Saturday, October 11, 2014

Fiksi: Garis Putih Keperakan II

Bab 2 – Metal Tania

“The things of the night cannot be explained in the day, because they do not then exist.” ERNEST HEMINGWAY, A Farewell to Arms

”Hemmingway gila! Ibu harus tahu ini.” Bergegas aku turun ke kamarnya.

“Apa hidup kurang getir, kenapa Hemmingway harus menulis kisah yang tidak berakhir bahagia? Dari awal sampai menjelang akhir pembaca digiring berpikir tentang akhir bahagia. Istrinya hamil dan menunggunya pulang dari peperangan. Dia bahkan berdansa sendiri sambil membayangkan dipeluk suaminya. Saya sampai membayangkan menemaninya berdansa. Kenapa Hemmingway tega membunuhnya? Tepat setelah suaminya pulang ke rumah?”

“Roy, bisa besok saja kau cerita? Ini pukul 3 pagi.” Kata ibu mengusap matanya.

“Kalau nisan Hemmingway dekat sini, sekarang juga aku ke sana bu. Dia keterlaluan!”

“Lalu kenapa kami yang dibangunkan kekesalanmu Roy? Kau berutang maaf pada ibumu dan aku.” Kata ayah menatapku serius.

“Aku tidak mau minta maaf, ini kesalahan Hemmingway.”

“Kalau begitu tidurlah, dan siang nanti suruh Hemmingway kemari meminta maaf.”

“Ya, sudah seharusnya Hemmingway minta maaf. Ayah, ibu, selamat tidur.” Kataku sambil keluar dari kamar mereka.

Saya tidak merasa bersalah dengan kekesalanku barusan. Hemmingway memang keterlaluan. Dia tidak tahu bagaimana pahitnya hidupku setelah dipaksa pengadilan terpisah dengan Mita.

Sampai bersiap lari pagi, dadaku masih disesaki jengkel. Hemmingway harus belajar menipu pembaca dan dirinya.

***

Terkadang hal terbaik dalam hidup pergi tepat setelah kita menemukan sisi indahnya, sisi yang membuat kita ingin terus bertahan.

Mendiang suamiku begitu. Dia meninggal dunia dalam kecelakaan di jalan tol, di kursi mobilnya ditemukan satu kotak hadiah, bertuliskan namaku. Berisi pakaian dalam yang indah.

Bila ada laki-laki yang mau memilih dan membelikan sendiri perempuannya baju dalam yang indah, berarti hanya satu perempuan itu di hatinya. Pakaian dalam tidak seperti mawar yang cocok bagi perempuan mana saja.

Kepergiannya menyisakan lobang besar dalam dada. Aku seolah menjadi pesakitan yang divonis tanpa sempat membela diri, tidak diberi kesempatan memperbaiki keadaan. Lobang besar, cukup besar untuk membuatku teratur konsultasi dengan psikiater tiga bulan terakhir setelah kehilangan pekerjaan di kantor.

Sepeninggal Ryan, aku jadi lebih kenal laki-laki. Mahluk yang bisa memisahkan cinta dan seks, mahir memalsukan cintanya untuk seks. Aku tidak mencari laki-laki seperti itu, meski terkadang diantara rasa putus asa, palsupun tidak apa, kendati tanpa cinta sama sekali.

Satu persatu tuduhan-tuduhan yang dilontarkan pikiranku berhasil aku bantah dan mengajaknya berdamai. Terisa pembuktian terakhi, bahwar aku telah memaafkan diriku sendiri dan semua kegilaan setelah Ryan meninggal.

Aku harus bisa jatuh cinta lagi. Aku harus bisa menemukan laki-laki yang benar-benar cinta padaku, dan itu bukan perkara mudah.

Roy layak diberi kesempatan. Akan mau datang ke undangan makan malam Deni minggu depan dan bertemu Roy.
...bersambung