Sunday, May 25, 2014

Hakim

Selain menggantikan fungsi malaikat pencatat amal kebajikan dan keburukan, minggu-minggu belakang dan ke depan nampaknya beberapa admin akun sosial media makin banyak yang menjadi hakim, penyidik, penuntut, dan pembela sekaligus.

Beragam vonis dijatuhkan, tuduhan didakwakan, hingga ke wilayah aqidah dan keimanan, yang notabene privat dan personal untuk tiap-tiap orang dengan Tuhan. Iman dan akidah dibawa ke titik terendah agar bisa terukur dan dihakimi, menilai kemasannya dan dari apa yang nampak.

Media sosial memang ladang kesuburan yang menawarkan potensi merusak dan potensi membaikkan sama besar. Nyaris tanpa batas, seperti televisi, subuh teduh kuliah subuh lalu mengikut matahari yang menghangat, ikut panas kuping dengan gunjingan aib orang. Dari kotak yang sama, atau dari akun yang sama, atau dari akun yang berbeda tapi admin yang sama.

Masalahnya pemred televisi berbeda dengan admin akun sosial media, yang mengurusi aib orang dan mengurusi kuliah subuh produsernya beda. Akun sosial media cenderung one man show, buruk untuk akal sehat si admin.

Saya belum mikirin apa akibatnya untuk yang membaca 'transkrip' pengadil-adilan, sekarang masih lebih mikirin si admin, karena seperti air dan minyak, kebaikan dan keburukan tidak bisa bersatu, meski berputar pada roda waktu yang sama. Sepandai-pandai minyak menyaru jadi air, tetap minyak.

Minyak cenderung menarik dan menyatu dengan ceceran minyak lainnya, begitu pula air. Tidak ada yang perlu dikuatirkan dengan akibatnya pada orang lain, malah bisa 'disyukuri' karena membantu proses pemurnian pada yang percaya maupun yang menganggapnya omong kosong belaka.

Sekeji apapun vonis yang coba dijatuhkan, fakta dan opini apapun yang dijadikan dasar menghakimi, bagi yang terbiasa dengan email hoax dan sudah terbiasa dengan forum online hanya akan dianggap angin lalu.

Yang membuat bingung, seberapa besar tarif propaganda yang bisa membuat kita berani menggantikan Tuhan sebagai pengadil akidah dan keimanan orang lain?