Posts

Terima Kasih

Image
"Kembang Belukar" Malino, Gowa 2012 " Jangan risaukan perihal yang tidak bisa lagi kamu pikirkan, boleh jadi itu pertanda Tuhan sedang mengaturnya untukmu. " Lupa teks asli dari perkataan Ibn Arabi di atas, konteks yang bisa kutangkap seperti itulah kira-kira. Perkataaan tersebut ditujukan Ibn Arabi untuk mereka yang sedang berjalan di "jalan yang semoga jalan-Nya" dan sesekali masih kuatir dengan apa yang telah ditinggalkannya sebelum mulai berjalan dan terkadang masih digoda ragu apakah jalan yang dipilihnya benar akan mengantar ke tujuan. Bila tidak berhati-hati memaknai, kalimat Ibn Arabi tadi bisa menjebak. Terjebak kegeeran kemudian malas menuntaskan hingga batas kemampuan mahluk karena merasa pantas diaturkan Tuhan urusannya, sekaligus terjebak merasa tidak pantas dibantu Tuhan atau berputus asa dengan janji dan rahmat-Nya. Meski "jebakan" manapun yang termakan oleh kita, keduanya masih berada di atas jalan yang semoga me...

Hakim

Selain menggantikan fungsi malaikat pencatat amal kebajikan dan keburukan, minggu-minggu belakang dan ke depan nampaknya beberapa admin akun sosial media makin banyak yang menjadi hakim, penyidik, penuntut, dan pembela sekaligus. Beragam vonis dijatuhkan, tuduhan didakwakan, hingga ke wilayah aqidah dan keimanan, yang notabene privat dan personal untuk tiap-tiap orang dengan Tuhan. Iman dan akidah dibawa ke titik terendah agar bisa terukur dan dihakimi, menilai kemasannya dan dari apa yang nampak. Media sosial memang ladang kesuburan yang menawarkan potensi merusak dan potensi membaikkan sama besar. Nyaris tanpa batas, seperti televisi, subuh teduh kuliah subuh lalu mengikut matahari yang menghangat, ikut panas kuping dengan gunjingan aib orang. Dari kotak yang sama, atau dari akun yang sama, atau dari akun yang berbeda tapi admin yang sama. Masalahnya pemred televisi berbeda dengan admin akun sosial media, yang mengurusi aib orang dan mengurusi kuliah subuh produsernya beda. Akun s...

A Beautiful Mess**

** inspired when heard same song title from Jason Mraz Akhirnya tadi sore bisa seangkot dengan anak 'seribu wajah', duduk bersampingan. Bertemu kali pertama beda angkot, saya hanya bisa mengamati dari jauh. Kemeja lengan panjang terkancing hingga ujung kerah, bersepatu boot karet, tas selempang menyilang di bahu, bertopi hijau dan tidak pernah kehilangan senyum. Selalu minta duduk di depan samping pak supir. Berkah untuk angkot yang dipilihnya, penumpang tidak lama menunggu angkot penuh. Klakson dipencet-pencet berulang kali seolah mendesak kenek agar bekerja lebih gesit mencari penumpang, angkot harus segera berangkat. Tidak ada yang marah, malah tertawa bareng, seangkot, seterminal terlihat amat sayang padanya. Sering disusupi haru bila melihat anak 'seribu wajah'. Bagai menatap 'wajah Tuhan' kataku, bagai diserbu keharuan yang sama ketika berdo'a atau bersimpuh sujud. Wajah mereka seperti bayi, pikirannya tidak disusupi kecenderungan...

Her

Kemarin unduh "Her", film tahun 2013. Settingnya agak absurd, Theodore jatuh cinta pada operating system komputernya, Samantha , punya kecerdasan virtual, bisa belajar, punya emosi, dan keinginan. Bila tidak terfokus ke absurdnya hubungan antara manusia dengan 'mesin', ada banyak 'pesan' yang coba disampaikan film ini. Salah satunya, adegan Samantha mengakui selain dengan Theodore yang membeli OS dan menginstall, dia juga menjalin cinta dengan 641 orang dan OS lain. Theodore patah hati. Rupanya Theodore belum pernah dengar joke  lawas tentang OS Win 3.1, nice graphical user interface, multi-task, multi-media, but multi-user too. Rasanya bukan joke tadi maksud film tersebut dengan Samantha yang menjalin cinta total 642 termasuk Theodore, tapi masih bisa setia dengan masing-masing mereka. Biar masuk akal kenapa bisa menjalin 642 cinta bersamaan. Setidaknya dalam PC yang mengoperasikan OS Samantha, ada 10 inti processor dengan 64 bit instruksi bersamaan. 1...

