Labels
Tadi malam seorang kawan mengeluh padaku tentang istrinya, "Adakah istriku itu menganggap aku suaminya, atau ia menikahi aku untuk mimpi-mimpinya sendiri? Untuk apa kami bersama bila selalu "dia", "aku" tanpa "kita". Aku seperti jembatan tol yang dinikahinya agar dia lebih mudah mencapai semua inginnya. Entah, apakah setelah semua dicapainya aku akan ditinggalkannya juga, seperti meninggalkan gerbang tol."
Andai kawanku itu mencibir, akan kukatakan padanya itu bukan pengalamanku karena istriku masih ada di atas sana. Itu yang kusaksikan pada kedua orang tuaku.
Cepatlah kemari, agar apa yang kukatakan itu pula yang kulakukan.
Miss you much..
Labels: Fiksi, Sastra, Surat-suratku
Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak boleh kita paksakan tegaknya dan ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak perlu kita tunggu berubahnya. Benang kering aja tidak bisa tegak, kecuali benang kawat tapi kalau kawat ya kawat bukan benang.
Membangun "sampan" kecil RT/RW ini adalah usaha mikro ke-5 yang pernah kurintis. Keempat usaha lainnya, 3 sudah bangkrut 1 dilanjutkan sendiri oleh salah satu mantan haryawan menyisakan investasi sumber daya manusia yang tersebar dimana-mana dengan beragam profesi, dari narapidana hingga manajer marketing sebuah produk kecantikan. Dia dan saya 12 tahun lalu sepulang mendorong gerobak cafe di pantai Losari, tidak pernah membayangkan hari ini dia akan jadi manajer. Usaha dan kerja kerasnya memang luar biasa. Aneh? Sepertinya tidak deh, karena semua yang pernah kubangun tidak meletakkan orientasi keuntungan materi sebagai tujuan utama, dan disitulah mungkin salah sekaligus benarnya.
Belajar dari banyak kegagalan. Sepertinya aku memang tidak cocok jadi pedagang, karena pedagang mestinya profit oriented kalau tidak begitu mending jadi pemberdaya diri sendiri dan lingkungan sekitar saja. Kata siapa dengan berdagang kita tidak bisa memberdayakan diri sendiri dan lingkungan sekitar?
Aku menyerah? Dan mulai skeptis bahwa apa yang aku lakukan selama ini hanyalah menegakkan benang basah? Tidak. Bila perlu assetku hingga ring 1 aku cairkan untuk meniru keberhasilan Rasul SAW dalam berniaga yang tidak pernah mengambil untung 30% dari dagangannya dan tidak memberi peluang para penipu dan penjahat untuk menambah dosanya dan terus menebar kebaikan. Insya Allah.
Labels: Introspeksi
Kemanapun kita sedang melangkahkan kaki, kemungkinan kita "cuma" sedang bergerak dari tiga tempat, masa lalu, masa kini dan masa datang.
Labels: Introspeksi
Untuk menyelamatkan sebuah peradaban dan segenerasi mahluk hidup, hanya sebuah sampan kecil dengan kantih di sisi kiri dan berdayung satu. Cobalah untuk duduk tenang bila belum bisa ikut mendayung, kalau mabuk minimal karena ombak, itu sudah sangat membantu, paling tidak saat harus istirahat kita bisa tidur nyenyak karena tahu yang mendayung tidak sedang kehilangan kesadarannya, agar kita segera sampai di pulau terdekat untuk merombak sampan sesuai kebutuhan saja, membuat dayung baru dari apa yang bisa kita dapatkan di sana, dan kelak sampan ini kalian yang teruskan, dengan pulau tujuan kalian masing-masing.
Labels: Introspeksi, Surat-suratku
Tahun 2004 adalah tahun terakhir saya bersentuhan dengan cat, kuas dan kanvas. Pada Tahun itu saya sempat membuat 5 karya, 1 di ruang tamu Muhary Wahyu Nurba, 2 diantaranya sudah markir entah dimana, sekarang tersisa 2 karya "Jalan Pulang" dan "Seistiqamah Kelapa" keduanya berukuran sama 40cm x 60cm.
Labels: INDONESIANA
Mungkin inilah Ramadhan terburuk sepanjang hidupku, dan aku sisa --mungkin masih-- punya satu malam lagi untuk menangisinya. Itupun bila aku diijinkan-Nya.
Terburuk karena, sesaat sebelum Ramadhan datang aku sempat mengeluh, "Ah, pencapaian target-targetku akan sedikit melambat olehmu" Walau akhirnya istighfar tersadar, ternyata pekerjaan berhasil mengambil alih hidupku beberapa bulan terakhir, walau itu bertujuan ibadah pula, there is no excuse!. Dungunya! Bagaimana bisa karena mengejar sejuknya magrib saya mengeluh saat duhur dan ashar tiba? Astagfirullah, akibatnya 2/3 ramadhanku adalah mengurusi trouble shooting pekerjaan yang silih berganti memakan waktuku yang mestinya untuk amaliah ramadhan. Sedih, ternyata masih ada hak orang yang belum aku bayarkan. Buktinya handphone hilang.
Labels: Introspeksi, Ramadhan
Bukan. Aku sama sekali tidak pantas untuk dihampiri --dihampiri aja tidak pantas apalagi dikunjungi?-- aku hanya ingin mengisahkan kejadian yang dialami kawanku di siang hari (menurut ukuranku yang awam serupa dengan kemuliaan seribu bulan).
Tengah hari bolong ban motor bocor. Panasnya matahari jam 12 siang yang kurang dari setengah derajat lagi khatulistiwa, sulit dicari padanannya. Tukang tempel ban terdekat sekitar 500 meter, dan untuk sampai kesana melewati 3 rumah makan. Setengah memaksa biar dia yang mendorong motor dengan alasan tidak puasa, hanya dia yang tahu kenapa tidak puasa.
Labels: Ramadhan
english version









