Posts

Mulia dan Hina

Beberapa calon guru selalu menolak menerima murid baru dengan pesan penolakan yang hampir sama, kuatir si calon murid tidak kuat. Tidak kuat saat dihinakan dari manusia lain di dunia agar mulia di mata Tuhan. Memang berdarah-darah harga diri dan kesombongan saat dipaksa terkelupas, yang setelah tenang dijalani ternyata Tuhan sama sekali tidak menggunakan manusia lain atau sebuah kejadian sebagai penjegal hingga harga diri dan kesombongan terkelupas, karena masalah sebenarnya ada dalam diri kita masing-masing, bukan dari luar. Lawan kita bukan orang lain, memang selalu diri sendiri. Apa yang kita anggap hinaan setelah dipikir-pikir memang bukan sesuatu yang harus kita sombongkan, kenapa mesti merasa terhina. Sombong dengan sebab atau tanpa sebab tetap bukan pakaian mahluk. Apa yang selama ini kita gunakan untuk membangun harga diri ternyata memang bukan sesuatu yang berharga yang tidak dibawa mati.

Ibu Tua dan Lafaz "Allah" dan "Muhammad"

Writing Prompt, Latihan #65: Tulis sebuah artikel untuk blog pribadimu. Al kisah di sebuang kampung seorang ibu saat meninggal dunia aroma mayitnya yang wangi menyebar saat dimandikan. Setiap guyuran air yang digunakan kerabatnya untuk membasuh jenazah ikut jadi wangi, mengalir ke selokan dan gorong-gorong, me wangi udara satu kampung dimana almarhumah dulu menjalani hari tuanya. Pada hari ketiga takziah, mubaligh yang memberikan tauziah mengungkap kira-kira amalan apa yang membuat jasad mendiang mengeluarkan aroma wangi. Ibu yang tingal sebatang kara ini punya kebiasaan memeriksa keranjang sampah di jalan-jalan setiap pulang dari pasar, atau bepergian sebelum sampai ke rumahnya. M encari potongan undangan, kertas atau apa saja yang terdapat lafaz "Allah" atau "Muhammad" untuk disobek hingga tidak bisa terbaca lagi, lalu kembali kan ke tong sampah. Bertahun-tahun kebiasaan kecil dan nampak biasa dilakoni sang ibu, sampai suatu siang bertemu dengan sang ...

Alam dan Manusia #1

Di belahan bumi sana sekelompok manusia berang saat tumbuhan dan hewan diperlakukan semena-mena, di sebelahnya lagi manusia perlakukan manusia lain bagai hama. Manusia bisa lebih peduli pada lingkungan karena reaksi alam saat dirusak nyata dirasakan kembali oleh manusia berupa cuaca ekstrim dan lain-lain, bagaimana dengan sekelompok manusia di beberapa negeri yang perlakukan manusia lain seperti hama pengganggu. Apa hukum alamnya, bagaimana mekanisme Sunnatullah bila atas nama peradaban malah berlaku biadab? Entah mana yang lebih sulit memahami diri sendiri atau memahami manusia lain. Dalam skala kecil pernah mengalami betapa sulit memanusiakan diri sendiri sambil memanusiakan sesama manusia. Beberapa manusia memang ada yang sebebal batu, metafora penghuni neraka di kitab suci disebut bahan bakarnya manusia dan batu. Namun kebebalan orang lain tetap bukan pembenaran perlakukan manusia sebagai hama perusak peradaban, juga bukan pembenaran menghukum penuh amarah mereka yang perlakukan ...

Proses

Sekian tahun berniat menulis, baru setahun terakhir benar-benar prioritaskan menulis jadi kegiatan utama, yang paling banyak menyita waktu dan sumber daya lainnya. Seminggu terakhir ini kemajuan tulisanku cuma separagraf, mungkin ini yang disebut 'tembok penulis'. Setelah mencoba beberapa trik dan tips dari penulis berpengalaman, masih belum berhasil kembali menulis sehari 3000 sampai 6000 kata. Setelah membuang visualisasi kebuntuan sebagai tembok, ada gambar baru, leher botol. Leher botol masih bisa dilalui bila sumbatnya terbuka, tembok hanya bisa dilalui dengan dipanjat, dilompati atau dirubuhkan. Leher botol memberi gambaran bahwa masalah terbesar penulis ada di dalam diri sendiri, tembok seolah mengambing hitam faktor eksternal. Menjelang akhir bagian pertama dari dua bagian yang kurencanakan, mendadak ingatan jadi lebih tajam dari sebelumnya. Beragam hikmah dan pengalaman yang belum tertulis seolah sadar, kalau tidak dimasukkan sekarang maka mereka bisa tidak tertuli...

