Posts

Resensi Buku Suka-Suka: "Picatrix"

Setelah membaca buku I dan  buku II, benar selalu ada hal-hal baik sekalipun dibalik sesuatu yang cenderung berkonotoasi negatif, seperti sihir misalnya. "Picatrix" ada enam buku, cuma nemu dua buku yang tersedia versi PDF dan bisa diunduh gratis (entah bagaimana awalnya sampai bisa menemukan link untuk mengunduh Picatrix, membacanya, kemudian riweh sendiri). Walaupun "Picatrix" dimulai dengan 'Basmalah' dan banyak menaruh catatan bahwa setiap sihir, upaya, hanya akan berhasil jika disetujui Tuhan untuk mewujud, tetapi di bagian lain ditekankan pentingnya menselaraskan diri dengan makro-kosmos untuk jaminan keberhasilan setiap usaha sihir. Sementara baginda Nabi SAW tegas melarang mengaitkan nasib, takdir, dengan bintang, kicau burung, dan hal-hal lain yang lebih tepat dianggap sebagai pertanda sebuah takdir dan nasib, bukan penentu takdir dan atau nasib. Bisa sekali aku yang awam dengan sihir salah, dan mungkin sekali Ghayat Al-Hakim benar, atau kami berdua...

Bukan Dering Ponsel yang Mengganggu, tetapi Hati Kita yang sedang Terganggu.

Biasanya setiap azan Duhur kalau belum mandi pagi (baca: siang), enggan ke masjid Duhur berjamaah, khawatir ada mazi atau najis lainnya yang kadang keluar sewaktu tidur. Namun pas azan Duhur tadi tidak, entah mengapa terdorong ke masjid, ditambah keyakinan setelah bangun tidur tadi sudah memeriksa di kamar mandi sebelum istinja, qubul dan dubur keduanya aman dari najis. Keinginan melangkah ke masjid seperti ini kusebut panggilan, mengalir begitu saja tanpa ada dorongan atau halangan akhirnya sampai ke dalam masjid, dapat deret ke dua di belakang imam. Masjid di samping rumah di sini, di Jakarta, masjid para musafir sepertiku. Parkiran motornya selalu ramai, paling sedikit tiga shaf di setiap waktu salat, duhur tadi ada lima shaf. Karpetnya baru diganti pas masuk ramadan kemarin, empuk dan wangi. Pendingin udara dan kipas anginnya cukup, udaranya sejuk. Faktor lingkungan yang dibutuhkan untuk berusaha khusyuk, menuju khusyuk, atau mungkin pura-pura khusyuk, lebih dari cukup. Imam pun ta...

Isra' Mi'raj #2

Pertama dan terakhir kali ngeblog tentang Isra' Mi'raj ternyata sepuluh tahun lalu. Semalam kubaca ulang kemudian menambah sedikit kalimat penutup. Saking semangatnya menulis blog, salam pembukanya selalu dibagus-bagusin, giliran akhir tulisan suka tanpa pamitan tanpa konklusi, dulu keahlian membuka belum sepasang dengan kemampuan menutup. Seingatku, belum mencari jawaban dua pertanyaan di tulisan lama tentang Isra' Mi'raj, karena menjawab "mengapa" dan "untuk apa" tidak bisa dengan hanya duduk tafakur di ruang pikir, butuh pengetahuan empiris agar dapat jawaban yang seutuh mungkin. Sementara sebagai umat dan awam mustahil berharap diperjalankan dalam semalam dari Masjidil Haram lalu ke Al-Aqsa kemudian ke Arasy, setelah sebelumnya Jibril telah mencuci bersih rongga dada, perut, dan hati Beliau SAW., lalu mengisinya dengan hikmah dan iman. Satu-satunya cara mencari tahu jawaban "mengapa" dan "untuk apa" kemudian meyakini Isra...

