Wednesday, January 14, 2015

The Book of Life **


** resensi suka-suka film animasi "The Book of Life" 

Sehabis nonton "The Book of Life" bareng ponakan-ponakan, tersisa satu pertanyaan. Apa semua orang pernah benar-benar jatuh cinta? Atau apakah semua orang pernah mendapat kesempatan untuk jatuh hati? (jatuh hati ndak pake tagar :p ) Karena, bila setiap orang pernah merasakan jatuh cinta, dunia tidak buruk-buruk amat jadi sorga semasa hidup. 

Mungkin itu sebabnya dulu (jauh sebelum riuh) suka iseng jatuh cinta, suka iseng membuat perempuan jatuh hati, Diterima atau ditolak, cinta akan membaikkan, hati akan terlahir kembali. Kapok setelah mendapati, menjaga satu hati yang jatuh, memastikannya terlahir kembali jadi lebih baik, tidak mudah. Ternyata cinta tidak seiseng yang kusangka. 

Belakangan baru tahu juga, tidak hanya lawan jenis atau sesama manusia, atau semua mahluk hidup, benda (yang dianggap) mati pun bisa jatuh hati.

Pernah tunjukkan cinta yang tulus pada ikan peliharaan di kolam, pada mawar di halaman samping? Mencintai apapun selain manusia tidak pernah bertepuk sebelah tangan. 

Catatan: 1. Bertepuk sebelah tangan adalah perspektif dan anggapan normal bila manusia yang mencintai manusia lain tidak bisa bersama, perspektif abnormalnya, sebenarnya tidak ada cinta yang bertepuk sebelah tangan. 2. Tiga paragraf sebelum ini curcol.

Coba deh, ambil contoh acak dari kejadian aktual, bisa Charlie Hebdo, kontroversi pencalonan Kapolri baru juga, atau yang baru lewat, Pemilu. Proyeksikan (dengan lugu) pada persaingan Manolo dan Posada yang rebutan cinta Maria di "The Book of Life".

Ada persamaan tiga contoh kejadian dengan "The Book of Life" dibalik pernak-pernik konflik, beberapa dari mereka yang terlibat langsung, ada baiknya bertanya pada diri sendiri, benarkah ini cinta? Kalau cinta kok begitu?

Kasus Charlie Hebdo; Cinta yang Egois.

“Aku tidak sependapat denganmu, tapi kebebasanmu berpendapat akan kujaga, kalau perlu dengan nyawaku - Voltaire”

Charlie Hebdo mencintai kebebasan berekpresi dan berpendapat lewat satir dan kartun. Bila benar cinta pada kebebasan berekspresi sudah demikian besar. Mestinya tahu bahwa cinta sebesar itu juga bisa ada pada orang lain, kelompok lain, dan budaya lain.

Para penyerbu Charlie Hebdo, yang kemudian membunuhi kartunis benarkah sedang menunjukkan cintanya pada obyek yang dijadikan satir? Bila mencintai sesuatu, seorang Rasul atau sebuah agama haruskah seperti itu? Kok malah bertentangan dengan ajaran-ajaran dari apa yang (katanya) mereka cintai. Kok lebih mirip menunggangi satu kejadian yang meski amat kecil untuk bisa dijadikan alasan sebuah aksi brutal oleh teroris sekalipun. Lebih mirip aksi “deklarasi keberadaan”.

Satir terakhir Charlie Hebdo, bila dilihat dengan berbaik sangka, adalah upaya mengoreksi cara berpikir para penyerbu dan yang sependapat dengan itu. Sayangnya, pada Al-Qaeda dan ISIS saya tidak melihat gerakan mereka adalah bentuk kecintaan pada Muhammad SAW. dan ajaran Islam yang dibawanya.

Larangan membuat gambar Rasulullah SAW, bertujuan agar umatnya tidak mengkultuskan, agar tidak terjebak menuhankan sosok beliau SAW.

Larangan bila tidak dipatuhi oleh mereka yang tidak terikat aturan harus bagaimana menghadapinya? Maafkan.

