Saturday, March 30, 2013

Kamar Manusia

Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak, dia takkan menjadi apa-apa. (h.87 Bumi Manusia - PAT). Kutipan ini kayaknya cocok untuk mereka yang mau maju perjuangkan niatnya membangun kota dan masyarakatnya, bukan untuk mereka yang mau perjuangkan jabatan walikota. Jabatan tak lebih sebagai jalan untuk mewujudkan niat.

Mendiang Pramudya Ananta Toer menulis 'master piece' Bumi Manusia, makamnya sudah 'bumi', aku baru berani 'kamar' dan ini bukan karya sastra, esai biasa aja. Pemicunya jelang pemilihan walikota Bandung dan Makassar.

"Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya . (Minke, 135)

***
Dari Dalam Kamar
Kamar bagian dari rumah, kumpulan rumah jadi rukun warga, kumpulan rukun warga menjadi kelurahan dan kampung, sekumpulan kampung diberi nama  distrik dan kecamatan, kecamatan membangun sebuah kota dan kabupaten. Kumpulan kota dan kabupaten menjadi organisasi lebih besar lagi, propinsi, negara dan bangsa-bangsa, akhirnya dunia.

Kamar, ruang, bagian dari struktur sekaligus pengisi rumah yang berdinding, "ring satu" bagi orang-perorang. Kamar untuk sebagian besar kita berdinding, beratap, berpintu dan berjendela, kamar bagi sebagian lain, atapnya langit, dindingnya pagar bangunan, lantainya trotoar.

Sebagai faktor eksternal, tentu kamar dan penghuninya bisa saling mempengaruhi, entah kita yang membentuk kamar menjadi sesuai kepribadian, atau kamar yang ikut mempengaruhi kepribadian kita. Keduanya bisa silih berganti peran.
 
***
Kaidah dalam arsitektur moderen di bangku kuliah dulu, sebuah desain dan rancangan setidaknya dibuat berdasarkan 3 azas, fungsional, estesis dan filosofis. Tiga azas ini menurutku kurang satu, azas joy atau azas happiness, yang barangkali bisa menjadi bagian dari azas fungsional, kalau mendesain taman bermain, tapi kalau mendesain kantor? Rumah? Kota?

Di Ubud, azasnya mengerucut jadi satu, desain arsitektur dan konstruksi bangunan lainnya harus menjadi bagian dari alam, satu kesatuan (padahal memang begitu), harmoni, tidak merubah alam tapi "mengalah" dan menyesuaikan diri dengan alam (kesimpulan awal aku setelah dua kali ke sana).

Ubud masuk salah satu dari 10 kota terbaik di Asia versi CN Traveler. Panitia mendefinisikan Ubud sebagai kota, yang boleh jadi menurut kita malah "kampung", indikasinya gampang aja. Coba dari jalan raya Ubud, belok ke jalan Arjuna, berjalan kaki kira-kira 500 meter melewati satu pura, dan banyak penginapan, kita sudah ketemu sawah dan gemericik air. Sesuatu yang hanya bisa kita temui di kampung, bukan dalam kota.

Kenapa Ubud? Karena di sana, kamar yang merupakan volume terkecil untuk beraktifitas, ruang privat terkecil dari ruang-ruang pembentuk kota, telah dirancang untuk harmonis dengan alam. Mereka merancangnya demikian, bukan karena todongan PERDA, atau perintah ketua RT/RW, tapi kesadaran kolektif para kepala keluarga.

Dari kamar yang tidak "menindas" alam, tidak "menaklukkan" alam, tapi berselaras, kecil kemungkinan lahir keputusan, persekongkolan, atau perkoncoan yang bertujuan merugikan alam. Si pembuat keputusan dan aturan pasti bagian dari alam, apa dan siapa yang akan diaturnya juga bagian dari semesta.

..bersambung "SIMCity"