Wednesday, October 15, 2014

Oleh-Oleh #1: Perantau

Kemarin di kota Padang, sempat survey pandangan mata 2 hari, ceritanya diminta jadi mentor salah satu ponakan oleh ibunya yang mau memulai wirausaha. Sekalian menyindir halus, saya yang belum menetap di satu bidang usaha dan tempat :D

Karena pengalaman pernah ikut jadi penggembira waktu perancangan master plan kota Palu, cara berpikir melihat kota Padang pakai kaca mata itu. Melihat zonasasi, melihat bentukan-bentukan zona baru dari perpotongan dua atau lebih zona, pergeseran pertumbuhan kota karena isu potensi megatrust, potensi sumber daya alam, potensi sumber daya manusia, infrastruktur, budaya dan lain-lain.

Dalam dua hari, tentu baru bisa memandang kota Padang sebagai pendatang. Ikatan emosional baru datang dari gen, bukan pengalaman eksplorasi dan berbaur. Mau memandang diri sebagai putera daerah juga, agak mengganjal meski ayah ibu asli Minang. Lahir besar di Makassar, selanjutnya nomaden. Menyebut diri perantau juga tidak pas.

Hari terakhir survey, berakhir di kafe kampusnya. Kepikiran dari dua hari jalan, apa potensi kota Padang? Salah satu potensi Sumatera Barat (dan semua daerah lain di Indonesia sebenarnya) adalah putera(i) daerahnya yang merantau.

Budaya Merantau Orang Minang

Melihat sendiri sedikit proses bagaimana adik laki-laki ibu dipersiapkan sebelum mulai merantau, dibekali silat 1-2 jurus, sampai hujanan pantun nasehat seperti; di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Sesuai kebiasaan di kampung Kakek, setelah akil balik anak laki-laki tidak boleh lagi tinggal bersama orang tua, harus keluar dari rumah. Biasanya sebelum merantau, si lajang harus hidup beberapa bulan di surau atau mesjid sampai mendapat jalan untuk keluar dari tanah kelahiran.

Dari sejarah masa silam perang Paderi hingga berdamainya tuanku Imam Bonjol dengan kaum adat, warna Islam yang dibawa para perantau dari Minang juga khas, lebih plural tidak radikal. Mirip kisah tuanku Imam Bonjol yang meminta tuanku Tambusai agar berangkat ke tanah Arab menyelidiki faham Wahabi yang cenderung kaku dan mulai masuk ke nusantara ketika itu.

Kebiasaan "merantau" mirip perkataan Ali bin Abu Thalib R.A. "Belum laki-laki seseorang bila belum meninggalkan tanah kelahirannya selama tiga tahun."

Bila seorang perantau benar-benar dipersiapkan, manfaatnya bukan hanya dirasakan saat dia mudik dan berbagi ilmu juga keberhasilannya, lebih utama lagi, kebaikan yang bisa ia sebarkan di perantauan. Negeri Cina bisa semaju sekarang, salah satu karena para perantaunya yang tersebar ke seluruh pelosok dunia.

Dan perantau yang baik lagi membaikkan biasanya datang dari induak dan lingkungan kampuang halaman yang juga baik.

Takana jo kampuang
Induak, ayah, adiak sadonyo
Raso maimbau-imbau den pulang
Den takana jo kampuang


Bagaimana cara urang awak sekarang persiapkan anak bujangnya sebelum merantau, saya belum punya datanya.