunitas pewarta warga di wartakita.id yang sedang ganti server sampai malam nanti).

Penggerak kehidupan dunia dan menuju akhirat masih sama dari jaman manusia mulai mengenal hidup berkelompok dan memilih pemimpin kelompoknya: utopia; euforia; dan paranoia, yang artinya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:


Kapitalisme mengkonversi segala sesuatu menjadi kapital dan bisa diuangkan. Segila apa pun nafsu manusia pada uang, penggeraknya tidak akan lepas dari tiga hal di atas, bedanya ada yang dengan sadar menjadikan uang sebagai alat, dan ada yang tidak sadar sedang diperalat uang. Sama saja antara yang memperalat dan diperalat uang karena dasarnya sama, dorongan utopia, euforia dan paranoia* (*di sini = ketakutan tidak beralasan).

Atau sesosialis bagaimanapun seseorang yang agamais, komunis dan fasis, meski malu mengakui bahwa nilai dalam semua ideologi dan agama kini banyak yang menjual dengan harga tertentu atau nilai tukar, semangatnya juga digerakkan oleh utopia, euforia, dan paranoia. Sama saja dengan kapitalisme.

Harapan dan ketakutan adalah 'alat bantu' yang digunakan Tuhan pada manusia sebelum mulai mengenal dan mencintai-Nya, manusia yang bermain dengan 'perkakas' Tuhan pada manusia lain sudah pasti tidak memiliki daya untuk mengendalikan ujung dari harapan dan ketakutan manusia di akhirat, euforia belaka.

Sekuat apapun keinginan seseorang untuk meraih kehidupan akhirat yang baik, sulit melepaskan diri dari dorongan rasa takut dan harapan, mungkin karena dua kesamaan tersebut hingga akhirat terbawa-bawa ke politik dan kekuasaan dunia.

Politikus sebaiknya tahu dan pertimbangkan kadar pemahaman dan pengendalian emosi penduduk Jakarta dan Indonesia sebelum membawa masalah akhirat ke panggung politik. Sebelum panggung nasional yang sedang diisi oleh panggung lokal menimbulkan keriuhan seperti sekarang.

Ormas diadu, masyarakat terkotak-kotak, ketakutan dibesar-besarkan. Takut pada kebangkitan PKI, takut kebhinekaan tercabik, dan takut pada persatuan umat Islam setelah aksi 411 dan 212 posisinya sama dan sejajar, takut pada sesuatu yang bukan Tuhan. Mengekspresikan rasa takut tidak membawa perubahan apa-apa, kecuali memang ingin menunggangi rasa takut sebagai kendaraan meraih kekuasaan. Redaksi yang berbasis di Makassar tidak ingin membahas riuhnya Pilkada DKI Jakarta lebih jauh, lebih tertarik dengan hikmah yang bisa kami pungut dari kebisingannya.

Nasionalisme dan kebhinekaan tidak akan rusak karena keteguhan umat beragama memegang keyakinannya masing-masing, tapi rusak oleh kebelum-pahaman tentang ajaran agama masing-masing yang dasarnya ingin membaikkan diri sendiri sebelum orang lain ikut tertarik ikut baik. Rusak oleh ketidak mampuan menerima perbedaan agama dan perbedaan kemampuan memahami perbedaan.

Bila kekuasaan dunia dan politik ingin mewujudkan utopia, dengan menggunakan euforia dan paranoid sebagai alat sekaligus semangatnya, silahkan saja. Indonesia terlalu besar untuk ditentukan nasibnya oleh keriuhan Pilkada Jakarta.

Namun tidak demikian halnya bila umat beragama yang terlanjur terbawa-bawa, perjalanannya jangan terhenti pada harapan dan ketakutan. Harus diteruskan, hingga mengenal Tuhan yang kadang membuat harapan sebagai satu-satunya tempat bergantung, dan di lain waktu menjadikan ketakutan sebagai dorongan untuk terus maju, dan akhirnya ketakutan dan harapan lepas dari genggaman saat mulai mengenal apa yang membuatnya takut, membuatnya harap, kemudian jatuh cinta.

Jangan tertipu slogan dan pamflet ideologi, membaikkan tidak melibatkan nafsu, nafsu mutmainnah bukan berarti nafsu ingin membaikkan, tapi nafsu yang telah tenang dan tunduk tanpa dorongan keinginan sekalipun keinginan membaikkan.

Semoga kekuasaan dan politikus juga bisa belajar dari cara Tuhan mengajar manusia lewat ketakutan dan harapan. Melepaskan utopia, euforia dan paranoia, sebelum cinta menjadi sebab dan tujuan berkuasa.


Friday, December 9, 2016

Takutisasi dan Politisasi

Sebelum Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin dipindahkan ke bekas kompleks pabrik kertas di Gowa, hampir setiap tahun perkelahian antara mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas lainnya (kecuali Fakultas Kedokteran Umum, hampir seluruh Fakultas pernah tawuran dengan FT-UH) menjadi berita utama di Makassar.

