Thursday, June 9, 2016

#4

Di sebuah hotel suatu malam, seorang ahli ibadah terbangun dari tidur lelapnya oleh kilau cahaya sosok malaikat yang asyik menulis di meja tulis.

Menyadari kehadirannya tidak lagi rahasia, sang malaikat menegur duluan. "Boleh numpang menulis daftar nama para kekasih Tuhan di sini?"

"Tentu saja boleh, apalagi untuk dipakai menyelesaikan tugas dari Pemilik segala kepemilikan."

Malaikat tersenyum. Tidak salah memilih kamar ini tempat menulis karena pancaran cinta yang dilihatnya memang berasal dari kesalehan ritual pemilik kamar.

"Aku sudah selesai, mau kembali berkeliling menyampaikan kabar gembira pada mereka yang namanya tertulis. Terima kasih."

Buru-buru si ahli ibadah menghampiri meja tulis. Mau mengintip, tapi apa yang disebut malaikat sebagai catatan dan tulisan tidak seperti yang dibayangkannya. Tidak ada pena, tidak ada kertas, tidak ada gawai. Hanya ada pancaran kasih sayang. Penasaran, ia pun bertanya, "Adakah namaku?"

"Tidak ada. Mungkin karena kau terlalu sibuk mencintai Tuhan, hingga luput mencintai seluruh ciptaan."

"Baiklah kalau begitu, mulai besok akan kusibukkan diriku mencintai ciptaan."
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun dilalui ahli ibadah  dengan menyibukkan diri mencintai ciptaan. Mencintai dirinya, alam, mahluk lain dan semua ciptaan Tuhan.

Bila dulu puasa sunatnya selang seling, kini hanya senin dan kamis, dan saat berpuasa ongkos makan siangnya ia berikan pada yang tidak berpuasa dan tidak punya makan. Walaupun Mekkah selalu memanggil-manggil, cukup sekali ia ke sana. Tabungannya untuk kali ke dua ingin dihibahkan pada mereka yang belum mampu ke sana.

Tepat saat terlintas rasa putus asa, bahwa dia tidak akan pernah mencapai derajat kekasih Tuhan, dan malaikat yang pernah ditemuinya dulu tidak akan mampir lagi.

Tiba-tiba menjelang lelap usai termenung. Sosok bercahaya itu kembali singgah.

"Apa amalan yang kau lakukan belakangan ini? Aku datang menyampaikan kabar gembira buatmu. Namamu kini ada dalam daftar para kekasih Tuhan."

"Bagaimana bisa? Sejak pertemuan kita bertahun silam, cintaku hanya untuk ciptaan."

"Begitulah. Cinta Tuhan tergantung bagaimana cinta seseorang pada ciptaan."

***

Kisah tersebut di atas ada beragam versi, baik yang tertulis maupun yang dituturkan. Namun dengan satu pesan yang sama. Ketimbang berjibaku dengan interpretasi dan prasangka saat menuju Tuhan, mengapa tak mulai mencintai-Nya yang meliputi segala ciptaan.