Saturday, March 1, 2014

Karakter

Pikiran menjadi kata-kata, kata-kata menjadi tindakan, tindakan menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi karakter, dan karakter membentuk nasib. ~ Pepatah Kuno

Ada dalam dialog Margareth Tatcher di film "Iron Lady", adegan sesudah mengundurkan diri dari jabatan PM, mulai sepuh dan sering berhalusinasi tentang mendiang suaminya.

"Tahukah pikiranku seperti apa? Pikiranku menjadi kata-kata, kata-kataku menjadi tindakan, tindakanku menjadi kebiasaan, kebiasaanku menjadi karakter, dan karakterku ikut membentuk nasib Inggris Raya, jadi lebih baik dari sebelumnya."

Saat didesak dokter agar bisa membedakan mana yang ilusi dan mana yang kenyataan, dagunya terangkat tegak, intonasi dan artikulasinya bertenaga, dokter yang menasehatinya malah kena semprot ala Perdana Menteri (lagi PMS :D ).

***

Kepingin bisa mengurai hasil pengamatan langsung pada beberapa orang 'berkarakter baik' yang kukenal dekat dan sudah lebih dulu berpulang. Siapa tahu bisa diduplikasi, hingga nasib bangsa ini terbentuk dari karakter-karakter baik.

Ada 'paradoks' yang sama pada mereka dengan hasil survei; negara mana yang paling 'islami' nilai-nilai dalam bernegara dan bermasyarakat (islami bisa diganti dengan agama manapun yang juga mengajarkan kebaikan, pada diri sendiri, sesama, mahluk lain dan lingkungan sekitar). Hasil surveinya menempatkan negara-negara yang bukan mayoritas muslim di urutan teratas. Indonesia dan Arab Saudi jauh di bawah, di luar 100 besar. Saya lupa linknya, kalau di gugling mesti ada.

Bila karakter-karakter indah seperti; sportif, jujur, menepati janji, empati dan bertanggung jawab, begitu kental ada pada para mendiang (yang malah sering dilabeli ahli maksiat sebelum mereka insaf), maka orang-orang 'beragama' dan 'ahli ibadah' capaiannya mestinya harus melewati 'langit', maka memiliki karakter-karakter baik seperti di atas, adalah 'perkara remeh' yang bisa dicapai oleh seseorang yang beragama, yang juga seorang warga negara dan atau penyelenggara negara.

Tarik garis ah. Sebelum postingannya campur aduk, antara karakter yang bisa dibangun dengan nilai yang lebih universal seperti etika/ moral, dengan karakter yang terbangun 'akibat' ketekunan beribadah formal. Disebut 'akibat', karena tujuan beribadah bukan pembentukan karakter.

Berkarakter baik hanya 'efek samping' dari ibadah yang benar. Bila benar ibadah kita, akan terangkum mulai dari karakter umum yang bisa dicapai oleh siapa saja (termasuk para mendiang semasa kelam) hingga mencapai karakter khusus, tentang adab, ketentraman rasa, memberi manfaat dan tulus menghamba. Wallahu'alam.

Bila karakter baik yang umum-umum saja gagal menjadi 'efek samping' ibadah-ibadah kita, berarti ada banyak yang harus dibenahi. Dan karakter bukan kemasan atau jubah, tapi jalan lurus lagi lapang antara pikiran, ucapan, tindakan dan kebiasaan.

***

Ada persamaan kedua mendiang yang kuanggap berkarakter jujur, setia kawan, sportif, amanah dan bertanggung jawab, keduanya tumbuh di lingkungan keluarga yang mendidik dengan keras, generasi disiplin ala 'sekolah Belanda'. Karakter-karakter baik tersebut juga ada pada orang-orang dekat mereka, pada orang-orang yang menanamkan nilai-nilai tersebut, ada contoh hidup dari nilai yang ingin mereka tanamkan.

Tapi tidak kaku. Mereka tetap usil bin jahil dan merdeka, nilai-nilai tersebut tidak nampak menjadi kerangkeng atau terbebani bila harus jujur dan lain-lain.

Kakak mendiang Om Ancung, contohnya. Jaman SMA lagi ngetop kantongi korek api 'Zippo', saya punya satu, hadiah ulang tahun dari seseorang. Sekali waktu main ke rumahnya, entah sok entah grogi, koreknya aku buka-tutup dengan bunyi lentingan khas. Tiba-tiba kakak mendiang menghampiri, "Bagusnya korek apimu An, liat dong. Ini asli, tapi bukan dari pabriknya di Bradford. Tunggu sebentar nah.." Dia kembali dengan satu tas koper kantor, isinya korek Zippo semua, dari spesial edition hingga yang dibawa langsung dari Bradford. Sejak itu kapok bunyikan korek Zippo kalau main ke rumahnya.

Satu cerita lagi (banyak sekali sebenarnya) tentang keusilan om Ancung. Ada satu om lain lagi, dari geng 60's ini, dia dari Tana Toraja, tinggal beberapa kilometer sebelum masuk kota Rantepao. Dulu, kalau ke rumahnya, pagi-pagi dia asyik duduk di teras depan rumah panggung, kakinya menopang bambu besar berisi tuak. Namanya om Lolo Baso. Sekali waktu om Lolo main ke Makassar dan mampir ke rumah om Ancung. Kakak om Ancung yang kolektor Zippo lagi di rumah, om Lolo dikenalkan om Ancung ke kakaknya sebagai cucu 'Pongtiku', pahlawan nasional dari Tana Toraja. Kakak mendiang yang sudah mulai nampak mata usilnya, bagaimana bagusnya mengusili teman Ancung yang ini, jadi surut. Sikapnya jadi hormat dan segan, seolah bertemu dengan pahlawan 'Pongtiku', langsung menelpon ayam goreng Sulawesi. Kami makan enak karena ada cucu 'Pongtiku'.

Uniknya karakter-karakter positif yang ada pada mereka, spartan ketika harus spartan dan cair ketika harus cair. Tidak seperti karakter yang tumbuh dari hasil dogma dan doktrinisasi.

***