Thursday, September 12, 2013

Harapan

Memiliki harapan atau tidak usah berharap? Pada harapan, ada peluang kecewa juga peluang bahagia, pada keduanya ada pelajaran, yang tidak berharap, tidak belajar apa-apa, yang salah menempatkan harapan, juga bisa tidak dapat apa-apa bila ditenggelamkan kecewa.

Aku belajar sedikit tentang “harapan” dari orang-orang kampung bersahaja selama di sini. Mulai belajar waktu naik angkot penuh sesak. Awal-awal, tiap akan naik angkot aku berharap; semoga tidak penuh, semoga dapat kursi kosong dekat pintu, semoga banyak obrolan menarik yang bisa aku petik dan tabung dialognya.

Diam-diam dengan harapan-harapan itu aku membuat pra-kondisi, memformat diriku menjadi potongan puzzle, yang (harapanku) akan berpasangan dan klop dengan potongan puzzle lainnya pada angkot yang mau kunaiki. Harap sesuatu yang belum terjadi, pada tempat dimana tidak punya kuasa dan daya untuk membentuk keping puzzlenya dari tempatku menunggu angkot.

Sesekali pre-format ini berhasil. Kepingan puzzlenya klop, tinggal duduk dan melanjutkan harapan ke level berikutnya. Tapi lebih banyak kali yang tidak berhasil. Kursi kosongnya di deret paling belakang, penuh anak-anak pulang sekolah obrolin gebetan masing-masing. Sepanjang jalan aku tidak dapat apa-apa, habis untuk re-format, mengemasi harapan-harapan, syukur-syukur tidak ngedumel.

Pada kesempatan berikutnya, bapak-bapak sepuh menahan angkot sesak yang aku naiki. Kutebak apa “format puzzle” bapak ini sebelum naik angkot, kursi kosong? Klopkah dengan kondisi yang ditemuinya sekarang? Atau dia tahu pasti, yang muda akan memberinya tempat duduk dan bergelantungan di pintu?

Dia menolak ketika kutawari kursiku, bahkan setengah memaksa dia saja yang bergelantungan. Dulu waktu muda biasa bergelantungan, mantan kenek katanya. Ketika bilang “waktu muda”, kontan salah seorang ibu penumpang angkot nyahut, Ondee.. Alah lalu maso mudo tu doh, duduaklah, masuak angin beko.. (Ampuun, sudah lewat masa muda kita, duduklah, nanti masuk angin..).

Kayaknya asyik bila harapan kita bisa seperti air. Seperti bapak sepuh yang berusaha, bahkan memaksa beradaptasi dengan 'wadah', padahal tidak semua wadah kaku. Air, ditaruh dimanapun dia mengikut bentuk wadahnya. Transformasinya bentuknya juga lengkap, bisa jadi gas, cair dan padat. Pertanyaannya, harapan air apa? Kusut.

Mungkin sifat air ini level “berserah diri” lainnya, sedikit di atas “what ever will be, will be” atau pasrah. Yang berserah diri terasa luwes, tanpa kehilangan jati diri (amanat keberadaanya) ketika berhadapan dengan takdir. Yang pasrah, pasif menerima, walau rasanya ini masih sedikit di atas menyerah. Yang menyerah, kemungkinan tidak akan naik angkot yang tidak sesuai harapannya, ketimbang dua “kawan” lainnya tadi, yang sudah naik.