Friday, December 5, 2014

Syahadat

Rasanya pernah menulis tentang dua kalimat syahadat, tapi karena menonton adegan dialog orang yang (mungkin) kerasukan jin, di salah satu acara televisi swasta yang cuplikannya diunggah ke facebook ditulis lagi. Berikut kutipan dialognya:

Jin: Agamu Apa?
Orang: Agamaku Islam.
Jin: Apa syaratnya masuk Islam?
Orang: Membaca syahadat
Jin: Tahu artine?
Orang: Aku bersaksi......
Jin: Kapan kamu ketemu? Kok bersaksi...
kamu harus belajar agama islam....
Biar tahu apa makna syahadat itu

(sunyi ... diam ....merenung)
Allah menciptakan jin dan manusia tidak lain hanya untuk (pen. beribadah kepada-Nya) menyembahNya...

Tadinya kepingin membahas siapa yang bicara tentang syahadat, bisa melipir dan melebar kemana-mana. Lebih baik bahas pemahaman tentang syahadat hasil merangkum banyak sumber, juga hidayah dan pengalaman berislam selama ini, sebagai pembanding dialog di atas.

Syahadat lebih dari sekedar syarat.
Sebagian kita ketika mendengar kata "syarat", asosiasi di kepala biasanya menganggap syarat adalah sesuatu yang harus dipenuhi, kemudian usai ditunaikan (telah memenuhi persyaratan) menganggapnya tidak perlu diulang atau ditengok lagi.

Syahadat tidak demikian, dua kalimat syahadat lebih dari sekedar syarat memeluk agama Islam. Syahadatain adalah kalimat pengantar berislam, sekaligus tujuan mengapa kita berislam.

Agar hidup hanya untuk beribadah kepada-Nya, agar ibadah tidak terbatas rukuk-sujud, tapi juga ketika bekerja, berbicara, bergaul. Agar mencontoh baginda Nabi SAW, bahwa memeluk Islam berarti membawa kasih sayang bagi alam semesta, bukan hanya pengasih kepada umat Islam, tapi untuk seluruh ciptaan-Nya. Dengan demikian baru terasa benar persaksian kita, bahwa Allah SWT pencipta segala termasuk perbedaan, bahwa baginda Nabi SAW telah memberikan semua tuntunan dan contoh yang dibutuhkan agar menjadi umat pembawa rahmat bagi semesta.

Syahadat barangkali, bila divisualkan adalah pintu masuk sekaligus pintu keluar, awal sekaligus akhir, yang kita masuki berulang-ulang dengan beragam pengalaman dan pemahaman 'bersyahadat'. Selesai dengan sebuah kesaksian, ternyata pengantar kepada kesaksian berikutnya.

Bersaksi dan bertemu
Kutipan dialog di atas menganggap bersaksi berarti telah bertemu. Konteks 'bertemu' dalam dialog tersebut bisa salah bisa benar.

Salah, ketika konteksnya menganggap pertemuan harus terjadi secara harfiah dulu baru kemudian bersyahadat (bersaksi), tapi benar juga, bila kita (atas ijin-Nya) bisa menatap 'wajah' dan sifat-sifat-Nya pada setiap ciptaan, baru kemudian bersaksi.

Meski 'bertemu' secara harfiah dialami baginda Nabi SAW saat mi'raj, lalu Rasulullah SAW diberi Allah SWT 'hadiah' berupa perintah shalat, agar umat beliau SAW bisa juga 'bermi'raj', namun shalat hanya bisa diamalkan setelah bersyahadat.

Posting ini tentang bersyahadat (bersaksi) ketika belum pernah melakukan 'upaya pertemuan' dalam shalat (pertemuan dalam shalat sesuai hadits Nabi SAW, bila kita belum diijinkan-Nya menatap, setidaknya Allah SWT pasti menatap kita.)

Tanpa 'pertemuan' bagaimana bersaksi?
Bersaksi berbeda makna dengan menyaksikan. Tidak semua yang bersaksi harus dan telah bertemu atas apa yang menjadi persaksiannya. Misal, siapa yang bisa membantah seseorang yang bersaksi bahwa matahari itu panas. Apakah yang bersaksi pernah bertemu matahari secara harfiah? Betul disinari matahari dan bisa menatap matahari dengan alat bantu , tapi bercengkrama (sebagai bagian dari pertemuan) bersama matahari?

Dengan akal pikiran dan hati nurani mestinya setiap Muslim bisa bersaksi dan mempertanggung jawabkan kesaksian dalam syahadatnya. Tiap muslim berbeda-beda pengalaman dan hidayah ketika mencari 'kebenaran' dalam syahadat. Dari sekedar lafaz menjadi kesaksian yang benar.

Ada yang mengulang kegalauan nabi Ibrahim AS dalam mencari Tuhan; ada yang seperti nabi Musa AS tidak berhenti bertanya dan mempertanyakan; ada yang seperti nabi Isa AS makin kukuh kesaksian akan Tuhan ketika berbagi kedamaian dan cinta kasih pada sesama; ada juga yang seperti nabi Adam AS kesaksiannya akan Tuhan menjadi lebih teguh setelah 'melanggar' larangan dan menjalani 'hukuman' terbuang dan dipisahkan dari ciptaan kecintaannya, Hawa.

Setiap 'calon manusia' sebelum lahir ke bumi, tidak ada yang mampu memilih kelak ingin lahir di keluarga yang bagaimana, atau memilih ingin dibesarkan dengan budaya dan lingkungan sesuai keinginannya. Kemudian diajar dan belajar mengenal Tuhan sesuai lingkungan di mana ia dilahirkan, atau malah diajar dan belajar menisbikan Tuhan (lebih dulu) sebelum bersaksi. Adalah wilayah Tuhan.

Begitu pula dengan dorongan (hidayah) untuk mengenal-Nya, mengakrabi-Nya, dan mencintai-Nya (atau meninggalkan-Nya), pada tahap tertentu adalah wilayah kehendak Tuhan, seperti ketidakmampuan anak manusia memilih, kelak ingin lahir di keluarga bagaimana.

Kata mendiang guru mengaji, "Hidayah memang datang hanya atas kehendak-Nya, hanya pada tahap tertentu. Tahap berikutnya upaya dan usaha pencari hidayah yang lebih berperan. Hidayah bukanlah tamu yang suka datang tanpa diundang. Hidayah seringkali datang sesuai kesiapan wadah penerimanya."

Wajar bila Rasulullah SAW mengingatkan kita umatnya, agar tidak berjalan dengan sombong di muka bumi. Karena menjadi umat Rasulullah SAW atau umat nabi Daud; atau nabi Musa AS; dan umat nabi Isa AS, hanya atas kehendak-Nya, begitu pula dengan umat agama lain.

Wallahu'alam bissawab..