Monday, February 25, 2013

"Azab" itu Sederhana

Bukan hanya bahagia yang bisa tumbuh dari hal-hal sederhana, "azab" juga bisa datang dari sesuatu yang sederhana. Tuhan memang Adil :D

Tiap orang pasti memiliki rasa tidak suka (bahkan benci) pada sesuatu, entah pada kebiasaan, pada bau, pada suara, pada warna, pada laku dan banyak lagi. Ada rasa tidak suka yang tidak bisa ditelusuri awalnya bagaimana kenapa bisa tidak suka, ada yang masih bisa.

Aku tidak suka semeja makan dengan orang yang saat mengunyah mulutnya berbunyi mengecap. Sebabnya, semasa kecil dulu, kalau semeja makan dengan almarhum Kakek, aku yang waktu itu juga suka mengecap, sering ditinggal makan sendirian. Aku jadi berhenti mengecap, tapi jadi ikut-ikutan tidak suka semeja makan dengan orang yang mengecap. Sampai pernah bertengkar hebat nyaris kelahi dengan seorang teman SMA, saat makan di rumahnya, aku yang salah, tamu kok menegur tuan rumah.

Di masjid, bila shalat berjamaah, seringkali kita sendiri atau orang disamping kita melafazkan bacaan shalat tidak bersuara, tapi mendesis. Waktu ngaji masa SD malah sengaja dijaharkan bacaannya, pamer sama guru ngaji dan teman-teman, sok khusyu atau sudah hafal nih.. :D

Nah, tadi yang disampingku itu bukan mendesis, tapi mengecap 4 rakaat, ampun Tuhan..

Kebahagiaan timbul dari hal-hal sederhana karena ada "syukur", dan "azab" dari sumber sederhana, terasa sebagai "pelajaran" karena ada "sabar"..