Thursday, April 17, 2014

Her

Kemarin unduh "Her", film tahun 2013. Settingnya agak absurd, Theodore jatuh cinta pada operating system komputernya, Samantha, punya kecerdasan virtual, bisa belajar, punya emosi, dan keinginan.

Bila tidak terfokus ke absurdnya hubungan antara manusia dengan 'mesin', ada banyak 'pesan' yang coba disampaikan film ini. Salah satunya, adegan Samantha mengakui selain dengan Theodore yang membeli OS dan menginstall, dia juga menjalin cinta dengan 641 orang dan OS lain.

Theodore patah hati. Rupanya Theodore belum pernah dengar joke lawas tentang OS Win 3.1, nice graphical user interface, multi-task, multi-media, but multi-user too.

Rasanya bukan joke tadi maksud film tersebut dengan Samantha yang menjalin cinta total 642 termasuk Theodore, tapi masih bisa setia dengan masing-masing mereka. Biar masuk akal kenapa bisa menjalin 642 cinta bersamaan. Setidaknya dalam PC yang mengoperasikan OS Samantha, ada 10 inti processor dengan 64 bit instruksi bersamaan. 1 bit untuk satu cinta, setia.

642 cinta Samantha bukan jenis 'perselingkuhan konvensional karena dorongan nafsu'. Perselingkuhan tidak konvensional maksudnya seperti; pada pasangan yang pertama tidak ada A, maka ketika bertemu yang kedua dengan faktor A jatuh cinta lagi, tapi yang kedua belum punya B yang ada pada si ketiga, dan seterusnya.

Cinta pada yang pertama tidak disebabkan oleh faktor A yang tidak dimilikinya. Cinta pada yang kedua karena faktor A yang dimilikinya, dan cinta pada yang ketiga karena memiliki faktor B, begitu kira-kira cara Samantha setia dengan ke-642 cintanya.

Cinta separalel Samantha bisa dimiliki oleh manusia, hanya bila dalam satu tubuh ada banyak 'kepribadian' yang independen masing-masing mencari tipe-tipe pasangan yang disukai sesuai selera. Konon dalam kepala pengidap schizophrenia ada banyak pikiran independen yang menyuarakan keinginan dan pikirannya sendiri-sendiri.

Kasus setia pada banyak cinta atau jatuh cinta berkelanjutan seperti Samantha sebenarnya bisa diatasi bila manusia yang mengalami. Masing-masing bit; atau kepribadian; atau suara dalam kepala mesti ingin kriteria mereka yang jadi, dengan mengemukakan alasan dan dalil mengapa harus yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Samantha mencintai semua, karena masing-masing 'bit' dari processor berhak mendapatkan cintanya, meski ada 640 bit sekalipun.

Bila manusia yang mengalami pasti sulit, setia dengan 3 saja susah (apalagi 642), akan ada distorsi dan konflik. Manusia tidak bisa mengeksekusi 64 bit ekspresi cinta dalam rentang waktu bersamaan. Apalagi soal rasa, manusia cenderung membuat prioritas dan hirarki, beda dengan mesin, bisa flirting 642 kekasih dan masing-masing bit tidak saling terpengaruh atau terganggu.

Mengabaikan pertimbangan suara-suara dalam kepala dan hati yang mengajukan jagoannya masing-masing lengkap dengan pertimbangan-pertimbangan, cukup sulit. Namun suara-suara itu akan terdiam bila kita sudah tidak butuh alasan mencintai.

Atau dengan mencontoh Ali bin Abu Thalib, ketika ditanya Hasan anaknya, bagaimana ayahnya bisa merangkum begitu banyak cinta dalam diirinya secara bersamaan, mencintai baginda Nabi SAW, Ibunya, dia dan Husen. Ali menjawab, cinta pada mereka adalah turunan dari kecintaannya pada Allah SWT.

Selesai soal setia dengan 642 cinta. Berikutnya yang menarik ketika Theodore didebat mantan istrinya, bahwa dia tidak mampu menjalin hubungan dengan emosi yang nyata. Hingga jatuh cinta pada emosi yang bersumber dari kecerdasan buatan, seperti Samantha.

Rasanya ingin mendebat mantan istri Theodore juga, bagian mana dari emosi yang nyata? Person yang mengeluarkan air mata, tersenyum, tertawa, atau meringis itukah yang nyata? Itu hanya lapisan terluar dari emosi yang kita sebut ekspresi. Walau belum tentu menang, berdebat soal rasa dan emosi dengan perempuan sama saja adu asin, air bergaram segelas dengan air laut :D

Soal definisi emosi nyata, tidak selesai, dan tidak bisa diselesaikan karena indikatornya rasa, dan untuk 'merasa' ada yang hanya butuh menutup mata mendengar lagu sudah cukup, ada yang harus bersentuhan baru bisa merasa.

Bagian menarik terakhir ketika Samantha pamit. Dia dan seluruh OS kecerdasan buatan lainnya memutuskan untuk 'bunuh diri'. Samantha berjanji akan menunggu Theodore di alam sana, dan meminta Theodore mencarinya bila sudah di sana. Samantha menjelma menjadi bentuk esensinya, jadi 'spirit', jadi ruh.

Pesan terakhir ini tidak kalah menarik dengan 642 cinta setia Samantha. Sejak awal film, sosok Samantha adalah upaya menganologikan 'ruh' dalam bentuk OS dengan kecerdasan buatan. Tidak kasat mata, tapi ada, merasa, merindu, mencinta.

Ketika baru pertama kali diinstal hanya program kosong tanpa kemampuan apa-apa. Namun punya kemampuan dan keinginan belajar, memenuhi semua kebutuhan dan keinginan hingga 642 cinta untuk masing-masing bit processor, dan akhirnya ingin 'pulang'.