Tuesday, January 14, 2014

Ya Nabi Salam Alaika

His face is a light that drives out the darkness
Words are alive – his message is living
Joy everywhere, our voices are singing
~ Ta’la Al Badru


Saya suka bertanya-tanya sendiri sejak dulu, mengapa dalam hati bisa tumbuh dan bertumbuh cinta kepada nabi Muhammad SAW. Sejak kapan adanya? Apa seperti bibit rumput dan semak yang bersembunyi dalam tanah, menunggu hujan kemudian tumbuh? Sejak kapan bibitnya ada? Siapa yang menaruhnya ke dalam hati? Sejak kapan mulai tumbuh?

Cinta ini menyalahi konsep dan pengalaman ‘bercinta’ pada sesama ciptaan yang sudah-sudah. Tidak ada pertemuan fisik, tidak ada interaksi langsung, tidak ada bau, tidak tau sejak kapan.

Lahir di keluarga muslim, mesti sering melihat dua kaligrafi besar digantung di dinding rumah, Allah SWT dan Muhammad SAW. Ketika kutanya ayah, siapa Allah SWT? Allah SWT itu Tuhan semesta alam. Lalu siapa yang namanya bersanding di samping kaligrafi Allah?  Itu Muhammad SAW, Nabi dan Rasul terakhir. Kenapa posisinya sejajar? Satu Tuhan, satunya utusan, mestinya Tuhan lebih tinggi. Ayah tidak menjawab, hanya tersenyum. Nanti kalau sudah mulai belajar mengaji, ada penjelasannya dalam Qu’ran.

Boro-boro memberi penjelasan, guru mengaji yang belum pernah menonton dan melihat video tape, habis waktunya kami kerjai. 2 jam pelajaran di rumah, 1 jam 30 menit kami ajak menonton serial silat mandarin, “Memanah Burung Rajawali” sisanya 30 menit baru abatasa.

Akhirnya ketahuan ayah, saya dan seorang kakak dikirim ke masjid depan rumah, yang dua lagi tetap belajar di rumah, tapi video tape nya dikunci dalam almari.

Di masjid depan rumah, guru mengaji matanya selalu membelalak, mistar kayu panjang siap menghajar pantat siapapun yang usil dan nakal. Kami selalu lolos dari incaran penggaris kayunya. Pernah juga sekali kena jewer, kedapatan menyelipkan komik pewayangan dalam Qur’an kecil juz Amma.

Balas dendam kami hanya bisa seminggu sekali, setiap Jum’at berjama’ah. Belasan anak-anak kecil bersuara cempreng seperti suara burung gagak pilek, membuat koor Aamiin. Suara 1 sampai suara 23, membuat imam menunda bacaan berikutnya sampai ‘Aamiin’ kami senyap. Usai Jum’at kami tidak boleh masuk kelas. Harus ke rumahnya, menimba air dari sumur, mengisi bak air besar.

Akhirnya masuk sekolah dasar. Mulai mengenal syahadatain, jawaban awal mengapa kaligrafi itu bersanding sejajar.