Wednesday, October 3, 2018

Mustafa Sibonu bin Djamaluddin


Lagu ini pernah kuputar di kantor kecil kami di Islamic Center Tondo di Palu, aku masih ingat protesnya. "Lagu apa itu Dan? Lagu nambongo," sahutnya menyembunyikan matanya yang basah.

I'm so tired of being here
Suppressed by all my childish fears
And if you have to leave
I wish that you would just leave

~ My Immortal - Evanescence



Mus tidak mengerti liriknya, tapi dia tahu lagu ini tentang merelakan kehilangan. Hatinya memang lembut, mudah tersentuh.

Apalagi Mus ketika itu baru saja merelakan kucing kesayangannya si Belang diadopsi pedagang pasar Mamboro.

Kecuali lagu-lagu Avenged Seven Fold, dia suka. "Beh, lagunya tuaka ini dan, so masok tiga botol ini.

"Coba otakmu selembut perasaanmu, so canggih sekali kau Mus, dua tahun belajar jaringan komputer," kataku meledeknya suatu hari.

"Oo, rupanya itu sudah, torang selalu komandan hukum panjat tower, biar panas, biar hujan. Te mempan Dan, apa so jadi batu cincin torang pe otak. Hahaha." Jawabnya terbahak-bahak.

Tidak ada lagi hinaan di antara kami yang bisa singgah menyakiti hati.

Satu suara melawan sembilan, Mus terpaksa mengalah pada keputusan Belang harus hidup menjadi kucing garong. Mus sayang sekali pada Belang, dia rela hanya makan nasi dan sayur dari katering langganan, lauknya semua untuk si Belang.

Sebulan pertama memelihara Belang, setiap pagi Mus sibuk membersihkan 'oleh-oleh' di pojok kantor.

Mus berjanji pada seisi kantor, Belang akan ia didik dengan benar.

Berhasil, Belang akhirnya tahu membedakan mana kloset jongkok dan pojok kantor.

Tak terasa Belang memasuki usia puber. Bulu matanya yang lentik memang cantik dengan celak hitam, Belang idola kucing-kucing jantan di sekitar gedung Islamic Center.

Beranak pinak, dan anak-anaknya kembali meneruskan kebiasaan ibunya si Belang. Kewalahan membersihkan oleh-oleh tiga ekor anak kucing yang tak melewatkan satu sudutpun di kantor kami. Mus mengalah, merelakan Belang pergi.

***

Semasa di Palu, aku punya tiga orang kepercayaan. Pertama Mustafa Sibonu bin Djamaluddin, kedua Afdi Fadilah, ketiga, Yudi. Berempat kami memikul limpahan tanggung jawab yang tidak kecil dari tim teknis sebelumnya, membangun infrastruktur wireless LAN milik pemkot Palu.

Sepeninggalku, Mustafa menyelesaikan kuliah diploma tiganya, kemudian menjadi PNS di Fakultas Kedokteran UNTAD.

Aku tahu, karena merasa tak enak hati hingga tak memberi tahu, ia telah menikah mendahului komandannya. Suka melihat potret keluarga kecilnya di media sosial, dikaruniai seorang putra yang berwajah persis dengannya.


Ia hijrah dan menjadi lebih baik setelah aku kembali ke Makassar.

Duh, Tuhan, semoga bukan aku yang selama ini menghalangi pintu hidayah buatnya. Begitu banyak pengalaman dan cerita yang pernah kami lalui.

Dia juga yang mengalihkan pandanganku pada seorang tua, yang berjalan tanpa alas kaki di atas aspal panas siang hari di kota Palu saat garis khatulistiwa berada dalam titik equinox.

Ayah Mustafa berasal dari Jeneponto, Sulawesi Selatan. Ibunya orang Kaili asli. Mus tidak marah ketika kuprotes sebenarnya dia tidak berhak menyandang fam Sibonu, karena yang orang Kaili ibunya, bukan bapak Djamaluddin ayahnya.