 

وَ سَارِعُوْآ اِلى مَغْفِرَةٍِ مّنْ رَّبّكُمْ وَ جَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّموتُ وَ اْلاَرْضُ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ. اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَ الضَّرَّآءِ وَ اْلكظِمِيْنَ اْلغَيْظَ وَ اْلعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ، وَ اللهُ يُحِبُّ اْلمُحْسِنِيْنَ. ال عمران:133-134
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafqahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [QS. Ali 'Imran : 133 - 134]
وَ الَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبئِرَ اْلاِثْمِ وَ اْلفَوَاحِشَ وَ اِذَا مَا غَضِبُوْا هُمْ يَغْفِرُوْنَ. الشورى:37
Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. [QS. Asy-Syuuraa : 37]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ. اِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ اْلغَضَبِ. البخارى
Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang kuat itu bukanlah orang yang kuat dalam bergulat, tetapi orang yang kuat itu ialah orang yang bisa menahan dirinya ketika marah". [HR. Bukhari juz 7, hal 99/Muslim juz 4, hal. 2014]

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ اْلمُسَيَّبِ اَنَّهُ قَالَ: بَيْنَمَا رَسُوْلُ اللهِ ص جَالِسٌ وَ مَعَهُ اَصْحَابُهُ وَقَعَ رَجُلٌ بِاَبِى بَكْرٍ فَآذَاهُ. فَصَمَتَ عَنْهُ اَبُوْ بَكْرٍ، ثُمَّ آذَاهُ الثَّانِيَةَ، فَصَمَتَ عَنْهُ اَبُوْ بَكْرٍ. ثُمَّ آذَاهُ الثَّالِثَةَ، فَانْتَصَرَ مِنْهُ اَبُوْ بَكْرٍ، فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ ص حِيْنَ انْتَصَرَ اَبُوْ بَكْرٍ. فَقَالَ اَبُوْ بَكْرٍ: اَوَجَدْتَ عَلَيَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: نَزَلَ مَلَكٌ مِنَ السَّمَاءِ يُكَذّبُهُ بِمَا قَالَ لَكَ. فَلَمَّا انْتَصَرْتَ وَقَعَ الشَّيْطَانُ فَلَمْ اَكُنْ ِلاَجْلِسَ اِذْ وَقَعَ الشَّيْطَانُ. ابو داود         رقم
Dari Said bin Musayyab, bahwasanya ia berkata, "Pernah suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama shahabat-shahabatnya, lalu ada seorang laki-laki yang mencaci dan menyakiti Abu Bakar, tetapi Abu Bakar diam saja. Kemudian ia menyakitinya yang kedua kali, tetapi Abu Bakar masih diam saja. Lalu ia menyakitinya yang ketiga kali, lalu Abu Bakar membalasnya. Maka Rasulullah SAW berdiri ketika Abu Bakar membalasnya, lalu Abu Bakar bertanya, "Apakah engkau marah kepadaku, ya Rasulullah ?". Rasulullah SAW bersabda, "Tadi malaikat turun dari langit seraya mendustakan apa yang ia katakan terhadapmu, tetapi setelah engkau membalasnya, syaithan lalu duduk di situ, maka tidaklah pantas aku duduk karena syaithan duduk di situ". [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 274, no. 4896]
عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ قَالَ: اِسْتَبَّ رَجُلاَنِ عِنْدَ النَّبِيّ ص فَجَعَلَ اَحَدُهُمَا يَغْضَبُ وَ يَحْمَرُّ وَ جْهُهُ. فَنَظَرَ اِلَيْهِ النَّبِيُّ ص فَقَالَ: اِنّيْ َلاَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ ذَا عَنْهُ: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. فَقَامَ اِلَى الرَّجُلِ رَجُلٌ مِمَّنْ سَمِعَ النَّبِيَّ ص فَقَالَ: أَ تَدْرِى مَا قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص آنِفًا؟ قَالَ اِنّيْ َلاَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ ذَا عَنْهُ. اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. فَقَالَ لَهُ الرَّجُلُ: اَمَجْنُوْنًا تَرَانِيْ؟ مسلم
Dari Sulaiman bin Shurad, ia berkata : Ada dua orang saling mencaci di sisi Nabi SAW. Lalu salah seorang diantara keduanya menjadi marah, dan merah mukanya. Kemudian Nabi SAW melihat kepada orang itu dan bersabda, Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat seandainya ia mau mengucapkannya pastilah hilang marah itu darinya, kalimat itu ialah : Auudzu billaahi minasy-syaithoonir rojiim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk). Maka berdirilah seorang laki-laki diantara orang yang mendengar sabda Nabi SAW tersebut menghampiri orang yang marah itu dan berkata, Tahukah kamu apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW tadi ?. Beliau bersabda, Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat seandainya ia mau mengucapkannya pastilah hilang marah itu darinya. Kalimat itu ialah : Auudzu billaahi minasy-syaithoonir rojiim. Lalu orang yang marah itu berkata, Apakah engkau menganggap aku ini gila ?. [HR. Muslim juz 4, hal. 2015]