Setelah membaca buku I dan buku II, benar selalu ada hal-hal baik sekalipun dibalik sesuatu yang cenderung berkonotoasi negatif, seperti sihir misalnya. "Picatrix" ada enam buku, cuma nemu dua buku yang tersedia versi PDF dan bisa diunduh gratis (entah bagaimana awalnya sampai bisa menemukan link untuk mengunduh Picatrix, membacanya, kemudian riweh sendiri). Walaupun "Picatrix" dimulai dengan 'Basmalah' dan banyak menaruh catatan bahwa setiap sihir, upaya, hanya akan berhasil jika disetujui Tuhan untuk mewujud, tetapi di bagian lain ditekankan pentingnya menselaraskan diri dengan makro-kosmos untuk jaminan keberhasilan setiap usaha sihir. Sementara baginda Nabi SAW tegas melarang mengaitkan nasib, takdir, dengan bintang, kicau burung, dan hal-hal lain yang lebih tepat dianggap sebagai pertanda sebuah takdir dan nasib, bukan penentu takdir dan atau nasib. Bisa sekali aku yang awam dengan sihir salah, dan mungkin sekali Ghayat Al-Hakim benar, atau kami berdua...
Puncak Gunung Talang, Solok, Sumatera Barat (Mei 2015) Dalam kurun waktu dua puluh tahun, tidak banyak yang bisa aku pahami tentang ‘dunianya yang baru’, dunia yang ia bangun di dalam kepala dan perasaannya sendiri. Tanpa pintu masuk, hanya jendela yang sesekali ia buka kepada ‘dunia luar’ sejak tahun 2005 hingga berpulang di tahun 2025. Pembuluh darah vena di kedua kakinya tersumbat akibat minim aktivitas fisik. Puluhan literatur fiksi dan non-fiksi yang aku kumpulkan di era pra-AI hampir tidak membantu sama sekali. Kecuali satu, mereka yang memutuskan --sukarela atau dipaksa keadaan-- memasuki dunia tersebut, mungkin memang bukan untuk dipahami (ingin memahami karena diam-diam berharap kelak bisa kembali hidup ‘normal’ di dunia yang kita anggap ‘normal’), hanya butuh diterima, tanpa label, tanpa stigma, dan tanpa syarat. Mendiang guru mengaji yang berhati lembut menangkap kegelisahanku, menyempatkan diri berkunjung ke rumah menjenguk kakak. Kata beliau, “Kakakmu tidak sakit, ia ...
Hari itu rumah seorang kawan gempar, istrinya menemukan bekas gincu di celana dalam suaminya. Noda merah di atas katun putih menolak luntur, saat istrinya mengeluarkan kain bersih dari dalam tabung mesin cuci. “Aku minta diceraikan, atau aku yang menggugat cerai kalau kamu tidak mau. Selama mengurus perceraian, silakan tinggalkan rumah.” Katanya dingin kepada suaminya lewat telepon. “Apa pun keputusanmu saya terima, tetapi jelaskan dulu mengapa?” Jawab suaminya kebingungan di seberang telepon. “Kamu belum mau mengaku? Oh. Aku lupa, doktrin para suami, jika kedapatan berbuat salah, jangan akui di depan istrimu apa pun yang terjadi.” “Saya belum tahu salahku apa.” “Kalau ini terjadi sebelum kita menikah, sebelum terikat komitmen apa-apa, mungkin bisa aku terima dan maafkan. Bekas gincu di celana dalammu menunjukkan kalau aku dan kamu tidak lagi hidup di bumi yang sama.” Katanya lalu menutup telepon dengan pipi yang basah oleh air mata. Kami dan semua kerabatnya yang berusaha mendamaikan ...