"Begini saja Dan, daripada torang ribut terus, apa so potong kambing akikah juga saya kasiang. Lebeh baek ambil jalan tengah, namaku jadi Mustafa Sibonu bin Djamaluddin."

***

Seorang lagi, Afdi Fadilah, seperti namanya yang berarti abdi yang utama. Berdua ke Makassar menyelesaikan pekerjaan terakhir sebagai konsultan jaringan teknologi informasi.

Bahagia melihat proses transformasi Afdi dari seorang buruh bangunan menjadi teknisi ahli.

Tidak butuh banyak orang, sebulan cukup Afdi seorang, satu kampus besar di Makassar berhasil kami hubungkan dalam satu jaringan induk.

Yudi, kemungkinan besar tidak sedang di Palu ketika gempa dan tsunami menerjang.

Setahun sebelum meninggalkan Palu, Yudi duluan pindah ke Makassar.

Sampai sekarang hanya Mustafa Sibonu bin Djamaluddin yang belum aku ketahui kabarnya, selamatkah dari terjangan gempa dan tsunami kemarin atau tidak.

I've tried so hard to tell myself that you're gone
But though you're still with me, I've been alone all along
When you cried, I'd wipe away all of your tears
When you'd scream, I'd fight away all of your fears

Sesayang apapun pada kalian, Tuhan pasti lebih sayang lagi.

***

Saturday, July 14, 2018

Resensi Buku Suka-Suka: "Picatrix"

Setelah membaca buku I dan  buku II, benar selalu ada hal-hal baik sekalipun dibalik sesuatu yang cenderung berkonotoasi negatif, seperti sihir misalnya. "Picatrix" ada enam buku, cuma nemu dua buku yang tersedia versi PDF dan bisa diunduh gratis (entah bagaimana awalnya sampai bisa menemukan link untuk mengunduh Picatrix, membacanya, kemudian riweh sendiri).

Walaupun "Picatrix" dimulai dengan 'Basmalah' dan banyak menaruh catatan bahwa setiap sihir, upaya, hanya akan berhasil jika disetujui Tuhan untuk mewujud, tetapi di bagian lain ditekankan pentingnya menselaraskan diri dengan makro-kosmos untuk jaminan keberhasilan setiap usaha sihir. Sementara baginda Nabi SAW tegas melarang mengaitkan nasib, takdir, dengan bintang, kicau burung, dan hal-hal lain yang lebih tepat dianggap sebagai pertanda sebuah takdir dan nasib, bukan penentu takdir dan atau nasib.

Bisa sekali aku yang awam dengan sihir salah, dan mungkin sekali Ghayat Al-Hakim benar, atau kami berdua benar sekaligus salah. Resensi ini ditulis tanpa niat mencari benar salah, tetapi karena "Picatrix" dimulai dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang, dan pada banyak bab banyak disebutkan semoga Allah membimbingku (baca: penulis) dan orang-orang yang mencari 'kebijaksanaan' dengan membaca "Picatrix".

Tentang sihir, pemahamanku untuk sekarang, yang putih atau hitam, sumber kekuatannya sama, yaitu keyakinan. Dikotomi sihir hitam atau putih dibedakan oleh medium, cara, peralatan, pembantu, niat, dan tujuan melakukan praktik sihir tersebut.

Keyakinan dalam dua jenis sihir tersebut berbeda cakrawala dengan keyakinan beragama (agama dalam konteks spritualitas, bukan religiusitas). Pengalaman pribadi dalam beragama, 'keyakinan utuh' mutlak diperlukan sebagai pengantar sebelum menjelma kesadaran, sebab jika tidak, maka agama terancam dituhankan melebihi Tuhan itu sendiri.

Hubungan manusia dan alam semesta.
"Picatrix" menganggap setiap manusia berhubungan langsung dengan gugusan planet dan bintang-bintang. Mereka yang bijaksana adalah mereka yang menyadari dirinya sebagai debu, bagian dari semesta.

