Sunday, August 3, 2014

Causa Prima

Jauh sebelum manusia pertama Adam dicipta, semesta sudah lebih dulu tercipta lengkap dengan aturan dan hukum alamnya.

Setelah manusia mulai beranak-pinak, bumi dan alam raya yang tadinya sejajar sesama ciptaan dengan manusia, di mata manusia 'turun peringkat' menjadi 'resources', sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia.

Bagi alam bukan masalah diposisikan sebagai 'sumber daya' atau sebagai 'mitra' manusia. Lakukan apa saja yang manusia suka, toh alam hanya patuh pada hukum alam. Keseimbangannya boleh dirusak, alam tetap akan menemukan keseimbangan baru. Baru masalah bila sudah terlalu timpang, hingga alam tidak lagi bisa mencapai keseimbangan.

Manusia dan alam raya sebagai sesama ciptaan, sesama energi, sesama massa yang menempati ruang dan waktu, semua terikat hukum alam, mulai dari hukum gravitasi, hukum aksi-reaksi, hukum kekekalan energi dan lain-lain.

Hukum alam yang mengikat ciptaan, juga berlaku pada sesama manusia. Alam bila hutannya digunduli akan mengirim banjir, agar bibit-bibit pohon yang masih tersisa bisa kembali tumbuh menjadi bakal hutan. Manusia bila terus-terusan saling bunuh, alam tidak bisa menyeimbangkannya sesederhana banjir menghidupkan bibit pohon di lahan tandus agar kembali menghutan.

Tidak sederhana bukan berarti mustahil. Dari catatan sejarah, suku bangsa yang pernah mengalami genocide, (dulu Israel korban holocaust sekarang pelaku terhadap bangsa Palestina, dulu Serbia di Bosnia) secara alami perempuan-perempuan mereka menjadi lebih subur dari sebelumnya.

Bila sekedar air tidak lagi bisa menumbuhkan bibit dalam tanah tandus, biasanya gunung ikut urunan, mengeluarkan lava dan debu vulkanik penyubur tanah sebelum air datang membasuh.

Jadi kebodohan apa yang ingin dicapai manusia dengan perang? Ingin kembali ke titik awal penciptaan semua mahluk hidup? Ketika bumi masih sepanas matahari, kemudian diselimuti air?

***

Peperangan selalu menawarkan dua sisi untuk dipilih, dan satu sisi lagi untuk tidak memihak siapa-siapa. Memilih sisi manapun, menawarkan 'ujian' yang sama.

Bila memihak pada yang tertindas, ujiannya harus bisa membela dan membantu tanpa terseret ke level kebencian yang sama dengan penindas, dan membuang pikiran menunggu waktu sebelum balik menindas.

Bila memihak pada yang menindas, ujiannya dipaksa hati nurani (mestinya masih punya) agar memeriksa kembali dari mana datangnya legitimasi menindas, kemudian meluruskan.

Yang tidak memihak siapa-siapa, ujian hariannya berusaha berdiam diri di antara ketidak adilan yang lalu lalang di depan mata.