Posts

La la Land, Resensi Suka Hati

Image
Selang seminggu nonton dua film, " Passenger " dan " La la Land ", keduanya rilis akhir tahun 2016 lalu, dan bagus karena mebuatku kepingin menulis resensi. "La La Land" duluan dapat jatah kutulis karena akhir kisahnya yang tidak sesuai harapan penonton (saya) walau tetap happy ending . Akhir kisah yang membuat keriuhan Pilkada DKI yang menjadi konsumsi nasional terlihat mati gaya sehabis menonton film ini. Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling) dua individu yang berusaha mewujudkan impiannya di kota Los Angeles, bertemu pertama kali di kemacetan jalan, sudah menggambarkan sosok 'kebaikan' dalam bentuk person (manusia) saat bertemu pertama kali. Sama-sama merasa baik, merasa paling berhak duluan mendapat jalan, tidak sabaran, sebelum saling mengumpat. Ada dua hal yang sanggup mengumpulkan dan menyatukan hampir semua hal di dunia, pertama nafsu dan keserakahan , dan yang kedua cinta . Layaknya semua ciptaan, nafsu dan cinta tidak ...

Utopia Mengeuforia Paranoia **

Image
Intrik Pilkada DKI Jakarta 2017 'terpaksa' menjadi konsumsi nasional karena statusnya sebagai ibu kota negara dan semua media nasional bermarkas di sana. Tidak semuanya buruk, kami di daerah bisa belajar bagaimana para politikus di Jakarta menggoreng isu yang berskala nasional, mendunia hingga akhirat. Keadaan yang eskalasinya melebar, menyebar, kemana-mana tidak tertebak dan beberapa luput diantisipasi. Hampir sama tidak jelasnya dengan judul yang menjadi pilihan redaksi untuk opini pertama di tahun 2017 (** mestinya ini dimuat di kolom opini situs komunitas pewarta warga di wartakita.id yang sedang ganti server sampai malam nanti) . Penggerak kehidupan dunia dan menuju akhirat masih sama dari jaman manusia mulai mengenal hidup berkelompok dan memilih pemimpin kelompoknya: u topia; euforia; dan paranoia , yang artinya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: Kapitalisme mengkonversi segala sesuatu menjadi kapital dan bisa diuangkan. Segila apa pun nafsu manusia pada ...

Takutisasi dan Politisasi

Sebelum Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin dipindahkan ke bekas kompleks pabrik kertas di Gowa, hampir setiap tahun perkelahian antara mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas lainnya (kecuali Fakultas Kedokteran Umum, hampir seluruh Fakultas pernah tawuran dengan FT-UH) menjadi berita utama di Makassar. Beruntung pernah kuliah di dua Fakultas yang saling bermusuhan. Saya memiliki gambaran pribadi yang lebih berimbang, berada di dua Fakultas yang saling berseteru (nyaris) abadi. Pada tahun 1992 tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial Politik jurusan Ilmu Komunikasi, dan setahun kemudian di Fakultas Teknik jurusan Arsitektur. Saat penataran P4 pola 100 jam yang seminggu terakhir diakhiri dengan materi Fakultas dan Jurusan, semacam pra-perpeloncoan karena masih pakai seragam putih hitam. Hampir tiap hari para senior mengingatkan kami para mahasiswa baru, “Hati-hati dengan anak Teknik, mereka bisa menyerbu kapan saja.” Puncaknya di hari penutupan materi fakultas, yang akan di...

Mendadak

Bukan hanya masyarakat nusantara yang mudah terpikat dengan ‘kesaktian’. Bila pernah menamatkan serial televisi “ Houdini ” (2014) dunia barat juga tak lepas dari ketakjuban terhadap hal-hal yang tidak atau belum terjelaskan secara ilmiah. Houdini mati dibunuh oleh suruhan seorang cenayang setelah Houdini berhasil membuktikan kebohongan dan trik sulapnya. Trik sulap, kesaktian, karomah, dan mukjizat. Walau sama gaibnya, kesaktian, karomah dan mukjizat amat berbeda. Berbeda yang memiliki, berbeda tujuan dan sebab memiliki. Mukjizat hanya dimiliki oleh para nabi dan rasul. Berdasarkan kisah-kisah dalam Al Qur’an, bila disusun menurut siapa nabi yang paling rasional ajarannya berdasarkan mukjizat, sejak nabi pertama hingga yang terakhir, maka ajaran agama makin rasional di sosok nabi dan rasul terakhir Muhammad SAW. Masih dari Al Qur’an, disebutkan kenabian dan kerasulan Muhammad SAW pernah dipertanyakan oleh beberapa golongan manusia, bila benar Muhammad itu nabi dan rasul, mengapa masih...

Tambahan Review Novel Atheis

Kemarin baru menulis review novel klasik, Atheis . Novel karya Achdiat K. Mihardja diterbitkan Balai Pustaka tahun 1948, yang tema dan pesannya masih relevan sekarang, 68 tahun kemudian. Kepingin menambahkan di halaman reviewnya , tapi ada aturan dilarang mengubah apa yang telah dimuat setelah batas unggah review semalam pukul 24.00, karena akan dikompetisikan. Padahal masih banyak yang ingin ditambahkan. Di sini saja tambahannya. Ada semacam euphoria, melihat bagaimana sastrawan 68 tahun silam telah bergelut dengan hal yang kini masih relevan, hingga masih ingin mengulasnya malam ini. Meski coba disamarkan, namun masih terasa Achdiat melalui novelnya mencoba merekonstruksi pondasi bangunan keyakinan beragama dan pondasi ketidakyakinan kaum rasionalis-atheis pada Tuhan. Titik Temu Atheis dan Theis Titik temu atheis dan theis ada pada kisah Ibrahim mencari Tuhan. Nabi Ibrahim Alaihissalam, tidak sekedar mempertanyakan eksistensi tuhan di masyarakat dan di keluarganya sendiri. ...

#30

Hari kemenangan rasanya belum pantas kurayakan. Inginnya bisa kucicil di 11 bulan berikutnya hari demi hari bahwa sebulan sebelumnya memang menang melawan diri sendiri. Semoga kembali bertemu ramadhan ikut kelas remedial. Semoga tak lagi sendiri di ramadhan berikutnya. Ini do'a bukan curcol, walau rasanya hampir semua do'a ku sebenarnya tjurhat . Sebelas bulan masih lama, sekarang sudah tanggal 2 Syawal. Saya berhutang maaf bila ada tulisan yang kiranya tidak berkenan. Maafkan lahir dan batin.

#29

Terorisme, genosida, penindasan, penjajahan dan lain-lain, atas nama apapun. Salah satu sebab utamanya lahir karena mengambil posisi berhadap-hadapan antara (yang dianggap) keburukan dan (seolah) kebaikan yang tertindas. Ambisi menguasai, dendam, perihnya diperlakukan tidak adil, tidak dianggap dan tidak diperlakukan selayaknya manusia, semua bukan pembenaran untuk melakukan tindakan yang sama buruknya. Iblis menggoda Adam dan anak cucunya bukan untuk mengungguli dan merebut mandat khalifah di muka bumi, mandat yang sampai kapanpun tidak akan pernah bisa diraih oleh Iblis. Keinginan Iblis melampaui soal menang-kalah. Iblis ingin menyeret anak cucu Adam jatuh ke level keburukan yang (minimal) sama dengannya hingga akhir jaman..