Labels
Karena Duniaku Dipenuhi Oleh Warnamu - This One For You Pa...
Saturday, June 6, 2009
I Thought this would be the end of my life
when you told me you’re no longer in love with me
I thought the sun would never arise again
when you told me everything was over
Ten 2 five in My World Is Full With You
Suatu hari bertahun-tahun lalu, ketika akhirnya kembali pulang ke rumah dari membuang diri hampir setahun di tanah Jawa. Menghukum diri sendiri, membunuh rasa malu yang ternyata tidak bisa dibunuh kecuali hati nurani telah mati. Ayahku mengucapkan sebaris kalimat singkat menyambut kedatanganku dan seperti lagu itulah perasaanku saat itu.
Hampir setahun membangun kembali rasa percaya diriku, bahwa apa yang aku alami ini cobaan semata dan pasti akan berakhir. Puluhan teman dan saudara di Jawa kudatangi demi mengumpulkan pembenaran-pembenaran bahwa memang yang aku alami ini cuma sebuah musibah, ujian untuk naik kelas dari Tuhan. Semua memberi dukungan, semua memberi support sepenuh hati (terima kasih Kang Akbar, terima kasih uni Iim, terima kasih Chandra, terima kasih Toto, terima kasih Hardin). Mataku dibukakannya, dengan memberi beragam contoh kegagalan. Dan memang betul aku jadi malu hati telah merasa seputus asa saat itu. Betapa banyak yang jauh lebih malang nasibnya dariku toh survive dan baik-baik saja melanjutkan hidupnya.
Di Condet, Jakarta Timur suatu pagi selepas subuh. Perutku begitu lapar dan ada uang seribu perak untuk sebungkus nasi uduk di warung depan lorong. Para pekerja yang biasa nitipin motornya di teras depan kamar kost ku pada belum bangun. Biasanya mereka ngasih imbalan jasa entah rokok, entah duit karena udah dibolehin nitipin motornya. Seribu cukuplah untuk pagi ini.
Ibu pemilik warung baru akan membuka warungnya. "Nyari nasi uduk ya mas? Bentar lagi bapak yg biasa nitipin ke sini datang, tunggu ya.." Di kejauhan aku lihat seorang bapak tua mengayuh sepedanya. Wajahnya bercahaya lebih terang dari lampu jalan kesiangan. Lebih teduh dari subuh jam 5 pagi. Aku ingat bapakku. Melihat aku menatap bapak tua penjual nasi uduk seperti itu, ibu pemilik warung itu berbisik disampingku, "Bapak itu punya anak 3, 2 orang sudah sarjana dan semuanya dibiayainya dengan jualan nasi uduk." Subhanallah. Rusak kalkulatorku dibuatnya. Aku ada di sini membuang diri merugi dari proyek yang nominalnya beribu kali dari sebungkus nasi uduk tapi apa yang aku dapat? Kedinian neraka. Bapak itu dengan dua puluhan bungkus nasi uduk setiap subuh sudah berada di sorga!
Aku pulang. Rasa percaya diriku tumbuh kembali. Setiba di rumah, ayah menyambutku dengan kalimat, "Kata siapa yang sudah kau alami itu cobaan? Hamba pilihan yang lagi diuji? Memangnya kau siapa? Itu bukan cobaan, bukan musibah tapi penyakit yang kau cari sendiri. Musibah itu seperti kau tengah berjalan di tanah lapang lalu tiba-tiba saja ada batu dari langit menimpa kepalamu." Langit runtuh. Kepercayaan diriku ambrol. Aku di NOL kan ayahku.
Andai itu tidak pernah terjadi, betapa hari ini aku berpijak di atas keyakinan yang salah tentang mana yang musibah dan mana yang nyari musibah. Pa, warnamulah yang selalu aku coba tiru, walau tak sesempurna milikmu, tapi akan terus aku coba.
SELENGKAPNYA...
Posted by Aan Burhany 5:56 PM 2 comments
Labels: Inspirasional, Introspeksi
Puasa Pesbuk, Akhirnya...