Beruntung pernah kuliah di dua Fakultas yang saling bermusuhan. Saya memiliki gambaran pribadi yang lebih berimbang, berada di dua Fakultas yang saling berseteru (nyaris) abadi. Pada tahun 1992 tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial Politik jurusan Ilmu Komunikasi, dan setahun kemudian di Fakultas Teknik jurusan Arsitektur.

Saat penataran P4 pola 100 jam yang seminggu terakhir diakhiri dengan materi Fakultas dan Jurusan, semacam pra-perpeloncoan karena masih pakai seragam putih hitam. Hampir tiap hari para senior mengingatkan kami para mahasiswa baru, “Hati-hati dengan anak Teknik, mereka bisa menyerbu kapan saja.” Puncaknya di hari penutupan materi fakultas, yang akan dilanjutkan dengan perpeloncoan pada hari senin. Sekitar seribuan mahasiswa baru termasuk saya diminta membuat jalan baru menuju pintu dua kampus sebelum keluar dan pulang, karena pintu satu sudah dipenuhi mahasiswa baru Fakultas Teknik.

Belum ada taman dan danau buatan yang indah seperti sekarang di kampus Unhas Tamalanrea, masih rumput gajah setinggi hampir dua meter. Tahun sebelumnya, 1991 setahun penuh mengikuti kuliah di Fakultas Aqidah dan Filsafat di UIN (dulu IAIN), ilmu dari sana membuatku berpikir ini ketakutan sistemik tidak beralasan yang diwariskan turun temurun.

Ketakutan para senior yang ditularkan kepadaku dan teman-teman mahasiswa baru makin tidak masuk akal, menembus belukar lebat bikin gatal dan luka baret, padahal ada jalan aspal dari lapangan fakultas ke pintu dua. Merasa punya pengalaman cukup, saya keluar dari barisan. Pilih jalan aspal. Diteriaki senior mereka tidak bertanggung jawab bila terjadi sesuatu denganku, kujawab “Aman Kak, setiap tahun ketemu mahasiswa teknik di gunung.” Dan meneruskan langkah ke pintu dua.

Setahun kemudian di Fakultas Teknik, atmosfir perpeloncoan terasa kontras dan bertolak belakang dengan setahun lalu. Suasana angker dari luar bertema hitam dan tengkorak bajak laut dari tahun ke tahun, ternyata setelah berada di dalam terasa sebagai kebebasan dan kenakalan berpikir. Mungkin belum banyak yang tahu, ‘agenda’ tawuran bagi mahasiswa Teknik tidak lebih sebagai pengganti kegiatan Ekstra Kurikuler yang ditiadakan di Fakultas Teknik akibat padatnya mata kuliah dan untuk hiburan setelah ujian tengah dan akhir semester. Selain acara ‘berpacu meraih bintang’ di akhir perpeloncoan.

Seorang kawan dari Fakultas Sastra pada tahun 2000an pernah kuajak melintas di koridor Fakultas Teknik agar lebih cepat mencapai Fakultas MIPA untuk bertemu seseorang, dia masih merinding. Ketakutannya saat kuliah di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial masih terbawa hingga sekarang ketika melintas di Fakultas Teknik.

Membuatku makin tertegun, sedemikian besar dan selama itu dia membawa rasa takut.

Ketakutan dan harapan dua hal yang memang bisa menggerakkan manusia hingga panik, kadang sampai mengangkangi akal sehat.

Ketakutan dan harapan juga ‘mainan’ para politikus, sebagian ‘agamawan’, konsultan politik, pencipta opini dan perekayasa sosial (psikologi massa). Takut dan harap bukan sesuatu yang buruk, selama pada tempatnya. Bahkan dibutuhkan untuk menjadi motivasi awal sebelum berproses. Seperti perkataan baginda Ali R.A. ibadah karena takut milik para budak, ibadah karena harap imbalan milik pedagang, kemudian ibadah karena harap ridha milik para pencinta.

Apa yang terlihat sekarang adalah kesalahan menaruh harapan dan ketakutan, dan kecanggihan muslihat memanfaatkan ketakutan dan harapan yang salah tempat. Momen-momen politik dan intrik yang mengikuti selalu dilihat kemudian dihembuskan dengan sudut pandang ketakutan atau sudut pandang penuh harap, dengan beragam dalih. Dari yang masuk akal sampai yang mengada-ada.

Mudah saja menyaringnya, cukup dengan berbaik sangka setelah menaruh harapan dan ketakutan pada sebaik-baik tempat bergantung. Karena tidak ada rencana baik atau buruk yang bisa terwujud bila tidak diijinkan Tuhan.

Seperti rasa aman terhadap rejeki milik ayam makhluk Tuhan, saat keluar kandang dengan tembolok kosong, tanpa gelar, tanpa pekerjaan tetap, pulang kandang dengan tembolok penuh.