Sunday, February 2, 2014

Why Do You Love Me

So sweet and tenderly.. ~ Koes Plus

Masih terinspirasi Koes Plus, masih terkenang Murry. Masa kecilku bahagia, bila ukurannya lagu-lagu apa saja yang bisa terdengar dari radio tape transistor milik ayah atau dari koleksi kasetnya. Pemutar piringan hitam, ada tapi sudah rusak di gudang. The Panbers, Koes Plus, The Beatles, Keroncong, Campur Sari, Saluang, banyak tidak semua kuingat.

Ayah dosen biasa di PTN, gajinya tidak akan mencukupi untuk semua peralatan elektronik miliknya, tekad dan berkah nafkah halal yang memampukan. Waktu SD kelas 5, teman-teman sekolah yang kebanyakan dari kalangan yang lebih lapang, sudah mulai pakai sepeda ke sekolah. Jadi kepingin punya sepeda juga. "Apa tanpa sepeda kamu tidak bisa belajar? Kalau masih bisa, berarti tidak penting. Ayah usahakan belikan, apa saja kebutuhan sekolahmu dan 7 saudaramu, sepeda belum penting. Masih lebih hemat seperti sekarang dengan becak langganan." Saya dan 2 orang kakak satu SD, langganan antar jemput dengan becak. Sesekali bila ayah mengajar pagi, kami diantar dengan mobil dinas yang lebih sering nangkring mogok ketimbang hidup, Land Rover dan Fiat.

Hasrat kepingin punya sepeda sendiri tidak bisa surut malah makin besar, tetangga samping rumah, toko sepeda, tiap hari ada model baru. Tanya-tanya kalau rakit sendiri, beli satu-persatu bisa habis berapa, ternyata lebih murah dari beli jadi. Hampir setahun menabung, beli satu persatu, libur panjang persiapan masuk SMP, sepeda BMX sudah jadi.

Saya belajar tentang cinta dan tekad dari masa itu, yang so sweet and tenderly.. Cinta ayah pada kami membulatkan tekadnya untuk berusaha mengadakan apa saja kebutuhan sekolah kami.

***

Kemarin yang aku maksud dengan persoalan non-teknis bangsa kita, tentang sikap mental dan kejujuran memandang diri sendiri, ketika menjadi rakyat dan ketika (berkeinginan) memimpin. Itu tentang cinta.

Cinta pada apa kita (rakyat dan pemimpin) sebenarnya? Pada kekuasaan, atau pada nama besar, gaji besar dan kenyamanan fasilitas sebuah posisi? (tapi karakter dan kelakuan malah kerdil) Atau memang cinta negeri ini? Kata ibuku, "Bila cinta, lautan api pun kau sebrangi." Bila benar cinta, tidak ada masalah yang terlalu besar untuk diatasi.

Mudah mengukur kadar cinta rakyat dan (calon) pemimpin pada negeri. Bila mereka tulus, maka seluruh komponen negeri tidak akan sanggup menolak, malah membalasnya dengan cinta yang tidak kalah tulus dan besar. Mau berujung kekuasaan atau tidak, tidak peduli, yang penting cinta.

Kecuali bila sistem negeri ini sudah 'sesempurna' negeri sebelah, ndak perlu cinta-cinta. Kita hanya butuh retoris ulung, penguasa panggung, pengumpul suara, bukan pemimpin. Sistem yang bahkan saat di 'shutdown' ketika anggaran mereka tersandera di parlemen, semua tetap berjalan. Hasil ratusan tahun menyempurnakan sistem, dari versi beta ke final release, namun selalu ada patch perbaikan dan penyesuaian.

why do you love me
so sweet and tenderly
I'll do anything to make you happy