Posts

Demokrasi Sudah Berjalan

Pagi tadi baru nyadar. Bila demokrasi adalah upaya keterwakilan (amanat dan harapan) rakyat pada para wakilnya (eksekutif dan legislatif) yang dipilih sendiri lewat pemilihan umum. Maka karakter sebagian besar rakyat suatu negeri bisa terlihat dengan melihat karakter 'pemimpin' yang mereka pilih. Lewat demokrasi kita jadi tahu ujung proyeksi keinginan rakyat banyak setelah mengerucut lewat pemilu. Kalau masuk ke kampung-kampung yang dipenuhi hamparan sawah menguning, udara pegunungan yang sejuk, orang-orang bersahaja, jujur, nalar dan logika yang lurus, lempeng. Masjid yang selalu dipenuhi jamaah. Banyakan yang tidak sinkron, antara karakter yang memilih dengan yang terpilih. Mestinya dengan demokrasi, negeri ini sudah lama beroleh pemimpin sebagaimana karakter rakyat  pedesaan tadi. Tapi kok belum-belum juga? Tidak tega melirik kenyataan, pemimpin ya cerminan rakyat yang memilih. Coba cari-cari dalih, mungkin sistemnya yang tidak beres. Mulai dari proses "mengukur di...

Bintang Jatuh

"Bintang itu kok jatuh Kek?" "Bukan jatuh, lagi kejar penguping rahasia langit." "Kenapa langit mesti berahasia?" "Tidak ada rahasia, bila kau sendiri sudah rahasia." "Bingung.. Masuk ah, embun mulai turun." "Tidurlah duluan, mintakan kopi panas untukku pada nenekmu.." bunga api berlompatan dari kretek kulit jagung bintang jatuh di ujung bibirnya ***

Malam Mulia

Image
Seperti biasa, pada sepertiga malam sebelum subuh, malaikat turun ke bumi. Khusus untuk menjemput harapan dan doa kita, para manusia. Harapan dan doa-doa yang baik, turut mereka amini, semoga dikabulkan Tuhan. Di paruh ketiga ramadan, entah bagaimana sibuknya mereka, andai dalam bekerja memiliki keterbatasan manusia juga keruwetan pertimbangan. Tidak akan selesai mengumpulkan "gumpalan awan harapan" yang melayang-layang di atas kepala manusia hingga matahari terik. Manusia berbondong-bondong mencari malam mulia dimana harapan dan doa mudah dikabulkan Tuhan, malam yang tersembunyi diantara malam sepuluh akhir ramadan. Malam yang dijanjikan Tuhan penuh ampunan dan kasih sayang-Nya. *** Di suatu kota, pada sepuluh hari terakhir ramadan, malaikat tidak begitu sibuk, pekerjaan mereka cepat tuntas. Biasanya nanti setelah fajar mereka baru akan kembali ke langit. Dari tepi laut mereka menanti fajar. "Tahun depan apa masih ada harapan dan doa yang perlu kita ami...

Salah Kalau Menganggap Orang Kampung Itu Bodoh-Bodoh

Tentu mereka akan nampak "bodoh", bila kita memakai kacamata "orang kota". Kacamata yang berfilter angka-angka statistik. Angka jumlah sarjana, angka pendapatan perkapita, angka keluarga sejahtera, angka jumlah pemilih dan angka-angka lain. Kalau dibalik, bagaimana bila mereka yang memandang orang kota? Entah filternya apa, yang jelas mereka tidak akan semudah kita "mengkonversi" manusia menjadi angka. Hampir semua kampung (dan beberapa pulau) di Indonesia yang sempat aku singgahi miliki kearifan yang sama. Kesederhanaan yang lahir dari kebersahajaan dan kejernihan hati. Mengenal cukup dari syukur dan sabar. Logika, nalar dan filsafat mereka mumpuni. Mungkin karena "induk ilmu pengetahuan" itu homogen dengan hati dan pikiran yang jernih. Tentang politik? Mereka tidak sebodoh yang dipikir oleh (sebagian) politikus di kota. Baru sekali nongkrong di lapau (warung kopi kecil) depan surau, nguping pembicaraan para petani, sopir angkot dan pare...

Oh Maha..

tangis bapak tua padamkan tungku perapian turun ke jalan Sudah lewat tengah malam, debu-debu beterbangan di jalan. Kota ini tidak pernah tidur, pepohonan masih gugurkan dedaunan. melangkah bapak tua membelah hujan mengadu rindu Membaca denyut jantung tiap perkara. Pada akhirnya, jantung hati lampaui segala ihwal. dalam deras hujan pemuda menyapa oh bapak, istirahatlah biar kutuntaskan rindumu Hidup terus bergulir melalui ruang-ruang dingin. Sesekali bulir air berkunjung di musim panas, datang dengan keping kenangan. *inspired when i heard "Omaha" from Counting Crows and big bee around my lamp..

Boleh Titip Do'a?

Kepada para "pejuang" lailatul qadar, titip do'a untuk perdamaian di belahan dunia manapun yang kini sedang bergolak. Mesir, Suriah, Syiria, Palestina, Sampang dan semua tempat di muka bumi yang sedang konflik sampai bunuh-bunuhan, beberapa mengatas namakan Tuhan, dan daerah yang tertimpa bencana, kelaparan, kemiskinan, utamanya disekitar kita. Banyak keadaan yang bisa diubah, tapi lebih banyak lagi pembiaran tak turun tangan walau kejadiannya di depan mata. Mungkin naif bila berharap di seluruh belahan bumi bisa tercipta perdamaian dan semua mahluk berbahagia. Sama naif nya bila inginkan perdamaian tapi tidak melakukan apa-apa, walau sekedar memanjatkan do'a. Seperti naifnya berharap kelimpahan kemuliaan seribu bulan, sementara dalam rumah sendiri, kita belum pandai memuliakan kedua orang tua, sanak saudara dan tetangga. Hanya berharap, ramadan yang kudus, sendu dan syahdu, seperti "wangi" yang sesekali terbawa angin dari surau dekat rum...

Nguping tausiah lagi: "Jalan ke Sorga" **

Image
**nama Uztasnya kelewatan, belum duduk manis dalam kamar, ceramahnya sudah mulai.. Suatu hari di pasar Padang Panjang, seorang kakek yang baru datang dari Jakarta mulai lupa naik angkutan umum apa untuk sampai ke Bukittinggi. Dicari-carinya orang tempat bertanya. Tidak ada polisi tidak ada petugas. Bukan hari pasar, terminal sepi siang itu. Di kejauhan dilihatnya seorang anak kecil pedagang asongan kerupuk jangek (kerupuk dari kulit sapi). Anak ini tentu tahu angkutan umum mana yang harus aku naiki, dia mengenal terminal dengan baik, tempatnya berjualan sehari-hari, pikir si kakek. "Nak, tahu jalan untuk sampai ke Bukittinggi? Naik bis apa?" "Mobil merah 'tuk (atuk; kakek) colt atau kijang, sebentar lagi usai Duhur banyak yang masuk.." "Terima kasih Nak.. Sebagai ucapan terima kasih, mau kau kuajarkan suatu hal?" "Apa itu Atuk?" "Kuberitahu kau jalan ke sorga.." "Atuk ini ada-ada saja, jalan ke Bukittinggi saja Atuk...