Thursday, June 4, 2009
Teringat kisah yg pernah dituturkan MH. Ainun Najib dalam salah satu bukunya.. Saat itu dia masih bujang dan tinggal di Yogyakarta, kendaraan utamanya untuk kemana-mana itu sepeda. Ke warung sepeda, ke malioboro nengokin Sutardji sepeda, suwun ke tempat Omar Kayam sepeda. Hingga suatu hari dia merasa sudah amat tergantung pada sepedanya itu. Asal mau kemana-mana rasanya tidak nyaman kalau tidak pake pakai sepeda. Lalu diajaknya lah sepedanya berdialog *rekaan aku aja dialognya* "Sampeyan ini siapa sih? Kok bisa-bisanya bikin aku ketergantungan kek gini? Kita sama-sama ciptaan gitu? Masih muliaan aku lah, sampeyan rakitan manusia sama kayak aku malah. Rendahan sampeyan lah. Tidak mau aku tergantung sama kamu yg jelas-jelas bukan sebaik-baiknya tempat bergantung."
Kira-kira begitulah juga kenapa sampai ku non-aktifkan untuk sementara akun FB ku..
SELENGKAPNYA...
Posted by Aan Burhany 11:44 AM 0 comments
Introspeksi Nomer Seratus Ribu Sekian
Wednesday, May 6, 2009
Rinduku tebal pada blogku ini. Banyak yang sudah terjadi dan berlalu tanpa sempat kutuliskan. Terlalu banyak urusan duniawi yang menyita waktu, terlalu banyak bermain dengan pikiran dan perasaan sendiri sampai aku kebingungan mau dikasi nomer berapa instrospeksiku kali ini.
No. #Ratus Ribu Sekian+1 : Terlalu Banyak Keinginan
Tanpa perhitungan yang matang merombak skala prioritas di 3 bulan pertama tahun ini. Kantor collaps karena ketidak siapan orang-orang yang kutinggalkan untuk menerima tanggung jawab bukannya dijaga dengan baik malah disalahgunakan, dan misi yang kuangkat menjadi skala numero uno juga bisa dibilang gagal. Bukan menyesali keputusan yang aku ambil, tapi bila aku tidak tracking back kemungkinan kesalahan sama bisa aku ulang dikemudian hari. Akal sehat mestinya menjadi alat bantu utamaku malah aku abaikan.
No. #Ratus Ribu Sekian+2 : Penundaan Tidak Penting
Bila sudah hati yang megang kendali tau sendirilah bagaimana rusaknya banyak hal yg mestinya nggak diurus dengan hati. Penundaan membuat aku kehilangan banyak job yang mestinya bisa diraih buat pengisi waktu yang nyata-nyata jauh lebih bermanfaat dari sekedar menjawab quiz aneh bin ajaib di pesbuk :P Tapi seru sih emang pesbuk itu.. Huahahaha.. auto-self-defence-on tadinya mau pensiun dini sih, tapi pas bertemu dengan teman-teman SD, SMP, SMA waduh malah lupa niat awal maen pesbuk, menyambung tali silaturrahmi bukan malah bikin kusut tali silaturrahmi.
Asli kusyut.. Yang bikin kusyut karena pesbuk udah nggak aku anggap sebagai sekedar alat seperti hape buat smsan, sempat kuberi muatan emosi. Ya Allah.. Apa yang sudah kuperbuat? Ampuni ya Allah.. Ngaco pokoknya. Dasar bawaan dari lahir "love to explore" habis deh banyak waktu buat eksplorasi di pesbuk.
Belum lagi naluri "keusilan" lain, ternyata hatiku tidak mudah berpindah. Biarlah kujalani apa yang ada sekarang, kini setiap tawaran ta'aruf akan kusambut gembira dan bila aku tidak cukup baik untuk berjodoh paling tidak dapat satu kawan baru lagi. Untuk urusan yang satu ini aku tidak pernah punya plan B karena aku juga tidak mau dijadikan plan B. Ijinkan aku menamatkan ceritaku sendiri. Bila aku tidak berjodoh lagi kali ini, cuma ada 2 sebab, sama seperti dengan usahaku yang sudah-sudah. Pertama aku tidak cukup baik untuk meyakinkannya agar mau melebur rencana hidupnya dan rencana hidupku menjadi rencana "kita" , atau aku telah sampai di titik cukup. Titik dimana aku berkata, semuanya telah kuberikan dan sekarang saatnya melanjutkan hidup. Maaf, apalah artinya seorang Aan bila harus sampai di titik cukup dulu baru engkau mulai mengerti bahwa aku ternyata sedikit berharga buatmu. Aku akan sabar membiarkan ini mengalir hingga tiba2 saja takdir-Nya maujud.