Beberapa Riwaya Hidup Ibn Arabi yang Mengesankan

Awal kenapa mencari sebanyak mungkin literatur tentang beliau yang bisa ditemukan di internet, setelah tak sengaja memasukkan namanya dalam dialog di salah satu karangan fiksi, ketika seorang istri yang kolektor buku filsafat (salah satu karya Ibn Arabi yang pernah kubaca sekilas kukategorikan buku filsafat) bergurau dengan suaminya yang kolektor buku sastra. Tadinya ada dialog seperti ini: Istri: "Sastrawan bisa dikategorikan filsuf, tapi KW. Ketidakmampuannya mencapai kebenaran hakiki tertolong oleh kemampuannya merangkai indah kata-kata." Suami: "Filsuf sebenarnya kepingin jadi penyair, tapi gagal. Belum bisa menyampaikan kebenaran dalam bahasa yang bisa dipahami oleh bunga yang mekar dan hangatnya matahari pagi. Kata-katanya kuncup, tidak mekar mewangi." Terima kasih Tuhan, ternyata dalam diri tiap manusia sudah ada "auto correct". Ketika menulis filsuf sebenarnya kepingin menjadi penyair, ingatan menegur. Al Ghazali banyak menulis syair indah,...

Oleh-oleh Jum'atan Kemarin: Ikhlas

Jarang kepingin posting perihal 'beragama' secara tekstual, lebih baik berhati-hati jangan sampai teks, konteks hingga aktualnya jalan sendiri-sendiri, beda kata, maksud dan laku. Selain rasanya kita sudah kebanyakan teks dan konteks, kekurangan pelakon 'dakwah bil hal' di 'panggung', yang sembunyi-sembunyi masih banyak. Tapi karena ceramah Jum'at khatib kemarin memang bagus jadi tidak tahan untuk berbagi, isinya tentang ikhlas. Beberapa garis besar yang bisa terpungut: Ibadah yang ikhlas walau sedikit tapi teratur, lebih baik dari pada ibadah yang banyak tapi tanpa hati dan karena harap pujian, sebutan, julukan dan mungkin juga karena harap pahala (mestinya harap ridha?); Ikhlas hanya bisa dicapai bila dari niat hingga tata cara sudah benar. Tidak ada kejadian yang berdiri sendiri. Usai khatib ceramah, saat shalat dimulai jama'ah, ada kejadian yang masih satu konteks. Imam jumatan bacaan tajwidnya sendu. Beberapa jama'ah terbawa dengan lantutan ...

Demokrasi Ayam Hitam **

Bila berkesempatan berada di TPS di Makassar tanggal 9 April nanti, saya tidak golput versi ke TPS membatalkan kertas suara atau versi tidur di rumah. Saya mau memilih ala Demokrasi Ayam Hitam, kearifan lokal suku Kajang Dalam di Bulukumba. Tahun 1995, seorang kawan seangkatan di FT Arsitektur mengundurkan diri dari kampus, karena terpilih menjadi Lurah di Kajang Dalam, usianya baru 19-20 tahun. Lurah di suku Kajang Dalam tidak setara dengan "Ammatoa" pimpinan suku. Lurah di sana hanya berfungsi administratif. Seorang Lurah hanya bisa terangkat bila sudah disetujui oleh Ammatoa. Banyak cerita 'mistis' tentang suku Kajang Dalam, ada ayah seorang kawan tahun 1990 harus ke sana mengambil foto semua kepala keluarga untuk di data kemudian dibuatkan KTP gratis, biayanya ditanggung pemkab. Berbekal surat dari Lurah dia berkeliling perkampungan dari rumah ke rumah mengambil foto. Negatif dari dua kamera yang dibawa saat dicuci, gambarnya kosong, seperti memotret matahari,...