Wednesday, January 16, 2013

Gegap Gagap Pesta*

*) catatan pemilik satu suara di pemilu dan pemilukada. 

Kajaolalido dan Arompone | serat Latoa, alm. Prof. Mattulada di MIWF 2012
Lazimnya sebuah perlehatan besar di tanah lapang. Orang-orang berkumpul, musik dan yel-yel menimpali. Warna diseragamkan, nomor diagungkan, menyebut-nyebut dan berhitung segala kebaikan. Di tanah lapang lain juga begitu, kadang hanya beda warna dan angka. Rumput patah, rumput diinjak, beberapa tercabut, diganti tiang-tiang bambu umbul-umbul, dan penyokong panggung.  Selamat berpesta! Tak apalah, berada di bawah dan terinjak, sudah amanah keberadaan kami, ujar para rumput.

Rumput mudah untuk tumbuh lagi, tidak demikian dengan kita yang berpesta di atasnya. Sekali tercabut dari akar budaya dan kearifan setempat, susah kembali berakar dan tidak setabah rumput. Tercabut bisa oleh semangat berkompetisi berlebihan, bisa oleh kepentingan lain, uang, gengsi, jabatan dan banyak hal lain yang tidak semestinya menjadi sebab tercabut hingga akar, meski oleh niat ingin memimpin, membaikkan yang dipimpin sekalipun.

Dalam politik bermain kotor itu biasa. Jadi, bila itu "sudah biasa", maka dengan sendirinya bisa dibenarkan? Lalu untuk apa biaya mahal berkala, bila hal yang "sudah dianggap biasa" itu, oleh rakyat seperti kami, setiap pagi juga bisa dipelajari dari persaingan para pedagang pasar, yang seringkali malah lebih arif dalam bersaing.

Ketika muncul wacana debat akan dipindahkan ke kota lain. Entah, yang paling pertama terbayang, wajah KH. Zawawi Imron, kyai penyair dari Madura. Malu. Beliau yang dari luar Sulawesi Selatan bisa menggali kearifan lokal di sini dengan utuh, menyalin ulang dalam kata, dalam laku. Kita yang lahir dan besar di sini malah mulai menanggalkan sipakatau. Sipakatau, selama kita masih saling menganggap manusia, saling memanusiakan, rasanya tak ada gejolak yang tidak bisa selesai.

Tentu pihak keamanan punya alasan dan perhitungan tersendiri ketika menyarankan KPU dan para kandidat untuk meniadakan debat tahap kedua, usai debat tahap pertama berujung kerusuhan antar pendukung kontestan, dan tentu ada "banyak pihak" selain para kontestan sendiri yang amat berkepentingan dengan kemenangan, dan setiap situasi baik atau buruk, bisa ditunggangi dan diputar balikkan.

Mungkin terlalu sentimentil bila merasa sedih, atas nama keamanan, menanggalkan kesempatan memberi contoh pada kami aplikasi nilai sipakatau, tapi juga rasional bila menganggap meniadakan debat tahap kedua, berarti tidak menggunakan kesempatan menyiramkan air ke atas bara dalam sekam.

Semoga tidak demikian. Bara api akan mati sendiri tanpa angin. Setidaknya, itu yang bisa aku rasakan saat berkeliling malam-malam berapa hari ini. Apinya bukan api abadi, tidak dari hati.