No. #Ratus Ribu Sekian+3 : Semua Ini Udah diatur-Nya
Kebebasanku mengambil keputusan pun sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari apa yang udah tertulis di lauhful mahfudz.. Walau begitu selalu ada kepingan hikmah yang bisa dipungutin, Alhamdulillah.. Insya Allah semua yg udah aku lalui ini bisa membuatku makin baik bila belum bisa membuat yg disekitarku ikut membaik juga.. Amin..
SELENGKAPNYA...
Posted by Aan Burhany 9:20 PM 3 comments
Labels: Introspeksi
Marah
Wednesday, April 15, 2009
Mereka pikir *itupun kalo bisa mikir* anaknya (baca: manusia) itu efek samping dari perbuatan coitus saja barangkali?!
Seorang adik kelas 2 SMA yang biasa ngumpul dengan teman-teman sebayanya di gedung depan kantor. Terancam putus sekolahnya karena ayahnya sudah tidak mau biayai. Sepulang dari Makassar sudah saya tanya beberapa kali, "Kenapa tidak sekolah? Selesaikan SMA mu dulu kalo memang so capek sekolah supaya standar pendidikan formal orang-orang yang ada di sini berijazah SMA seperti standar kalo mo jadi presiden RI. Nanti dibantu biayanya dari honor kerja-kerja lepas di luar adek" Dengan enteng dia menjawab, "Kalau memang dengan ijazah SMP saya cuma bisa jadi kuli, ya sudah jadi kuli jo saya sampe mati kak.." Kubujuk lagi, "Tidak semua orang seperti Buya Hamka yang cuma berijazah formal SD, tapi dia punya semangat, motivasi dan dispilin tinggi hingga akhirnya menjadi seorang guru besar di Al Azhar Mesir! Kau ini adek, bangun saja dikasi bangun. Baca buku syukur kalo ada satu kali seminggu.." Dia tidak bergeming, tetap tidak mau sekolah rasanya mau kuhajar saja sampai dia pergi sekolah.
Jawaban begitu pasti bukan cuma soal biaya. Ada yang lebih besar dari itu. Kuajak bercerita beberapa kawannya, mengalirlah cerita tentang ayah anak itu yang cuma mengenal judi dan mabuk, seorang PNS dengan harta warisan berlimpah yang kini habis terjual. Anak tertua dari belasan saudaranya yang lahir susul menyusul rapat-rapat. Ayahnya main tangan pada anak itu, pada ibunya dan pada adik-adiknya. Terakhir dia terusir oleh ayahnya karena melawan saat ingin dikenai tangan dan ibunya berencana meninggalkan ayahnya pulang ke rumah orang tuanya. Saya terdiam tak bisa lagi menanggapi cerita kawannya.
Teringat olehku, seorang anak yang sebaya dengan adik satu itu yang tinggal di kawasan kumuh di belakang rumah di Makassar. Suatu hari anak ini menegur ayahnya yang baru pulang pagi dalam keadaan mabuk, "Dari mana maki itu pagipi baru pulang? Bau tuak lagi!" Ayahnya menjawab enteng, "Sannang lalo mako tela**! Tuak yang kuminum ini juga yang bikin kau lahir!".
Banyak teori dan hikmah yang kupungut tentang anak dan orang tua walaupun aku belum menjadi seorang ayah. Seorang kawan sesaat setelah pengantin baru mengisahkan padaku tentang bagaimana ia berpuasa selama tiga hari dahulu sebelum bercampur dengan istrinya dengan niat memperoleh keturunan. Ia sudah mulai mendidik anak-anaknya saat anaknya itu masih berupa sari pati kehidupan di dalam tulang sumsumnya.
Tak mampu lagi kuteruskan. Bila kuteruskan isinya hanyalah makian untuk ayah adik itu.
SELENGKAPNYA...
Posted by Aan Burhany 7:22 PM 0 comments
Labels: Pendidikan, Surat-suratku
Menunggu Kantuk Tak Kunjung Tiba
Friday, March 27, 2009
Azriel ponakannku sakit demam, pilek dan batuk. Tiap kali dia terbatuk keras atau menangis dia muntah. Sedih sekali liat mata lucunya tapi tetap tersenyum walau barusan habis muntah, "Omh Aan blum bobok? Temani Aiiel ya sampe bobokmi.." Kalau bisa kuambil sakitnya sudah kupindahkan ke tubuhku dari kemarin.
