Friday, December 12, 2008

Dan Kebodohanku Pun Kuakhiri

Bila engkau berhadapan dengan pilihan yang sulit, Bismillah saja! Lalu ambil satu pilihan, dan percayalah kau akan tetap salah pilih. Nasehat seorang kawan.

Nasehat yang aneh bila kita tidak renungkan. Pesan tersirat yang coba disampaikan oleh seorang sahabat itu adalah bahwa tidak ada pilihan yang sempurna, soal apapun itu! Pekerjaan, pasangan hidup, beli rumah dan lain-lain. Yang manapun menjadi pilihan kita disitu ada sisi yang kita tidak sukai, sama seperti diri kita juga yang tidak mungkin sempurna.

Dua hari yang lalu aku suntuk di rumah lalu mampir di sebuah kafe baru di pinggir pantai Losari, "ballezza" namanya, interiornya bagus hasil kerja profesional. Makassar sejak aku datang sampai hari ini hujan terus, romantis banget. Aku sendirian aja jadi milih meja kecil di teras luarnya yang menghadap langsung ke laut. Lumayan mahal menunya 4-5 kali dari menu yang ada di kantin kampus UNTAD di Palu, dua orang pramusaji nungguin aku mesan berdiri sabar di sampingku, menu fave, cappucino panas + french fries. Aku merasa terganggu dengan mereka, karena aku dah pengen banget nikmati hujan plus bunyi ombak. Mulailah mengalir...

Beberapa bulan ini aku dihadapkan oleh beberepa pilihan yang sulit. Sudah kucoba butakan mata dan tulikan telinga dengan semua fakta yang sudah terkonfirmasi, supaya aku tetap istiqamah dengan pilihanku, akhirnya harus aku akui, aku tidak bisa karena sudah keterlaluan. Aku pura-pura bodoh maksudnya supaya mereka menganggap masih ada kesempatan untuk perbaiki diri, kok malah terus-terusan membodohi?

Pekerjaan bodoh
Kantorku di Palu akan aku tinggalkan setelah mereka kembali on-line. Aku bukan jenis orang yang suka berkeluh kesah di depan umum :) tentu tidak akan kutuliskan apa yang sudah terjadi di sana, yang jelas aku akan pergi. Sudah kutunaikan apa yang menjadi kewajibanku, soal hakku bisa kudapatkan atau tidak aku sudah tidak peduli. Dunia begitu luas, rejeki bertebaran dimana-mana dan Alhamdulillah Allah sudah begitu sayang padaku dengan membuatku tidak membutuhkan banyak hal di dunia ini. Bagiku Engkau sudah cukup. Insya Allah.

Cinta absurd
Menunda menikah untuk sesuatu yang tidak jelas dan tidak pasti. Aku takut bila aku tergolong kelompok manusia yang melampaui batas, naudzubillah mindzalik. Hari ke-6 di Makassar kucoba periksa hatiku, mengenali lebih baik ada apa dan siapa saja di sana, mana itu cinta? Mana itu sahabat? Mana itu saudara sesama manusia? Mana itu teman? Mana itu keluarga dan kerabat? Meluruskan hal-hal yang bengkok di dalamnya, dan kutemukan --sungguh aku memohon ampun pada-Mu-- aku sudah menunda-nunda "ibadah" yang mestinya sudah kutunaikan sejak 3 tahun lalu untuk sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa. Cinta tidak termasuk dalam salah satu dari 4 kriteria yang disebut Nabi SAW dalam wasiatnya tentang memilih pasangan hidup yang tepat --yang kata beliau ibarat memilih pintu surga atau pintu neraka itu--.

Hari ini cintaku pada mahluk dan lawan jenis kunetralkan dengan kukalikan nol. NOL itu bukan MINUS bukan juga POSITIF. NOL itu angka mulia, keadaan hampa tanpa angan dan ingin kecuali keinginan-Nya. Bismillah, aku akan menikah karena ibadah, karena lillahi ta'ala, karena cinta pada Allah bukan karena cinta kepada ciptaan, bukan karena cantik, bukan karena kaya, bukan karena cerdas, bukan karena muda, yang bisa membuatku merasa cukup dengannya dan akupun cukup buatnya, bukan karena sebab-sebab remeh duniawi. Amin, Insya Allah.

Tepat setelah menutup telepon dari seorang kawan, seorang pramusaji memberanikan diri mendatangi mejaku, "Mas, kopinya ditambah?" "Waduh, makasih mbak nggak usah, ntar malam nggak niat begadang kok.."