Sunday, October 12, 2014

Fiksi: Garis Keperakan III

BAB III – Interlude

Ketika band metal dan band rock sedang bermain musik menyela konser di satu panggung, kira-kira musik apa yang akan mereka mainkan? Menurutku, kalau bukan dangdut mestinya soul. Musik yang membuat band musik bingar melembut, jujur menari dengan perasaan mereka sendiri. Karena segala kebaikan hidup ada pada kejujuran.

Malam ini aku diajak makan malam Roy. Aku suka caranya menatapku di tempat Deni kemarin. Dia jujur, terlalu jujur bahkan, tidak ada yang disembunyikan sorot matanya, membuatku kembali merasa perempuan.

Lugu mungkin lebih pas, kata-katanya berhamburan tanpa koreksi. Aku ingin sejujur dia.

Pelayan menghampiri kami, “Sudah siap mau pesan apa?”

“Aku pesan sereal,” kata Roy buru-buru.

“Aku minta lemon tea,” kataku.

“5 menit siap, dua itu saja dulu?” tanya pelayan menatap heran pada catatan pesanan kami berdua.

“Apa tidak terlalu malam untuk sereal Roy?” aku sama herannya dengan pelayan kafe.

“Kau sendiri, kenapa pesan teh?”

“Karena kau memesan sereal.”

“Saya pesan sereal supaya kita tidak menganggap ini kencan.”

“Aku pesan teh, supaya kau bisa membenarkan pikiranmu barusan.” Jawabku ketus. Roy benar-benar lugu untuk laki-laki yang sudah pernah menikah.

“Maaf, saya sudah mulai lupa bagaimana berkencan. Saya mau minta tolong.”

“Minta tolong apa?”

“Kau masih sering bertemu Mita? Saya ingin menulis surat, tapi tidak tahu bagaimana memastikan sampai. Saya dilarang mendekatinya setahun ini, atau kembali masuk rumah sakit jiwa.”

“Sering ketemu tidak, tapi masih bisa aku usahakan mengantar suratmu.” Jawabku.
Awal yang buruk Roy. Tidak bisakah menahan diri sedikit, hargai aku, perempuan yang sedang duduk di depanmu. Atau jangan-jangan Roy sedang berusaha mengingkari perasaannya terhadapku?

“Saya berantakan sejak terpisah Mita, kau sudah tahu. Sampai harus masuk rumah sakit jiwa. Kau sendiri sejak Ryan tiada?”

“Tidak lebih baik darimu Roy. Aku dipecat. Aku tidur dengan semua teman kantorku.” Aku memutuskan jujur padanya, kulebih-lebihkan agar Roy nyaman berada dekat orang yang bernasib sama dengannya.

“Hah? Semuanya? Berapa orang?”

“Sebelas.” Jawabku berusaha santai, meski kesal Roy memakan umpan yang salah. Dia memang terlalu jujur.

“Ada perempuan diantara mereka?”

“Ada, satu orang.”

“Kau melakukan dengannya juga?”

“Iya.”

“Bagaimana? Saling memangku? Seperti di film-film itu?”

Kuceritakan pada Roy setiap detil. Terlanjur salah makan umpan, sekalian habiskan, dan mata Roy kembali tidak bisa bohong. Sialan, dia membayangkannya.

“Kau dan aku tidak jauh berbeda Roy. Sedang belajar merelakan.”

“Maaf, kita tidak sama. Meski sama-sama terpisah, aku tidak sepertimu.”

Roy belum pernah melihat perempuan marah barangkali.

“Begitu? Antar sendiri suratmu, aku tidak mau membantu lagi!” Kubalik meja dan isinya, lalu bergegas keluar.

“Tapi kau sudah berjanji.” Roy mengejar.

“Laki-laki sepertimu tidak layak dibantu.” Aku terus berjalan. Batas antar jujur, lugu dan bodoh amat tipis.

“Apa salahku?!”

“Dengar tuan yang jago bohongi diri sendiri. Aku jujur dan membuka diriku kepadamu, termasuk masa laluku, bukan untuk kau hakimi. Peduli setan dengan penilaianmu, selama aku bisa maafkan diriku sendiri dan memperbaikinya.”

“Saya minta maaf..” Roy menahanku. Orang-orang dari bioskop di samping kafe sudah ramai menonton kami bertengkar.

“Simpan maafmu. Pakai maafkan dirimu sendiri.” Aku terus berjalan, menepis tangan Roy.

Mendadak Roy limbung memegangi kepalanya. Lagu pernikahannya, terdengar dari dalam gedung bioskop. Aku berhenti melangkah. Laki-laki ini karena cintanya mampu memaafkan istrinya, tapi tidak sanggup memaafkan dirinya sendiri yang terkhianati. Deni sudah mengingatkan, hindarkan Roy dari lagu pernikahannya. Lagu ini mengalun ketika dia mendapati istrinya selingkuh, emosi Roy tidak terkendali.

“Ayo Roy! Itu cuma lagu, tarik nafasmu dalam-dalam.” Roy kuhampiri dan kupeluk.

Aku jatuh cinta padanya, tidak terbendung lagi. Tak sanggup melihatnya menderita serupa itu.

...bersambung