Wednesday, June 29, 2016

#24

Tentang Lailatul Qadr, tentang kasih sayang Tuhan senilai kebaikan 1000 bulan beribadah formal, bila turun maka ada kesempatan sekitar 1000 bulan atau 83 tahun dari sekarang. Bila diakumulasi dari kesejukan pertama yang pernah kurasakan 16 tahun lalu, berarti insyaAllah ada 16 x 83 tahun kesempatan bila permohonanku dikabulkan-Nya, atau sekitar 1.333,3 tahun dikalikan sekian banyak hamba-Nya yang bermunajat di 10 malam terakhir Ramadhan, masih ada kesempatan memperbaiki keadaan.

Dan makin besar peluang karena menurut salah satu riwayat, 300 tahun sekali Tuhan menurunkan manusia selembut Ibrahim A.S. untuk mengingatkan sesama, merekalah yang akan terus berusaha menaikkan level kesadaran manusia dari tingkatan evolusi hewani di mana ingin saling berkompetisi, ingin saling mendominasi, tentang perbedaan adalah Sunnatullah, bahwa manusia bukan penghuni puncak piramida makanan yang masih bisa saling memakan, namun bagian dari siklus besar semesta konversi materi dan energi, setelah ruh yang hanya ada pada manusia pulang kepada pencipta-Nya.

Kurangi 1 x 83 tahun, karena tahun ini saya malu menerima kebaikan 1000 bulan, malu merasa pantas menerimanya. Mereka yang menjauhkan perut dan bawah perutnya dari kasur, jauh dari makanan dan minuman selama Ramadhan jelas lebih layak. Mereka yang berjibaku menerjemahkan Tuhan, yang berusaha keluar dari persepsi dan sangkaan tentang Tuhan lebih harus merasakan kasih sayang Tuhan melalui angin yang belum mau berhenti berkesiuh melagukan puja-puji, dengan cahaya matahari yang masih mau bernyanyi, dengan denting dzikir rinai gerimis.

Alam dan mahluk hidup yang masih bisa bersabar walau terus dirusak dan direndahkan manusia sangat butuh seribu bulan kasih sayang Tuhan. Manusia yang masih bisa menganggap manusia lain bukan manusia amat butuh 83 tahun yang dipenuhi kasih sayang Tuhan.

Agar lapisan Rahmat yang kini makin tipis kembali berlapis, agar Rahmat yang selalu mendahului murka kembali menebal, dan kebebalan manusia mengelupas.

Kita yang membaca hidup matiku hanya untuk Tuhan semata tiap shalat, tapi bukannya meninggalkan manfaat sebelum mati malah mati-matian mengejar apa yang tidak dibawa mati amat butuh 83 tahun seluruhnya dalam kasih sayang Tuhan

Lailatul Qadr secara matematis bisa dikejar setiap hari bahkan di luar Ramadhan. Tafakkur sejam merenungkan ciptaa-Nya lebih baik dari setahun terus-menerus shalat tanpa hati. Membaca surah Al-Ikhlas dan memahami maknanya setara menamatkan 30 juz Al Qur’an. Shalat dua rakaat sebelum subuh lebih baik dari dunia dan isinya.

Lebih dari kebaikan seribu bulan, bila tidak menjadi sebab menderitanya orang lain dan orang banyak dengan korupsi misalnya. Ilmu yang bermanfaat, keberadaan yang membawa manfaat, kebaikan yang bisa dimanfaatkan terus menerus jelas melebihi durasi 1000 bulan melakukan kebaikan.

Kebaikan 1000 bulan dan kebaikan-kebaikan lain yang dijanjikan Tuhan di luar Ramadhan bukan hanya tentang investasi kebaikan di kehidupan selanjutnya. Ramadhan jelas bukan tentang menahan diri sebulan karena di sebelas bulan lainnya boleh diperbudak nafsu sendiri.

Alangkah naifnya bila setiap amalan dan ibadah hanya untuk menyeimbangkan neraca kebaikan-keburukan dari defisit, agar memiliki tabungan kebaikan penebus keburukan. Alangkah ruginya bila imbalan dari setiap ibadah formal dan kebaikan hanya bisa dirasakan manusia setelah mati.

Mungkin saja, seseorang yang semasa hidupnya terus menerus melakukan keburukan masih lebih beruntung dari seseorang yang beribadah untuk menghindari defisit neraca kebaikan dan keburukannya. Sebelum mati, si ahli maksiat menikmati perbuatannya, sementara si pengejar tabungan menghindari defisit tersiksa saat menghitung tabungan kebaikan, dan belum tentu setelah mati masih mendapatkan manfaatnya.

Tentu lebih beruntung mereka yang menikmati berbuat kebaikan saat hidup karena didasari kesadaran berbuat baik atau buruk pada siapa saja, pada apa saja, yang paling pertama merasakan manfaat dan akibatnya adalah diri sendiri.

Sekalipun seluruh umat manusia berbuat keburukan, sekalipun seluruh umat manusia berbuat kebaikan, tidak akan menambah atau mengurangi kekuasaan-Nya. Kebaikan atau keburukan yang dilakukan manusia hanya untuk dirinya sendiri.