Thursday, July 24, 2014

Siang Seribu Bulan

Saya memaknai Laitaul Qadr dengan definisi pribadi, sebagai suatu hari yang penuh hikmah di bulan ramadan. Hikmah yang tidak habis untuk dituturkan hingga beribu-ribu bulan sesudahnya. Toh dengan definisi 'nyeleneh' rasanya baru dua ramadan dalam hidupku yang siangnya beribu bulan.

Pertama, beberapa tahun silam, suatu siang di Palu. Sedang menambal ban sepeda motor, melintas bapak tua pemulung kayu bongkaran bangunan, jalan nyeker di aspal panas tengah hari bolong. Waktu kutawarkan sendal yang kupakai, dia bilang untuk sendal bekas seperti punyaku dia ada duit kok untuk beli, berapa harganya? Tetap kupaksa supaya mengambil gratis sendalku, akhirnya bapak itu mau. Nanti setelah membeli sendal baru di toko samping tempatku menambal ban baru kusadari. Mestinya dia kubelikan sendal baru, bukan sendal bekas yang sudah mulai butut. Bapak itu mengajarkan aku tentang cara berbagi seperti sunnah Nabi SAW, berilah yang terbaik dari yang paling kau sukai.

***

Siang beribu bulan kedua, tadi dalam mobil travel yang mengantarku dari bandara Minangkabau ke kampung Ibu di Tanah Datar. Perjalanan mudik ini tidak direncanakan, seperti perjalanan lainnya yang tidak disusun jauh-jauh hari sebelumnya, selalu menyimpan kejutan, karena itu kuiyakan saja meski harus tidak tidur dari Bandung biar bisa tiba subuh di Cengkareng tanpa terjebak macet di Cipularang, terjaga sampai boarding pukul 8 pagi. Di pesawat juga tidak tidur, menonton film unduh pakai hotspot bandara. Torrent film The Fault in Our Stars 700an MB selesai 30 menit, lajunya 1,4 Mbps.

Antri ambil boarding, pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan tidak biasa. Empat orang laki-laki mengamuk, salah seorang memukul meja entah tentang apa di desk informasi, kuperhatikan mirip SOP demo mahasiswa, satu berdialog 2 dua mengompori, satu distorsi teriak-teriak. Di meja lain seorang ibu teriak kenapa pesawatnya delay. Seperti bukan bulan puasa. Konsekuensi layanan penerbangan murah mestinya bisa dimaklumi, apalagi bagi yang berpuasa.

Keluar dari pintu kedatangan bandara Minangkabau, diserbu supir travel, kuabaikan cari tempat meluruskan kaki, maksudnya mau menimbang-nimbang apa perlu mengambil fasilitas musafir, berbuka dan minum kopi. Keburu ditawari oleh seorang sopir, saya antar sampai depan rumah dengan tarif tuslah, jadi dan batal berbuka.

Saya duduk di depan samping pak sopir, di belakangku ibu sepuh dan seorang ibu muda anaknya, baru pulang dari menjenguk anaknya yang lain di Kelantan Malaysia, mereka menuju Bukiktinggi. Ibu sepuh mulai bertutur..

Usianya 83 tahun dengan artikulasi yang jelas mulai berkisah, bahwa dia dulu pernah mengalami masa jaya harta berlimpah, sekarang hari-hari tuanya dia habiskan dengan bersyukur, dengan menyambung tali silaturrahim. Dia istri ketiga dari empat istri seorang laki-laki. Di jamannya laki-laki begitu pandai mengambil hati perempuan, hingga dia bahagia meski dimadu. Kupalingkan wajah menatap matanya yang teduh, Amak itu tidak berbohong, dia memang bahagia.

Dia berkisah dari peristiwa di Gaza, pesawat MH370, MH17 hingga demokrasi yang dirasakannya agak kelepasan, gara-gara menonton saat presiden memberikan pernyataan soal MH17 ditimpali oleh nara sumber dengan bahasa yang menurutnya tidak sopan bila ditujukan pada seorang presiden. Ah, coba saya duduk di belakang, saya bisa leluasa menatap mata dan mencuri pengalaman hidupnya.

Bapak sopir yang memulai bicara tentang mudik sesungguhnya, berpulang ke Pencipta. Sejak tiga tahun lalu dia sebatang kara, ayah ibunya sudah duluan. Kini dia dengan anak istrinya. Yang tadinya menjadi pemudik, kini merasakan menjadi tujuan mudik anak-anaknya yang juga perantau.

Amak sepuh menyambung, saya tiga bulan lalu baru kehilangan cucu kesayangan, anak putri saya ini sambil menoleh ke ibu muda di sampingnya yang sudah berkaca-kaca. Cucunya masih muda, baru 21 tahun, tadinya kuliah di Universitas Pancasila Jakarta. Tiga bulan 25 hari yang lalu, hari Rabu meminta dikirimkan uang untuk pulang kampung. Oleh ibunya ditanyakan kenapa minta pulang, kan sementara ujian? Kata mendiang anaknya, 3 hari ini dia tidak ada ujian dan rindu pulang.

Setiba di rumah, mendiang mengeluh demam dan minta dipijat kepalanya sambil berbaring di pangkuan ayahnya. "Ibu, tata cara shalat taubat itu bagaimana?" tanya mendiang. Ayahnya menimpali, dosa apa nak sampai merasa perlu meminta ampunan? Tidak ada dosa apa-apa ayah, anakmu tau menjaga diri, hanya merasa berdosa shalat wajib sejak kuliah di Jakarta mulai bolong-bolong, mulai terlambat. Oleh ibunya diajarkanlah tata cara sekenanya, setahunya karena tidak menduga anak kesayangannya sedang menyiapkan kepulangan yang sesungguhnya.

Hari Kamis, mendiang masih sehat. Jum'at dini hari usai tahajud, mendiang berbaring di pangkuan ayahnya, menutup mata, tertidur kemudian berpulang.

Amak sepuh merogoh tas tas tangannya, mengeluarkan sesuatu, buku yasinan. "Lihatlah, gambar cucuku di sampul buku yasinan ini, kalau kau masih bujang mesti tertarik dengan wajahnya." Subhanallah, memang iya.. "Buku ini yang mencetak bukan kami, tapi kawan-kawan kuliahnya di Jakarta."

***

Beberapa perjalanan memang harus dipersiapkan sebaik mungkin, kalaupun sempat lalai, semoga kita termasuk yang dipaksa siap, seperti mendiang cucu kesayangan mak Wo tadi..