Friday, October 10, 2014

Fiksi: Garis Putih Keperakan I **

** iseng latihan, menulis interpretasi film "Silver Linings Playbook"

Bab I - Rock Roy

Setiap orang memiliki kegilaannya masing-masing. Salvador Dali, Pablo Picasso, Van Gogh, Gaugin, Sebastian Bach, Beethoven, menjadi terkenal karena kegilaan mereka. Sementara saya, dengan keputusan pengadilan dinyatakan gila dan harus dirawat di rumah sakit jiwa.

Ayahku, divonis pengadilan tidak boleh masuk stadion seumur hidup. Sejak itu ayah menonton klub bola kesayangannya dari televisi. Di stadion ayah berkelahi dengan pendukung tim lawan yang berakhir di rumah sakit, patah tulang dan gegar otak ringan. Kegilaan ayah mungkin menurun padaku.

Saya sendiri bingung, yang gila sebenarnya siapa. Para hakim yang menjatuhkan vonis saya gila dan harus dirawat, atau cinta sudah tidak lagi dianggap sebagai kegilaan yang bisa dimaklumi meski tidak masuk akal. Orang-orang itu sudah benar-benar gila, bila tidak lagi membutuhkan cinta agar bisa menerima kegilaan masing-masing

Menurut dokter di sini, penyakit jiwa memang begitu, tidak seperti penyakit badan yang membuat penderitanya mengaduh dan berusaha sembuh. Penyakit jiwa justru membuat penderitanya merasa sehat, dan semua orang kecuali dirinya sudah gila karena menganggapnya sakit.

***
Hari ini tepat delapan bulan menjalani perawatan di rumah sakit Sumber Waras. Tidak ada yang berobah, dokter dan para perawat di sini masih bersikap sama, semua pasien di sini gila, hanya mereka yang waras.

Menurutku itu sikap yang salah. Semua pasien di sini tahu, tiap manusia punya sisi gila. Mereka mestinya tidak bersikap seolah tidak memiliki sisi itu, mereka hanya sedang berhasil menguasainya.


Tiga bulan terakhir obat-obatan dari dokter dan perawat tidak ada yang ku telan. Saya merasa baik-baik saja, tidak menjadi makin waras atau merasa makin gila, hanya makin rindu Mita.

“SEMPURNA”, kata itu menggantikan semua obat-obatan rumah sakit. Kutulis dengan huruf kapital dan kutempel di dinding. Saya sedang menatapnya sekarang. Ritualku setiap hari sebelum lari pagi.

Kebiasaan baruku berlari pagi dan kata “SEMPURNA” semuanya dari Mita dan untuk Mita. Dokter rumah sakit yang memberitahuku, di minggu kedua. Setelah merusak televisi di ruang santai yang memutar lagu pernikahanku dengan Mita.

“Kau harus belajar mengendalikan emosimu Roy, atau kau tidak akan pernah lagi bertemu Mita seumur hidupmu.” Kata dokter yang menatapku tidak berdaya dalam balutan jaket khusus.

“Dokter tidak tahu, lagu itulah penyebabnya.” Jawabku geram, lagu itu kembali mengalun dalam kepalaku.

“Roy, kau tidak bisa melarang stasiun televisi atau stasiun radio di seluruh negeri berhenti memutar lagu pernikahanmu, tapi kau bisa mengatur reaksimu saat mendengar.”

“Mita tidak akan suka melihat keadaanku sekarang.” Kataku lirih, air mataku mulai merembes keluar. Setiap mengingat Mita, seolah seluruh kemampuanku mencintai dan mengasihi berkumpul jadi satu.

“Apa lagi yang Mita tidak suka yang masih ada padamu Roy?”

“Perut buncitku, emosiku yang meledak-ledak. Dua itu yang dibencinya.”

“Mari kita sebut menghilangkan apa yang Mita tidak sukai sebagai “SEMPURNA”. Kita punya waktu delapan bulan bila kau menunjukkan perkembangan berarti selama di sini. Delapan bulan lebih dari cukup untuk mencapai “SEMPURNA”.”

“Mita memang suka menyebutnya, saat membaca buku bagus, kisah ini “SEMPURNA”. Betul dokter, Mita ingin saya mencapai garis itu.”

Sejak hari itu tulisan “SEMPURNA” kutempel di dinding kamarku di rumah sakit, rajin lari pagi dan berat badanku hari ini sudah berkurang 12 kilogram. Demi Mita, garis finish keperakan bertulis “sempurna” di kejauhan harus kucapai.

Tiga bulan terakhir obat dari dokter tidak mau lagi kutelan. Setiap dibagikan, kusembunyikan di bawah lidah, lalu kubuang diam-diam.

