Friday, August 8, 2014

Kuatir

"Engkau lebih membutuhkan maaf dan kesabaran Allah ketika engkau berbuat taat, melebihi kebutuhanmu ketika engkau berbuat maksiat." Hikmah ke 143 ~ Al-Hikam
Secara keseluruhan khutbah Jum'at tadi bagus, tentang kemana mestinya meminta maaf untuk setiap kesalahan. Bila kesalahannya vertikal, maka bisa langsung memohon ampunan pada Allah, bila kesalahan kita ada pada hubungan horizontal antar sesama manusia dan mahluk, ampunan Allah tergantung maaf dari mahluk lain yang kita sakiti. Bila tidak dimaafkan, maka amalan baik yang menyakiti akan ditambahkan kepada yang disakitinya, bila perlu juga dosa yang disakiti dipindahkan pada yang menyakiti, hingga timbangannya adil.

Ibadah formal yang sempurna, seperti shalat, puasa, zakat dan haji bisa tertunda hisab bahkan terkali nol oleh beberapa sebab, sambung khatib. Di antaranya mencaci orang tanpa sempat meminta maaf, memakan harta orang lain dengan cara-cara terlarang. Khatibnya semangat sekali.

Koruptor jangan besar kepala dengan ke-Maha Pemurah dan Penyayang-Nya, bila beranggapan tawaf, sedekah, infaq dan ibadah baik lainnya bisa menutupi kesalahan akibat korupsi bila belum dimaafkan oleh kurang lebih 270 juta rakyat Indonesia yang dicuri haknya.

Mungkin terlalu semangat menyampaikan kebenaran, khatib jadi keseleo mencela penceramah lain yang berkesempatan menyuarakan 'kebenaran' seperti yang dilakukannya. Berbicara dari panggung dan gaung lebih besar namun tidak selugas yang diharapkannya.

Padahal tanpa merendahkan, kebenaran tidak berkurang benarnya, dan dengan menghina kebenaran tidak menjadi lebih benar.

Merasa telah benar cenderung mengabaikan koreksi dan merasa bersalah membuat lebih berhati-hati.