Tuesday, November 27, 2012

Hidup Itu Bergerak

truk lalu lalang di pelabuhan Paotere | 2012 @aanburhany

Dan hidup itu, bukanlah pergerakan karena sibuk mendefinisikan apa itu hidup, sampai hidup sendiri terbengkalai.

Selain mendefiniskan hidup, manusia juga suka mencari definisi cinta. Mungkin bentuk usaha memenuhi harapan hidupnya di dunia agar tidak berakhir seperti kisah novel Giovanni Drogo, yang mati dengan harapan menjadi pahlawan penjaga benteng terdepan saat menjegal musuh. Drogo memang mati di benteng terdepan, tapi tanpa pernah melihat musuhnya, juga tanpa pernah memiliki saudara ipar.

***

Ini pengalaman pertama serius menulis novel. Biasanya esai, atau sekedar posting blog. Harus pandai-pandai mengatur stamina, seperti berhadapan dengan kanvas besar, setelah lancar dengan ukuran A3. Hanya berbekal ide, sudah kutulis beberapa bab secara acak, tanpa terlebih dahulu menurunkan ide menjadi sinopsis, sinopsis menjadi storyline, storyline menjadi draft awal, akhirnya draft awal jadi draft akhir.

Settingnya kehidupan nelayan, saat terlibat bagian dari konsultan teknis di proyek milik lembaga pemberdayaan masyarakat pantai dan pesisir, dananya dominan bantuan Jepang, sisanya bank Dunia dan pemerintah setempat. Banyak sekali kisah-kisah inspiratif di sana antara tahun 1995-2000.

Tentu saja ada kisah cinta, plot utama tadinya kisahku. Sub-plot kisah cinta seorang nelayan dengan tenaga ahli dari bank Dunia. Beberapa tahun lalu pernah ngobrol dengan mbak H, istri pak nelayan. Kayaknya kalau dari segi tragedi, banyakan kisah dia dari kisahku deh. Apalagi setelah ngobrol-ngobrol. Tadi berusaha temui bapak nelayan suaminya di dua pelabuhan rakyat, tapi tidak ketemu. Katanya sekarang mengurus empang. Keduanya pribadi yang mengagumkan, sayang kalau gak dieksplorasi dan diekspose.

Mereka aku sebut mengagumkan, karena bila menurut biologi, sesuatu bisa disebut mahluk hidup, salah satu indikasinya adalah "bergerak" (CMIIW). Maka mereka sudah bergerak agar bisa bersama-sama, melalui rentang yang amat jauuuuuuuuuuuuh (andai gak menjengkelkan yang baca, kupenuhi u satu alinea ini). Dari segi pendidikan formal, bapak nelayan SD tak tamat. Soal materi dan kesuksesan duniawi, mbak H udah tenaga ahli bank Dunia, plan international yang sekarang di lokasi bekas kantornya berdiri Kalla Tower. Ayah mbak H, di Makassar tahun 60-80an, yang sekaya mendiang Haji Kalla, gak sampai sepuluh, termasuk mendiang ayah mbak H pemilik hotel Sentral, empang dan sawahnya di Takalar, kalau berdiri di tengahnya, maka sejauh mata memandang masih sawah dan empang ayahnya. Belum lagi perbedaan gaya hidup. Pokoknya halangan mereka banyak, selain jarak tadi. Faktor orang tua, saudara dan lain-lain. Mbak H berhenti bekerja, tinggal di pondok nelayan bersama suaminya sampai akhirnya setelah orang tua mbak H berpulang, mereka yang diserahi tanggung jawab mengelola empang warisan. Sudah beranak-cucu.

Mau nerusin, nanti melebar kemana-mana, karena ada kemiripan. Asumsi dan tafsiran milik yang membaca, sudah bukan punya penulisnya begitu dipublikasi.