Obat itu tidak hanya menghentikan alunan lagu pernikahan kami dalam kepalaku, semua kenangan tentang Mita mau diambilnya juga. Tidak ada yang boleh merenggut Mita dariku. Dia cinta sejatiku.

***
“Halo Deni, ini Ibunya Roy. Apa kabar?” Kata suara dari telepon.

“Kabar baik bu, ibu mau mengingatkan hari minggu besok ya? Tenang bu, saya tidak lupa menemani ayahnya Roy menonton bola, mendukung tim kami.”

“Bukan, ini bukan soal bola.”

“Tentang apa bu?”

“Tentang Roy. Permohonanku dikabulkan pengadilan, Roy bisa keluar dari rumah sakit jiwa hari ini, asal mau menjalani terapi pada psikiater yang ditunjuk pengadilan, sampai dinyatakan sembuh.”

“Apa yang bisa kubantu bu?”

Ibu Pur lalu bercerita panjang lebar tentang kondisi Roy dan perkembangan terakhir Mita, istrinya.

“Jadi sudah tidak ada peluang Roy rujuk kembali bersama Mita?”

“Bisa dibilang begitu. Bukannya Tania, adik istrimu masih melajang setelah suaminya meninggal dunia?”

“Apa tidak lebih baik bila Roy dengan perempuan lain saja bu? Ibu kan tahu, setelah suaminya meninggal Tania depresi berat, dipecat dari pekerjaan, dan Tania sempat dirawat psikiater.”

“Jangan ragukan perasaan seorang ibu. Mereka berdua sama-sama baru muncul di permukaan setelah ditenggelamkan ombak besar. Berenang berdua menuju pantai terdekat tentu lebih baik dari pada berenang sendirian. Kita hanya perlu melemparkan satu pelampung di antara mereka.”

“Baiklah bu Pur. Saya dan istriku akan mengatur perkenalan mereka berdua. Hanya itu yang bisa aku janjikan.”

“Memang hanya itu, selanjutnya biarlah takdir mereka berdua yang bekerja. Terima kasih Deni.” Kata ibu Pur sebelum menutup telepon.

Aku mengenal Roy sejak kecil. Orang tua kami sudah bertetangga sebelum kami lahir. Ada atau tidak ada keputusan pengadilan yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit jiwa, bagiku dan teman-teman masa kecilnya, Roy tidak gila. Dia hanya kesulitan mengendalikan suasana hatinya yang suka berubah tiba-tiba dan meledak-ledak saat apa yang menurutnya berharga dilecehkan orang.

Tidak ada yang salah dengan mempertahankan prinsip, selama tidak membuat orang lain masuk rumah sakit. Roy harus belajar menunda ledakan emosinya, dan meledakkannya di tempat lain bila tidak juga surut, tanpa melukai dirinya dan orang lain.

***
Akhirnya hari yang kutunggu-tunggu tiba, ibu muncul di rumah sakit membawa surat dari pengadilan, yang menyatakan aku sudah bisa meninggalkan rumah sakit dan melanjutkan perawatan di luar. Dokter yang merawatku kurang setuju, mau menandatangani surat ijin keluar setelah ibu berkeras.

“Ayolah dokter, satu tanda tangan lagi. Tanpa persetujuan dokter, dengan keputusan pengadilan yang kubawa, Roy tetap akan pulang hari ini.”

“Padahal Roy sudah mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan di sini.” Kata dokter sambil menandatangani surat ijin.

“Aku tidak mau anakku terbiasa dengan kehidupan di rumah sakit jiwa, terima kasih.” Kata ibu melotot.

“Kau terlihat sehat dan kuat Roy, perutmu sudah tidak buncit lagi.” Kata ibu menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Untuk Mita bu. Ini semua untuknya.”

“Apa masih ada tersisa sedikit tempat untuk ibumu?”

“Oh ibu, jangan bicara begitu. Tempat ibu sudah lebih dahulu ada sebelum Mita.”

“Masuklah ke mobil, ibu ingin cerita perkembangan di rumah sambil menuju pulang.”

“Bu, kawanku bisa ikut? Rumahnya searah rumah kita, dia juga keluar hari ini. Sesudahnya kita mampir di perpustakaan, sebentar saja bu. Saya ingin meminjam buku-buku sastra bahan Mita mengajar, bahanku menemaninya diskusi.”

“Kawanmu boleh ikut Roy, mampir di perpustakaan juga masih ibu kabulkan, tapi jangan minta ibu mengantarmu ke sekolah tempat Mita mengajar apalagi ke rumahnya.”

“Saya masih ingat keputusan pengadilan. Setahun tidak boleh mendekati Mita, sampai dinyatakan sembuh. Saya harus bersiap-siap bu, sebelum bertemu Mita tahun depan.”

... bersambung