Kalimat terakhir tentang debu semesta, kami sepakat. Namun masih terasa keabu-abuan sikap Ghayat Al-Hakim dalam "Picatrix", beberapa sebabnya:

Pertama, ucapan 'Basmalah' lebih dari cukup untuk menyadari posisi dan derajat seseorang dalam semesta ciptaan. Setelah melakukan sinkronisasi dengan Pencipta alam semesta, menyinkronkan diri dengan makro-kosmos yang juga ciptaan seperti pengucap 'Basmalah', rasanya nanti diperlukan jika dan hanya jika belum memahami kasih sayang dan kepemurahan Tuhan dalam Basmalah (yang seorang muslim diwajibkan membacanya sebelum melakukan sesuatu).

Tentu saja, setiap aktifitas punya waktu yang baik dan benar, sama seperti waktu-waktu beribadah yang afdal, waktu tidur, makan, dan lain-lain. Kondisi waktu yang afdal tersebut tetap harus diposisikan sebagai penunjang terwujudnya sebuah takdir yang diinginkan, tetap bukan penentu apalagi jaminan akan berhasil. Ghayat Al-Hakim mengakui hal ini dengan kerapnya menambahkan kalimat semoga Tuhan mengabulkan.

Kedua, berbeda sekali nuansa 'bijaksana dan arif' dalam "Picatrix" dengan yang kupahami. Menurut "Picatrix" kebijaksanaan dan kearifan memiliki banyak tingkatan, setiap tingkatan adalah syarat menuju tingkatan berikutnya. Sayangnya, apa yang disebutnya kebijaksanaan adalah syarat bagi seseorang sebelum menjadi 'talisman' atau dukun. Setuju dengan gambaran jalan menuju 'kebijaksanaan' tidak akan bisa ditempuh dengan 'by force or buy force', tetapi karena niat yang lurus, kemudian dicukupkan Tuhan sebelum mulai diperjalankan.

Beberapa bab memberikan contoh penggunaan sihir dengan memanfaatkan rajah/stempel/simbol/bacaan mantra/jimat pada waktu dan posisi benda-benda langit yang berbeda-beda untuk setiap tujuan. Setiap sihir membutuhkan 'talisman' atau 'dukun'. Benar, memang ada yang memiliki kemampuan seorang Talisman.

Bukannya kehilangan hasrat mewujudkan setiap impian dan harapan. Tidak tertarik pada sihir putih maupun hitam makin membulat setelah mengalami banyak kepahitan dalam hidup dan belajar menerimanya. Ketimbang mencari cara mengubah takdir yang telah terjadi, masih lebih sulit dan terasa lebih manis mempelajari cara menerima dan bereaksi pada takdir tanpa protes dan tanya. Andaipun sihir bisa mengubah takdir menjadi sesuai keinginan, harganya tidak murah, dibayar dengan menghilangkan kesempatan belajar menerima takdir dan ketentuan Tuhan, salah satu jalan terbaik jika ingin mendekati dan mengenal Tuhan.

Sayang jika 'kebijaksanaan' diartikan sebagai kemampuan mewujudkan keinginan diri sendiri dan orang lain--apapun itu--, dengan memanfaatkan energi dan konstalasi kosmos. Sementara dalam keinginan yang tidak terwujud ada banyak pelajaran berharga.

"Picatrix" yang dimulai dengan 'Basmalah', lebih bijaksana jika menambahkan catatan bahwa balasan kesabaran atas keinginan yang tidak terwujud adalah pahala/imbalan tanpa batas, jauh lebih baik ketimbang keinginan yang terkabul tetapi menjadi sumber kesombongan, arogansi, dan keserakahan.

Tentang mantra berupa kata.
Memang benar kata memiliki 'kekuatan'. Sebagai pembawa informasi berupa data, rasa, nuansa, dan makna, kata mampu menerobos pikiran dan hati manusia. Namun mantra tidak bisa disamakan dengan 'kekuatan' kata dalam 'linguistik'.