Selamat Jalan Mas Danarto (27 Juni 1940 - 10 April 2018)

"Ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tidak terbatas. Luas bagi cakrawala. Mengapa harus ditangisi? Jelas ini salah tafsir." (Danarto, 2008:10) Berkenalan dengan cerpen-cerpen mendiang awalnya dari majalah Matra, majalah lelaki tahun 90an yang memuja maskulinitas dengan beberapa lembar foto perempuan-perempuan yang membuat dadaku bergemuruh di usia yang kurang setahun dua puluh ketika itu. Membaca cerita pendek tulisan mendiang sengaja kulakukan paling akhir sebelum meletakkan kembali majalah ke rak buku, syahwatku tertunduk malu setiap kali berhadapan dengan metafora yang digunakan Mas Danarto dalam cerita pendeknya. Banyak tulisan mendiang yang meninggalkan bekas, meluaskan, mewarnai cakrawala berpikir dan imajinasiku. Aku masih ingat ceritanya tentang malaikat maut yang ketika membentangkan sayapnya membuat gerhana segalaksi Bima Sakti, tetapi mampu menyamar menjadi guci keramik pajangan di ruang tamu seorang saudagar. Sejak membac...

Sehabis Menonton "Cold Mountain"

Image
"Jika cintamu tulus, maka kejujuran menjadi seringan bangun kesiangan di hari Minggu pagi." Tidak banyak film yang berhasil membuatku ingin menontonnya berulang kali sampai ingin menulis postingan blog yang sekian lama dianggurin. Film "Cold Mountain" (2003) salah satunya. Film yang diangkat dari novel berjudul sama, karangan Charles Frazier tahun 1861 dengan latar perang saudara di Amerika Serikat, di internet banyak reviewer yang menyebut filmnya lebih menarik ketimbang novelnya. Entah, belum pernah membaca novelnya, tapi kalau menyimak kuatnya dialog dalam film, mestinya novelnya juga sebagus filmnya. Dialog Ada Monroe ketika menghampiri Inman yang enggan masuk ke dalam ruangan karena kehujanan. Ada membawa baki keluar agar tidak mencolok ia keluar khusus untuk menemui Inman, ingin mengajaknya masuk. Mereka berbincang dengan satu dua kata. "Ini tidak seperti harapanku, kita hanya berdiri dan tidak berbicara. Tidak cukup jika hanya seperti ini....

La la Land, Resensi Suka Hati

Image
Selang seminggu nonton dua film, " Passenger " dan " La la Land ", keduanya rilis akhir tahun 2016 lalu, dan bagus karena mebuatku kepingin menulis resensi. "La La Land" duluan dapat jatah kutulis karena akhir kisahnya yang tidak sesuai harapan penonton (saya) walau tetap happy ending . Akhir kisah yang membuat keriuhan Pilkada DKI yang menjadi konsumsi nasional terlihat mati gaya sehabis menonton film ini. Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling) dua individu yang berusaha mewujudkan impiannya di kota Los Angeles, bertemu pertama kali di kemacetan jalan, sudah menggambarkan sosok 'kebaikan' dalam bentuk person (manusia) saat bertemu pertama kali. Sama-sama merasa baik, merasa paling berhak duluan mendapat jalan, tidak sabaran, sebelum saling mengumpat. Ada dua hal yang sanggup mengumpulkan dan menyatukan hampir semua hal di dunia, pertama nafsu dan keserakahan , dan yang kedua cinta . Layaknya semua ciptaan, nafsu dan cinta tidak ...

Utopia Mengeuforia Paranoia **

Image
Intrik Pilkada DKI Jakarta 2017 'terpaksa' menjadi konsumsi nasional karena statusnya sebagai ibu kota negara dan semua media nasional bermarkas di sana. Tidak semuanya buruk, kami di daerah bisa belajar bagaimana para politikus di Jakarta menggoreng isu yang berskala nasional, mendunia hingga akhirat. Keadaan yang eskalasinya melebar, menyebar, kemana-mana tidak tertebak dan beberapa luput diantisipasi. Hampir sama tidak jelasnya dengan judul yang menjadi pilihan redaksi untuk opini pertama di tahun 2017 (** mestinya ini dimuat di kolom opini situs komunitas pewarta warga di wartakita.id yang sedang ganti server sampai malam nanti) . Penggerak kehidupan dunia dan menuju akhirat masih sama dari jaman manusia mulai mengenal hidup berkelompok dan memilih pemimpin kelompoknya: u topia; euforia; dan paranoia , yang artinya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: Kapitalisme mengkonversi segala sesuatu menjadi kapital dan bisa diuangkan. Segila apa pun nafsu manusia pada ...