Saturday, October 12, 2013

Korup Dari Mana?

Bila melacaknya dari bagaimana kedua orang tua seorang anak manusia bertemu, hingga proses bagaimana mereka "campur" kemudian melahirkan keturunan, mungkin kejauhan melacaknya. Dan seburuk apapun sifat dan karakter bawaan turunan berikut serapan dari lingkungan rumah dan kebiasaan yang membentuk karakternya, semua manusia masih punya sisi baik. Bila ada yang sudah tidak punya sedikitpun sisi baik, tentu bukan manusia lagi.

Kata imam Al-Ghazali (semoga tidak salah ingat): "Dorongan berbuat ingkar ketika pertama kali ditiupkan ke dalam tubuh manusia hanya sebesar nyamuk, dan saat kita berpulang sudah sebesar gajah."

Sistem yang baik juga bisa mencegah seseorang yang cenderung korup batal korupsi. Seperti teller di bank-bank, setiap hari mereka berurusan dengan uang banyak, katakanlah ada kecenderungan ingin mencuri, tapi sistem di lingkungan kerja mereka mampu mencegahnya.

Tidak ada sistem yang sempurna. Kita sama kreatifnya dalam mencari celah pada hal-hal baik maupun pada yang buruk. Saat celah ditutup (setelah ada yang manfaatkan atau belum), esok hari sudah mereka temukan celah baru, sengaja dicari atau kebetulan nemu.

Kebatilan yang berdisiplin tinggi, mampu mengalahkan kebaikan setengah hati dan tidak beraturan ~ Ali Bin Abu Thalib

Kesimpulan sementara: "Narapidana pencuri ternak kambuhan, tidak akan bisa mengulangi aksinya sekalipun dipekerjakan sebagai penjaga sapi di peternakan, bila sistem di peternakan tersebut tidak memungkinkan dia menggiring sapi tanpa ketahuan."

Bagaimana Bila Malingnya Regulator?
Belum punya bayangan sama sekali, bagaimana. Tidak mudah, Saya sendiri pernah korupsi saat menjadi regulator di organisasi (sekalipun) milik sendiri. Regulator posisinya di puncak, dan setiap posisi puncak akan kesulitan diawasi. Bayangkan bila untuk setiap pucuk, ada pucuk lain yang mengawasi, lalu dikemudian hari, pucuk yang mengawasi ternyata nyolong juga. Buat pucuk pengawas yang mengawasi pengawas, kapan habisnya?

.....