Dalih "Mengapa begitu sulit menerima keajaiban kata-kata berupa mantra, sementara semua manusia mengetahui dengan kata yang tepat seorang musuh bisa menjadi sahabat, dan karena salah kata seorang sahabat menjelma musuh." Perbandingan yang kurang tepat karena menempatkan kata dan mantra sejajar. Apple to grape.

Kata yang membentuk kalimat, kemudian menjadi alat berkomunikasi atau bertukar informasi adalah proses yang berlangsung dua arah, silih berganti menjadi penutur-pendengar, ada proses menerima dan memberi.

Sementara mantra cenderung proses searah. Mantra biasanya berisi kata-kata yang memvisualkan keinginan seseorang dalam bentuk yang super, membantu memusatkan keyakinan dan harapannya menjadi fokus, jernih, dan tajam. Seseorang yang mampu memvisualkan keinginannya atau memiliki visi, tidak memerlukan mantra lagi. Visi yang jernih berupa perspektif atau proyeksi selalu sepaket dengan cara meraihnya atau misi, kadangkala bila visi tersebut sesuai dengan rencana semesta, jalan mencapai visi akan tersedia dengan sendirinya.

Contoh penggunaan mantra berupa kata pembentuk kalimat, mantra yang sering digunakan jagoan di Makassar sebelum duel, juga biasa digunakan dalam debat atau diskusi yang bertujuan menjadi pemenang, bukan menggali kebenaran bersama-sama. "Inakke alip, ikau ba." Aku alif, engkau ba. Deklarasi bahwa pengucapnya adalah abjad pertama huruf Hijaiyah yang digunakan dalam Al Qur'an dan lawannya adalah huruf kedua setelahnya. Mantra ini menjadi alat bantu si pengucap membangun rasa percaya diri akan keunggulannya. Saat mengucapkan mantra tidak ada penutur dan pendengar, tidak ada proses memberi dan menerima, tanpa interaksi.

Si pengucap mantra ketika mendapati lawannya tunduk dan mengalah akan sulit melepaskan diri dari kesombongan bahwa ia lebih jago, ialah juaranya, lebih parah lagi jika menganggap mantra sebagai sumber kemenangannya, bukan alat bantu. Padahal lawannya mungkin sekali memang tak ingin menang, memilih berdamai dengan cara mengalah.

Jebakan kesombongan yang tak kalah besar sebenarnya juga ada pada yang memilih mengalah tanpa mantra. Ketika ia merasa dirinya lebih baik dan lebih berilmu dengan mengalah, saat itu juga kesombongan telah menjadi bajunya.

Kesombongan baik sedang kalah atau menang, benar atau salah, bisa ditepiskan dengan tidak menampilkan diri sendiri atau menuding orang lain sebagai sebab apalagi sumbernya. Semua ciptaan hanyalah 'tools' untuk takdir yang mencari jalan agar mewujud. Wallahu'alam.

Tuesday, July 10, 2018

Bukan Dering Ponsel yang Mengganggu, tetapi Hati Kita yang sedang Terganggu.

Biasanya setiap azan Duhur kalau belum mandi pagi (baca: siang), enggan ke masjid Duhur berjamaah, khawatir ada mazi atau najis lainnya yang kadang keluar sewaktu tidur. Namun pas azan Duhur tadi tidak, entah mengapa terdorong ke masjid, ditambah keyakinan setelah bangun tidur tadi sudah memeriksa di kamar mandi sebelum istinja, qubul dan dubur keduanya aman dari najis. Keinginan melangkah ke masjid seperti ini kusebut panggilan, mengalir begitu saja tanpa ada dorongan atau halangan akhirnya sampai ke dalam masjid, dapat deret ke dua di belakang imam.

