Tuesday, December 3, 2013

Pematung #1

 
Angin enggan bergerak, matahari cukup terik, rimbun daun pepohonan di taman menghalau silau sebelum senja. Seorang gelandangan menenteng tas kantor, bajunya lusuh robek di bahu. Memutari tugu macan di taman tiga kali, lalu duduk bersila di samping ukiran nama-nama veteran pejuang.

Ditumpahkan isi tasnya. Ada kapur tulis, kertas ampelas, kondom bekas, pisau ukir tumpul, tusuk gigi, kopiah, sarung lusuh, kaos kaki, dan seragam pejuang serwarna kaki, hitam kecoklatan di atas, putih di telapak. Aku yang mengamati sejak tadi, dianggap tak ada. Tidak pedulinya menyaingi patung macan di sampingnya. Dari kejauhan sulit membedakan mana yang patung.

"Hei! Bisa beri aku sebatang rokok?"

Kaget, nyaris menjatuhkan kamera yang kukemasi, siapa yang meminta rokok, patung macan atau gelandangan yang mematung duduk bersila.

"Cepat sedikit, sebentar lagi gelap."

Kuangsurkan rokok sebungkus, "Ini buat bapak."

"Sebatang saja, kelak mematung aku tidak merokok. Kalau nanti dia yang minta rokok jangan kau beri." Matanya mendelik ke patung macan.

Tetap kutinggalkan sebungkus dan beranjak ke tempat parkir. Lampu-lampu taman mulai dinyalakan. Berpasang-pasang kekasih mulai berdatangan, mengadu palsu. Dari tempat parkir kulihat patung macan bergerak berlahan. Berdiri tegak dengan kaki belakang. Kulit lorengnya jatuh seperti kain sarung. Gelandangan itu memakainya dan mulai mematung. Lampu tugu menyala, hanya ada macan.

"Ini rokok dan korek apimu." Seseorang dari belakang mengangsurkan tangannya. Aku menoleh. Aku kenal wajahnya, dia dulu seorang pematung tersohor.

---NOTE TO SELF---

Fiksi ini terpikirkan begitu saja selepas subuh, tiba-tiba teringat patung macan, salah satu karya mendiang perupa senior Sulawesi Selatan. Mungkin karena menjadi salah satu obyek rally foto kemarin. Kutulis buat latihan menulis acak tanpa teknik mengurai ide awal jadi sub-sub ide pembentuk plot. Kutulis untuk mengalihkan pikiran dan perasaan dari hal-hal yang entah sudah berisi apa saja. Juga karena beberapa kali kutemukan aku sudah pandai diam mematung.

Beruntung pernah melihat semasa mendiang hidup, sedang membuat patung di halaman rumahnya. Patung setengah badan pahlawan nasional Dr. Sam Ratulangi, sekarang di pajang di halaman sekolah Nasional, sekolah R.W. Monginsidi saat Dr. Ratulangi menjadi kepala sekolah, mendiang juga alumni di sana.

Dia kudapati sejam diam mematung, tidak menyentuh rokok dan kopi. Pahat dan palu tergeletak menunggu di sampingnya. Hanya memandangi patung yang masih berbentuk batu bulat besar dari semen. Kopiku, buatan anaknya sudah hampir habis.

------