Tuesday, April 22, 2014

A Beautiful Mess**

**inspired when heard same song title from Jason Mraz

Akhirnya tadi sore bisa seangkot dengan anak 'seribu wajah', duduk bersampingan. Bertemu kali pertama beda angkot, saya hanya bisa mengamati dari jauh. Kemeja lengan panjang terkancing hingga ujung kerah, bersepatu boot karet, tas selempang menyilang di bahu, bertopi hijau dan tidak pernah kehilangan senyum.

Selalu minta duduk di depan samping pak supir. Berkah untuk angkot yang dipilihnya, penumpang tidak lama menunggu angkot penuh. Klakson dipencet-pencet berulang kali seolah mendesak kenek agar bekerja lebih gesit mencari penumpang, angkot harus segera berangkat. Tidak ada yang marah, malah tertawa bareng, seangkot, seterminal terlihat amat sayang padanya.

Sering disusupi haru bila melihat anak 'seribu wajah'. Bagai menatap 'wajah Tuhan' kataku, bagai diserbu keharuan yang sama ketika berdo'a atau bersimpuh sujud. Wajah mereka seperti bayi, pikirannya tidak disusupi kecenderungan-kecenderungan, jiwanya murni.

***

Sistem tranportasi massal kita belum semua mengadaptasi kebutuhan kaum khusus seperti anak 'seribu wajah' dan mereka yang berkebutuhan khusus lainnya. Namun, masyarakat terminal, warga pengguna angkot, mampu menyediakan ruang khusus yang mereka butuhkan. Dugaanku, anak ini hanya sekali dititipkan dan dikenalkan ke orang-orang di terminal oleh orang tuanya, berikutnya Tuhan melalui warga terminal yang akan menjaganya. Sayang tidak bisa ngobrol banyak, dia terlalu asyik dengan klakson.

"Dima turun diak?" (Turun dimana dik?)
"Ambo di atu taba. Apak turun dima?" (Saya di Batu Tabah, bapak turun di mana?) 
"Di Batang Gadih.."
"Dakek, tigo ibu sajo.." (Dekat, tiga ribu doang)

Lalu kembali sibuk main klakson sambil tertawa bahagia.

Through timeless words and priceless pictures
We'll fly like birds not of this earth

Sistem-sistem yang tercipta dalam masyarakat warga seperti di terminal dan di angkot tadi, khas kearifan Nusantara. Menutup celah-celah yang belum tertutupi oleh sistem formal. Polisi cepek/ pak ogah, perparkiran liar pada perlehatan khusus, preman penjaga keamanan pasar, juga termasuk bukti kreatifnya masyarakat kita mengisi celah sistem.

Ada harapan baik dibalik kreatifitas warga masyarakat. Sistem dan aturan yang akan dan harus mengisi celah, sisa mengadaptasi dan merangkul sistem yang telah terbangun oleh kesadaran masyarakat sendiri. 

Kelak bila Musrembang tingkat kabupaten akan membahas aturan dan sistem tentang terminal angkutan dan transportasi umum, Muspida dan masyarakat bersama-sama di terminal membahasnya, dalam tawa riang sekeluarga besar.