Masjid di samping rumah di sini, di Jakarta, masjid para musafir sepertiku. Parkiran motornya selalu ramai, paling sedikit tiga shaf di setiap waktu salat, duhur tadi ada lima shaf. Karpetnya baru diganti pas masuk ramadan kemarin, empuk dan wangi. Pendingin udara dan kipas anginnya cukup, udaranya sejuk. Faktor lingkungan yang dibutuhkan untuk berusaha khusyuk, menuju khusyuk, atau mungkin pura-pura khusyuk, lebih dari cukup.

Imam pun takbir.

Bacaan surah salat duhur dan asar tidak dijaharkan, mengikuti imam, usai takbir, kembali memperbaharui janji dan sumpah yang seringkali dengan sengaja melanggarnya, cuma sedikit yang tidak sengaja di antara dua waktu salat. Bahwa ibadahku, salatku, hidup dan matiku untuk Allah semata, tetapi masih mau setengah mati untuk yang nyatanya bukan Tuhan.

Takbiratul ihram selamat. Tidak memikirkan apapun kecuali Zat yang tak bisa kupikirkan, yang tak terjangkau pikiran dan khayalan. Al-Fatihah, Al-Ikhlas andalan, rukuk, sujud, duduk, dan kembali berdiri. Mengulang lagi sampai rakaat kedua, ketiga, dan keempat.

Saat rukuk di rakaat keempat, ponsel salah seorang jamaah berdering.

Tersenyum mendengar deringnya, ponsel jaman dulu tanpa layar sentuh. Kalau bukan Noki* 3110 klasik, mungkin erikss*n seri GF.  Sulit menahan senyum menyadari bahwa pemilik ponsel yang berdering ini mesti berkarakter unik dan istimewa.

Salatku rusak? Mungkin, asal bukan iman dan hatiku. Senyum baru satu gerakan diluar gerakan salat, tersisa dua lagi gerakan yang dibolehkan.

Makin tersenyum dalam hati ketika jamaah tersebut tidak menggunakan fasilitas menepikan gangguan dalam salat, seperti membunuh ular atau kalajengking yang akan menyerang, atau dibolehkan melakukan tiga gerakan diluar gerakan salat. Dering ponselnya mengiringi senyumku, bacaanku dan gerakanku hingga akhirnya salam.

Entah, aku mungkin sekali salah ketika merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap dering nyaring non-polyphonic, yang membuat senyumku terus mengembang.

Sambil berdzikir usai salat menganggap dering ponsel yang masih terus berdering adalah bagian dari duhurku siang ini, mendadak seorang pemuda berkaos kuning, menyalami jamaah sampai empat orang di sisi kiri, dan empat orang di sisi kanannya. Aku yang keempat di sebelah kanannya. Sambil menyalami ponselnya masih berdering. Masih tersenyum wajahnya kutatap, duh Gusti Allah, pemuda itu pemuda 'seribu wajah', keterbelakangan mentalnya tidak cukup kuat untuk menghentikan dorongan ke masjid.

Beberapa jamaah tidak kuasa menahan kekesalan, memintanya mematikan ponsel. Jamaah yang lain berusaha memberi kode bahwa pemuda tersebut 'spesial', jangan dimarahi. Ponselnya tetap ia biarkan berdering sambil menyalami jamaah di setiap shaf yang harus ia lalui sebelum menghilang dari pintu belakang masjid. Mungkin keluarganya khawatir, jadi terus menelpon. Usai duduk sejenak usai salat, berusaha menyusulnya, dia sudah menghilang sebelum sempat mengucapkan terima kasih.

Duhur tadi aku belajar lewat pemuda berkaos kuning yang istimewa. Bahwa saat salat kita tidak diminta meninggalkan tubuh dan dunia, tetapi membawanya serta, berikut lingkungan di sekitar kita. Bukan dering ponselnya yang mengganggu, tetapi hati kita yang sedang terganggu. Bukan tubuh, pakaian, dan lingkungan yang tidak mau ikut menghadap dalam salat, tetapi kita yang belum pantas mengajaknya bersama-sama.