Friday, October 10, 2014

Sorga di Bumi

"Sorga sudah bisa kita raih sejak semasa hidup."

Sehabis 'asal' menginterpretasi film kemarin, sehabis jum'atan, kalimat di atas terngiang-ngiang. Posting ini untuk 'memeriksa' pendapatku di atas.

Definisi Sorga Di Bumi

Bermacam-macam definisi sorga yang bisa dicapai di bumi, bila kita menanyai setiap orang.

Bagi perokok berat dan peminum kopi, rokok sebatang dan kopi panas, sudah keping sorga. Bagi yang sedang patah hati, meski perih namun meringis dalam kamar yang lapang dan sejuk masih sorga sedikit ketimbang patah hati dalam kontrakan kecil yang pengap, panas dan bayaran tertunggak.

Ada yang menganggap sorga adalah ketika keinginannya berbagi kebaikan bisa terlaksana. Ada juga yang menganggap sorga di bumi adalah dengan berhasil menjalani hidup penuh kehati-hatian dan kesederhanaan untuk sorga yang lebih baik pada kehidupan selanjutnya.

Dari beragam definisi di atas, bisa disimpulkan sementara: sorga di bumi, adalah terpenuhinya keinginan (apapun jenis keinginan, bendawi, syahwat ingkar, syahwat taat), dan tercukupinya (bila perlu berlimpah) kebutuhan dan keinginan semasa hidup. 

Definisi Layak Menjadi Penghuni Sorga

Menurut Qur'an Surah Al-Fajr:27-28: "Duhai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya".

Pada ayat berikutnya (29) manusia diminta masuk ke barisan hamba-hamba-Nya, baru kemudian (30) dipanggil masuk ke dalam Sorga.

Kenapa bukan manusia yang tenang, manusia yang berkecukupan, manusia yang puas, atau jiwa yang suci, yang dipanggil masuk ke dalam sorga? Kok malah nafsu yang tenang, tunduk dan taat?

Berarti definisi "nafs mutmainnah" lebih sorgawi dari pada definisi awal; terpenuhinya keinginan dan kebutuhan. Karena "nafs mutmainnah" menjadi ciri penghuni sorga di kehidupan kemudian.

Logika sederhana, seseorang yang akan menjalani kehidupan berbahagia setelah matinya, mesti semasa hidup sudah berbahagia, minimal mengenal kebahagiaan.

Meski lazim kita temui orang yang berdalih memilih penderitaan di dunia, karena layak dijalani demi kebahagiaan sesudah mati. Dalih mereka tidak bisa kita pandang hitam-putih. Boleh jadi ketika mereka berdalih penderitaan ini tidak apa asal cuma di dunia, tujuannya menyamakan persepsi kepada yang melihatnya menderita, sebenarnya bagi mereka sudah tidak beda antara derita dan bahagia.

Wong, mereka yang berdalih demikian mesti berhasil menundukkan syahwatnya, hingga layak disebut syahwat yang tunduk. Kalaupun belum berhasil, sedang berusaha menundukkan, dan dalam keceriaan perjuangan mengejar harapan, derita atau bahagia rasanya sama saja.

Berarti seseorang semasa hidup di dunia sudah bisa mencapai 'hawa sorgawi', dan berlaku untuk semua manusia, tanpa batasan apapun, karena definisi "nafs mutmainnah" bisa dicapai oleh semua manusia pada tahapan tertentu, cukup dengan akal sehat dan hati nurani.

Di luar berkah kasih sayang Tuhan, semua manusia sudah dilengkapi perangkat untuk menundukkan nafsu, dengan akal pikiran dan hati nurani. Iman dan ajaran agama, pada wilayah yang lebih luas juga bertujuan mendidik manusia bagaimana menundukkan nafsu, hingga yang ada hanya jiwa yang tenang, dimana nafsu membaikkan diri sendiri dan orang lain tumbuh.

Nampaknya, sebelum mampu mengaplikasikan ajaran agama menundukkan nafs, membuat nafs tenang, tunduk dan taat melalui amalan ajaran agama, sebaiknya akal sehat dan hati nurani sudah lebih dulu selesai menundukkan nafsu yang berada dalam jangkauannya atau lebih baik lagi bila berbarengan.

Neraka di Bumi

Tentu kebalikan definisi sorga di bumi, yang menjalani neraka semasa hidup adalah mereka yang ditundukkan oleh nafs-nya sendiri.

Bila dalam film "Silver Linings Playbook" tokoh Pat belajar menundukkan nafsu amarah, dan nafsu memiliki, melalui proses dianggap "gila", berarti bila kita jujur pada diri sendiri, banyak diantara kita (termasuk saya) yang masih berada dalam tahap gila, atau tahapan menundukkan nafsu.

Pat dengan kemampuan berpikir, didorong mekanisme hukuman dan imbalan di kehidupan sosial membuatnya  berpikir bagaimana menemukan strategi menundukkan nafsu.

Berarti bila menundukkan nafsu begitu sulit, cukup dengan tidak diperbudak nafsu kita sudah menghampiri "nafs mutmainnah", kita sudah mendekati sorga. Mulai dari tidak tunduk kepada nafsu ingin benar sendiri, ingin makmur sendiri, dan seterusnya keinginan.

Wallahu'alam..