Monday, February 10, 2014

Tiga Kaki

Salah satu bab dari tulisan kumpulan surat-surat imajiner yang sedang kutulis, bercerita tentang Tan Malaka. Posting ini karena baca kumpulan artikel pemikiran Tan Malaka di internet. MADILOG, buah pikiran Tan Malaka jauh melampaui jamannya, jauh sebelum membaca konsep trivium Nassim Nicholas Thaleb:
"Pendidikan ‘trivium’ (tiga bidang dasar) yang ideal dan paling tak merugikan masyarakat kiranya matematika, logika, dan bahasa; cukup banyak penulis dari pelajaran bahasa muncul untuk mengimbangi kehilangan kebijaksanaan akibat matematika; cukup banyak matematika dan logika untuk mengontrol kata-kata dan retorika.”
MADILOG: Materialistis; Dialektika; dan Logika. Konsep yang ingin dibumikan Tan Malaka untuk memajukan Indonesia.

Konsep Tan Malaka masih terlalu 'puitik' bila dibandingkan konsep trivium Nassim Nicholas Thaleb yang sudah semi-aktual, atau lebih membumi.

Wajar kalau pemikiran Tan Malaka puitik, dia hidup di jaman romantisme flamboyan, jaman ketika rambut mengkilap, lengket oleh minyak kelapa, disisir ke samping dan ke belakang. Hanya puting beliung dan pacar yang bisa mengacak-acak rambut lelaki generasi Tan Malaka.

Bila pemikiran mereka berdua belum terlalu aktual, belum berupa skenario dan strategi. Kira-kira kalau diaktualkan bentuknya seperti apa?

Salah satu bentuk trivium asli Indonesia yang sudah aktual, tata kelola Nagari: Kepala Adat (pengambil kebijakan); Ulama (pertimbangan rohani); dan Cerdik Pandai (pertimbangan rasional).

Tripod kamera juga aktual, struktur 'mobile' paling stabil, kokoh dan adaptif dengan kontur permukaan di mana diletakkan.

***

Semangat kedua konsep itu sama, sama-sama tidak suka 'kebodohan', sebab utama mengapa 'tahayul' masih selalu dikedepankan menjadi jalan keluar menyelesaikan perkara teknis.

Ketika Arab Saudi lolos ke putaran final piala Dunia tahun 1994, saya suka menggoda teman-teman sesama petaruh, ini mesti mereka yang juara dunia. Sejazirah Arab duduk berdo'a di Musdalifah memohon kemenangan tim nasional mereka.

Do'a itu 'kain pembungkus' harapan atas sebuah usaha nyata. Tanpa usaha 11 orang tim nasional di lapangan melampaui usaha tim-tim lain, mereka hanya menyodorkan bungkusan kosong untuk direstui Tuhan. Ya kalah.

Tahayul adalah: berharap sesuatu terwujud tapi tidak menggunakan kekuasaan kecil yang telah diberikan Tuhan pada setiap orang, pada setiap bangsa untuk mengubah nasibnya sendiri menjadi lebih baik dengan kerja nyata.

***
 Kedua konsep itu juga tidak suka kepada 'pembodohan' dialektika dan retorika. Masyarakat belum bisa menalar dan mengoreksi dialektika dan retorika informasi dari para politisi dan atau dari mana saja.

Dan keduanya tidak suka pada kemiskinan akibat dari kebodohan dan pembodohan. 

Mencerdaskan manusia, pendidikan satu-satunya cara. Dengan lembaga formal, non-formal dan keteladanan. Apa kabar pendidikan dan keteladanan di negeri kita?