Elok-elok Apak, Ibu

Image
Ikut berduka untuk Eri, pendaki yang meninggal dunia di puncak Garuda gunung Merapi. Foto keluarga sebelum turun gunung Talang, 17-05-2015 Akhirnya naik gunung tanpa menyalahi janji ke tata’ Mukding 15 tahun lalu, mau naik lagi kalau bawa istri atau anakku. Bukan gunung Bawakaraeng yang kudaki, tapi gunung Talang di Solok Sumatera Barat. Ikut rombongan tetangga dan teman-teman ponakan di Padang 17 orang, paling tua sendiri, cuma seorang yang sepantaran kelahiran tahun 76, si Bongki. Dua jam naik sepeda motor kecepatan 60-80 kmj dari Padang sampai ke jalur pendakian via dusun Air Batumbuak di Solok. Jalan Padang-Solok-Jambi sudah banyak berubah ketimbang tahun ‘96. Tikungan diperlebar plat beton, di beberapa tikungan sudah ada lampu jalan dengan sel surya. 100 meter dari gerbang, melapor, bayar retribusi, biaya parkir dan penitipan helem, sambung jalan kaki sekitar 1-2 kilometer ke camp ground sebelum memulai pendakian. Sejak melapor, pendaki sudah bisa membaca spa...

3 Induk Pengasih dan 1 Ayah Pengayom

Sebelum pulang kampung saat SMA Kelas I, sudah tahu ada konsep “Tiga Berpilin Jadi Satu” di Minangkabau dari buku “Alam Terkembang Jadi Guru” (A.A. Navis). Akhirnya melihat sendiri bagaimana penerapannya dan terkagum-kagum. Umur segitu sedang semangat-semangatnya belajar berorganisasi di Makassar. Tiga kaki, kokoh dan stabil saling sokong menyokong membangun peradaban masyarakat dan peradaban tiga komponen lembaga masyarakat itu sendiri. Tahun 1989 kuanggap masa keemasan penerapan konsep cerdik pandai - alim ulama - penghulu. Masjid Qura’ Batang Gadih masih berupa Langgar berdinding kayu. Sebagian teras masjid berada di atas sungai. Almarhum Buya sesekali mengajak berjama’ah ke sana. Dikenalkan pada mereka yang suka berlama-lama di masjid, bergelar adat mirip satu sama lain, kalau bukan Pakih (dari kata Pak Kiai), mesti Katik (dari kata Khatib). Sempat diajak mendengar almarhum Buya bersama-sama penghulu adat, kaum terdidik, bermusyawarah menyelesaikan masalah-masalah kes...

Kacang dan Kulit harus saling Melupakan **

** terinspirasi judul tauziah pagi ini Seolah buah tumbuh karena pohon, padahal pohon diciptakan tumbuh demi buah ~ Matsnawi, Rumi Dalam konteks etiket, pepatah kacang lupa kulit gambaran sifat tidak tahu berterima kasih. Setelah adab kepada sesama ciptaan antara kulit dan kacang, teruskan ke adab antara ciptaan dan Pencipta. Kacang dan kulit sekedar menjalani ketentuan-Nya, atau si Kacang bisa terjebak mengkultuskan kulit, dan si kulit merasa diri sebagai penyebab keberadaan kacang. Ketika kacang berterima kasih kepada kulit, kacang berterima kasih kepada sesama ciptaan Tuhan yang saling bersinergi wujudkan ketentuan-Nya. Kulit ketika menerima kasih dari kacang, buru-buru mengembalikan kasih kepada-Nya sebelum dalam dirinya tumbuh perasaan menjadi sebab terjadinya sesuatu.