Friday, February 20, 2015

Hierarki Kebutuhan Hidup Manusia

Kemarin masukin teori Maslow sebagai pengantar sebab bertemunya dua orang karakter rekaan dalam tulisan fiksi. Malah berkepanjangan mikirin teori Maslow.

***

Teori hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow yang menyebabkan orang menjadi individualistis atau begitulah manusia di lingkungan teorinya? Embuh.

Membicarakan manusia berarti berbicara tentang konstanta yang tidak permanen, bisa mampat, bisa kembang dan lebih sering tidak berpola simetris hierarkis ketika mengembangkan dan memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, baik badani apalagi ruhani.

Hierarki kebutuhan hidup Maslow membuat analogi “Lebih enak mana patah hati di dalam mobil wangi yang ber-ac dari pada patah hati di dalam angkot yang pengap?” terasa benar dan logis. Lebih nyaman dalam mobil ber-ac, padahal masalahnya di hati bukan di mobilnya.

Pada suatu keadaan manusia bisa merasa cukup dan bahagia dengan udara yang dihela, air minum dan sepotong roti, pada keadaan yang lain, butuh lebih, meski lebih sering ingin ketimbang butuh. 

Menempatkan aktualisasi diri sebagai puncak kelima atau teratas (asumsi: puncak keenam “kebutuhan akan transedensi diri” hanya rumor yang ditambahkan sebelum Maslow meninggal dunia) setelah empat kebutuhan lain terpenuhi: 1. kebutuhan badani (fisiologi); 2. kebutuhan akan rasa aman; 3. kebutuhan akan cinta, dimiliki dan memiliki; 4. kebutuhan akan harga diri dan dihargai. Sadar tidak sadar seringkali membuat mereka yang masih berkutat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-sehari nampak sebagai manusia “tidak penting” dan tidak eksis (atau tidak aktual) di mata mereka yang telah meraih puncak-puncak hierarki kebutuhan hidup.

Parahnya, mereka (sebagian) yang berkutat dengan pemenuhan kebutuhan fisiologis (level terendah menurut piramida Maslow), juga menganggap hidupnya tidak penting dan bukan siapa-apa. Takut dan tidak percaya diri untuk berpikir hal-hal tidak biasa, bukan kebanyakan. Mencintai dan dicintai pesohor, misalnya.

Bila ada yang terlihat tidak mengikuti tahapan, mendadak berada di puncak aktualisasi diri. Seringkali dianggap telah berlaku curang dalam hidupnya. Itu mesti santet, dia pakai pesugihan, dia menjual jiwanya pada jin, dan seterusnya dugaan apa saja yang seolah bisa membenarkan, bahwa tidak mungkin manusia mencapai sesuatu bila tidak runut dan tertib tahapan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Hidup dan kebutuhan hidup memang penuh keteraturan, tapi tidak mesti serunut hierarki temuan Maslow. Anggapan serta asumsi orang lain hanya penting bila aktualisasi diri dianggap penting. Apa pikiran orang tentang kita, bukan tanggung jawab kita.

***

Lapis pertama sampai lapis kelima apa yang disebut Maslow sebagai kebutuhan hidup, bisa terbeli dan ada yang menjual. Cinta artifisial sudah lama diperjual belikan, perjam atau kontrak tahunan.

Andai benar Maslow menambahkan kebutuhan akan transedensi diri di puncak piramidanya, teori ini makin merunyamkan hidup manusia bila diikuti secara hierarkis. Maka puncak terakhir, transedensi diri pun bisa dibeli?

Orang-orang tercerahkan yang pernah dicatat sejarah, yang dianggap mencapai transedensi diri, para Nabi, para arif, adalah orang-orang yang terlihat nyata berkutat di lapis pertama teori Maslow, rempong dalam tawa bahagia dengan kebutuhan fisiologisnya.

Contoh konkrit yang mengikuti hierarki Maslow barangkali seperti kutipan Jim Carey, “Saya mengejar semuanya hingga teraih olehku, hanya untuk tahu bahwa bukan ketenaran dan kelimpahan materi yang sebenarnya kubutuhkan.”

***

Bukan salah Maslow bila teori hierarki kebutuhan hidupnya dijadikan patokan keberhasilan hidup manusia. Maslow hanya meneliti dan mempublikasikan penelitannya.

Ketimbang mengikuti hierarki temuan Maslow, masih lebih arif pengetahuan dari penataran P4 pola 100 jam dulu. Kebutuhan manusia hanya dua, kebutuhan jasmani (sandang-pangan-papan) dan kebutuhan ruhani, tanpa hierarki pencapaian mana yang lebih penting, karena saling melengkapi, saling menjalin menuju kemanusiaan (human being).

***