Wednesday, February 25, 2015

Menulis Ulang Kisah Lama *

* rasanya sudah pernah kuposting, yang ini menggabungkan dua postingan jadi satu.

Alkisah pada jaman dahulu kala, di pelosok gunung ada sebuah majelis pengajian yang dipimpin oleh seorang arif. Usianya yang makin sepuh mengingatkannya agar segera menyiapkan pengganti, siapa kira-kira diantara 100 orang muridnya yang hampir tamat bisa meneruskan mengajar dan menyebarkan kebaikan.

Di sebuah majelis kebaikan, seringkali di antara 1000 murid yang menerima sertifikat kelulusan, hanya ada 1 yang menerima sertifikat mengajar. Bahkan bisa bukan dari kalangan murid yang meneruskan. Seperti alam, kebaikan juga memiliki caranya sendiri menjaga diri.

Sang guru butuh sendiri untuk berpikir. Bahkan cinta membutuhkan waktu untuk sendiri, seperti lirik lagu kesukaannya. Keesokan usai subuh seluruh murid dikumpulkan di pendopo.

“Hari ini kalian semua boleh turun gunung, pulanglah ke rumah, ke kampung, sebarkan kebaikan yang kalian pelajari di sini.”

“Terima kasih guru, kami memang sudah rindu kampung halaman kami.” kata seorang murid.

“Kampungku pondok ini, wargaku kalian dan semua mahluk yang ada di sini. Bolehkah saya ikut merasakan lagi bagaimana rupa rindu pada kampung halaman?”

“Bagaimana caranya guru?”

“Bawakanlah aku oleh-oleh dari kampung kalian, apa saja, yang tidak membebani kalian saat kembali kemari.”

Menjelang magrib pendopo sudah kosong tinggallah sang guru dalam hening. Terdengar suara langkah kaki memasuki teras, sunyi lenyap.

“Apa perlumu setan, sengaja menungguku seorang diri baru berkunjung dalam rupa manusia?” Sang guru sudah bisa membedakan mana setan dari kaum manusia dan dari kalangan jin.

“Sudah sekian puluh tahun kita berseteru, bahkan dari sejak kakek gurumu mendirikan pondok ini, apa salahnya aku bertamu sebelum engkau pensiun?”

“Daun berguguran jatuh juga membawa tujuan.”

“Hahaha.. Aku membawa berita baik dari Tuhanmu, yang menghalangiku masuk ke sini sampai engkau selesai tafakkur.”

“Berita baik atau kau hanya ingin menyampaikan kekesalanmu?”

“Baiklah, baiklah.. Aku kesal tidak bisa mengusik menungmu, ternyata engkau, murid-muridmu dan majelismu ini telah dijamin Tuhan tidak akan bisa aku usik imannya.”

“Caci dan pujianmu sama saja, menuju ruang kesukaanmu, kesombongan.”

“Hahaha.. Memang pantas engkau dijamin Tuhan.” Sosok itu lalu pergi tanpa pamit. Bahkan ucapannya sebelum pergi masih menyentil kesombongan sang guru.

*** 

Tak terasa sewindu, sang guru belum punya gambaran siapa penerusnya. Murid-murid mulai berdatangan. Ada yang membawa hasil panen terbaik, batu akik, ternak tersehat, ada seorang yang membawa setangkai mawar layu sedang dikerumuni dan ditertawakan kawan-kawannya.

Sebelum menjadi-jadi ejekan di antara mereka, sang guru meminta mereka kembali berkumpul di pendopo. Setelah semua murid mengantarkan oleh-olehnya, lengkap dengan kisah betapa bahagianya melepas rindu. Tibalah giliran si murid yang membawa kembang layu.

“Aku hanya punya setangkai mawar kering dan layu untuk guru.” katanya sambil tertunduk haru.

“Tidak apa, aku ingin mendengar kisahmu.”

“Di kampung aku tidak punya apa-apa. Dalam perjalanan menuju kemari aku mendengar lantunan pujian pada Tuhan dari rerumputan, dari pepohonan yang terbawa angin. Dari hamparan bunga di kaki bukit ada satu yang terdiam. Tadinya aku ingin memetik yang segar, tapi aku takut menganggu zikirnya.”

Pendopo hening, teman-teman yang tadi meledeknya terdiam. Sang guru tersenyum, aku sudah punya calon pengganti.

*** 

Tiga tahun pertama berlalu, sang guru telah berpulang dengan tenang. Mengulang tradisi mendiang, setiap tiga tahun dia mengijinkan murid-muridnya turun gunung.

Baru saja ingin menikmati kesunyian, mendadak orang-orang kampung di kaki gunung mengepung pendopo. Membuyarkan tafakkur.

“Ada apa ini? Masuklah ke dalam.” Tiga orang yang mewakili orang kampung masuk ke pendopo, selebihnya menunggu di teras.

“Apa yang kau ajarkan kepada anak-anak kami!” hardik yang pertama.

“Ya apa! Murid-muridmu baru saja merubuhkan kedai tuak kami, mabuk tak terkendali.” Sambung yang kedua.

“Dan melacur kabur tak bayar!” yang ketiga menambahkan. Terdiam sang guru. Teringat pesan mendiang gurunya, bahwa mereka telah dijamin Tuhan akan terjaga imannya dari godaan setan berwujud manusia maupun yang tak tampak.

“Semua kerugian materi akan kami ganti, beri sedikit waktu sampai kebun dan ternak kami layak panen.”

“Bagaimana dengan murid-muridmu? Bubarkan saja majelis ini bila tak becus menjadi guru!”

“Beri juga saya waktu untuk tahu duduk perkara dari sudut pandang muridku. Percayalah, usia pondok yang lebih tua dari perkampungan kalian, tidak akan bertahan selama ini bila memang hanya berisi keburukan. Beri kesempatan menemukan sumber masalah lalu membenahinya.”

“Baiklah, kami beri 3 bulan dari sekarang.”

Hanya sebagian murid yang bernyali pulang, setengahnya menghilang menunggu kabar dari kawannya yang bermental infanteri, berani pulang mengukur kadar kemarahan gurunya.

Sang guru tidak memanggil satupun, membiarkan mereka beraktifitas seperti biasa. Dia menyadari untuk tahu kesalahan murid, paling pertama kenali dulu kesalahannya sebagai guru.

Kesal karena kabar dari setan bahwa iman mereka telah dijamin Tuhan, yang dikisahkan mendiang gurunya, ternyata dusta setan belaka.

“Eits, jangan salahkan saya.” Setan yang dulu mengunjungi mendiang gurunya mendadak muncul. Hawa kemarahan penerus pondok ini membuatnya tidak bisa menunda hadir.

“Kau memang pendusta, kenapa pula aku dan mendiang percaya pada kabar yang kau bawa.” Kata sang guru dalam sesal.

“Lho, dusta bagaimana? Aku hanya memungut iman murid-muridmu yang mereka buang. Ada yang membuang sebelum masuk kedai tuak, ada yang membuang di depan kamar rumah bordil. Aku tidak pernah dan tidak akan mampu masuk ke dalam hati mereka lalu mengambil langsung imannya.”

“Akal-akalanmu memang canggih, penuh keteraturan, rencana matang dan jangka panjang.”

“Bukannya sudah pernah ada yang mengingatkan, kebaikan yang tercerai berai bisa kalah oleh keburukan yang terencana dan teratur.”

***