Tapi aku belum tidur bukan cuma karena itu.. Efek domino dari semua penundaan dan pergeseran skala prioritas belum sampai di ujungnya, belum lagi masalah-masalah baru yang sudah menungguku saat kembali ke Palu. Lebih baik tidak usah kutunggu ujungnya. Tinggalkan saja, seperti tidak berujung.
SELENGKAPNYA...
Posted by Aan Burhany 1:52 AM 1 comments
Labels: Surat-suratku, Travel
Cukup
Wednesday, March 18, 2009
Bila aku pura-pura dungu dan tidak tahu, bukan berarti itu kesempatan untuk membodohiku kawan! Sebenarnya itu kesempatan terakhirmu untuk perbaiki semuanya, kecuali bila kau memang sudah tidak mau lagi aku jadi kawanmu. Ah! Apa kau lupa? Bila sesuatu akan atau sedang terjadi radar di hatiku biasanya sudah bergetar lebih dulu?
Lalu untuk apa maaf diciptakan?
SELENGKAPNYA...
Posted by Aan Burhany 4:46 AM 2 comments
Labels: Introspeksi
Maulid Nabi dan Catatan Perpisahan
Monday, March 9, 2009
Bila bukan karena cinta-Nya yang begitu besar pada Rasulullah maka semesta beserta isinya ini tidak akan pernah ada.. - SAQJ
Mission Accomplish
Ayam-ayam di kandang tetangga dari kompleks belakang rumah di Makassar belum lagi bangun dan berkokok aku sudah di kamarku minum segelas kopi panas dan sebatang rokok (sisa berapa hari ya proyek 120 hari berhenti merokok? Jangan2 udah kena penalti :D ). Tanpa memandang remeh jarak Palu-Jakarta-Bandung perasaanku pagi ini cuma seperti mau naek angkot ke MTC karebosi window shopping hardware baru. Plong dan tanpa beban. Pertama karena tujuanku jelas, kedua karena pengen "cuci gudang" karena ring 3 tabunganku udah mulai terkorek dan cuma berbekal janji bahwa beberapa tagihan akan cair setiba di Bandung (Pelajaran hidup no. #235 jangan pernah bergantung sepenuhnya pada janji manusia), sudah kuhitung beberapa kali memang ongkos di dompetku pas banget buat nyampe di Babakan Ciamis. Peringatan: Jangan meniru hal ini tanpa keyakinan tinggi bahwa pertolongan pasti akan datang bila muka anda cukup memelas :D.
Tiba di Cengkareng, mutar dikit ke Selatan naik Damri 125 turun di Istiqlal terus jalan kaki ke Gambir. Nyampe Gambir yg paling pertama kubikin nyari ATM dan senyum-senyum sendiri yg keliatan gigi kayak gini ":D" ngeliat saldonya masih sama seperti kemaren malam. Alamat tidak ngopi di kereta dan tidur terus sampe Bandung. Keretanya on-time 1745, nyampe Bandungnya yang lelet 2315 baru nyampe.Rico udah nunggu di stasiun kota. Kalimat pertama yang diucapkannya, "An, kau sama sekali tidak berubah dari pertama kali ke Bandung!". Begh! Ini karena udah malam kang Rico, jadi uban yg mulai muncul gak mengkilap, lagian kenapa mesti berubah bila apa yang sudah ada pada diri kita menurut orang lain adalah sesuatu yang baik? Muka memelas ala "Pussy Cat In The Boots" di film Shrek 2 kalo pas kere misalnya (sainganku cuma ponakanku si Fiqa kalo soal muka memelas ini). Buktinya pas aku nawar pengen beli jaket item keren yang lagi dipakenya, si Rico nggak mau nerima duitku, "Udahlah 'An bawa aja pulang ke Makassar jaket ini nanti sekarang kita ke kontrakanku dulu, biniku udah nyiapin kamar dan makan malam." Pelajaran hidup no. #237. Jangan ragu berbuat baik pada orang lain karena database malaikat Mungkar dan Nakir tidak pernah "hang" dan "overload" nyatat semua kelakuan manusia lengkap dengan kadar keikhlasannya.
Malam ini nginap di Surapati, besok baru ke tempat uni Iim dan matengin tujuan kemari.
to be continued..
SELENGKAPNYA...
Posted by Aan Burhany 6:01 PM 3 comments
Labels: Travel
english version








