2 Potong Roti
Pernah baca kisah tentang seorang ahli ibadah yang hidup wara' dan tawadhu. Makan dan minum baginya sudah bukan lagi soal rasa, apa lagi penyajian. Selama apa yang dimakannya sudah cukup memberi energi seharian untuk beribadah, dia berhenti makan. Dua potong roti saja untuk seharian. Untuk dua potong roti, setiap hari dia bekerja dari pagi sampai petang. Malam hingga subuh untuk ibadah. Sudah semestinya, hidup wara' dan tawadhu bukan berarti mengemis. Dia fakir di hadapan Tuhan bukan di hadapan manusia. Suatu sore sepulang dari bekerja di pasar, sang fakir begitu kelelahan hingga melewatkan satu waktu shalat, ketiduran. Penuh sesal dia menggumam, seandainya saya tidak perlu bekerja untuk dua potong roti, ibadahku akan selalu terjaga. Keesokan harinya dalam perjalanan menuju ke pasar, sang fakir ditangkap pasukan kerajaan untuk sebab yang tidak bisa dibantahnya. Sang fakir pasrah digelandang ke penjara. Di dalam penjara, secara teratur semua tahanan mendapat dua potong r...