Monday, February 4, 2013

Cu Pek Tong

Gara-gara sempat ngetweet sekali tentang Cu Pek Tong, tadi subuh kebawa mimpi. Mendiang Oe Tiong Tie ngajak ketemuan minum kopi, di pabrik anggur tempat dia berkantor dulu. Sebelum dengan kesadaran sendiri pensiun dan meminta mitra kerjanya untuk menutup pabrik anggur lalu berganti bisnis lain yang lebih manfaat. Sempat pelukan, tapi terasa memeluk angin, rupanya aku tidur tidak pakai guling dan selimut.

***

Bagian Oe Tiong Tie ini rencananya mau aku masukin ke dalam novel yang sedang aku tulis, karena sosoknya yang inspiratif. Mendiang juga punya nama Indonesia, selain nama pemberian orang tua saat lahir. Kalau nama Cu Pek Tong (bocah tua nakal) itu nama kesayangan dari istri almarhum.

Banyak kesamaan antara tokoh Cu Pek Tong di film kung-fu dengan mendiang, utamanya sebelum berhaji. Sama-sama pemabuk, keduanya juga usil bin jahil, makanya Cu Pek Tong jadi panggilan kesayangan.

Mungkin karena Cu Pek Tong yang aku kenal hanya karakter fiktif di film kung-fu dan novel Kho Ping Ho sedangkan mendiang karakter yang aku akrabi langsung, aku merasa mendiang masih lebih jagoan daripada Cu Pek Tong.

Pertama: Cu Pek Tong, jurus terbaiknya hanya keluar saat mabuk. Mendiang, mabuk ya mabuk.

Sarungkan pedangmu, duduk dan nikmati tehmu - pepatah Zen. Mendiang sudah terapkan kesadaran akan kekinian. Mabuk ya mabuk, kelahi ya kelahi. Begitu pulang ke rumah atau ketangkap istri lagi mabuk-mabukan, tidak ada urusan berapa botol, pokoknya tegap dan langsung sadar.

Betapa cinta pada istri bisa mengusir pengaruh alkohol berbotol-botol.

Kedua: Cu Pek Tong, hanya mengambil satu murid, sedang almarhum berguru pada siapa saja. Kami yang dianggap anak-anaknya seringkali menjadi tempatnya bertanya, dari soal syariat yang makin intensif ingin beliau ketahui sebelum berhaji, sampai soal bagaimana menggunakan handphone.

Sudah ah.. Al-Fathihah..