Wednesday, July 4, 2012

Ketika Orang Desa "Diajari" Korupsi

pembukaan jalan baru di salah satu pelosok kabupaten di sulawesi tengah, 2011 @aanburhany


Saya tidak tahu apa itu program PNPM/P2KP dan segala "underbouw" nya, mendengar namanya pertama kali tahun 2010 di Palu dengan istilah, fasilitator, fasilitator teknis dan lain-lain. Layaknya seperti program-program lain, ada yang yang berhasil ada yang gagal, ada yang memberi imbas positif, adapula yang negatif.

Ada banyak persoalan pribadi yang ingin aku "tumpahkan" tapi rasa-rasanya bila hanya satu arah dan tidak face-to-face malah semakin ribet jadinya, jadi aku kulum kembali jadi draft. Tiga hari lalu sepulang dari warung kopi Mammi, tempat nongkrong penyuka fotografi di Makassar, aku ketemu kakak seorang kawan, alumni FH Unhas, setahun lebih senior dari Abraham Samad.

Orang "aneh", heheheu.. Dia sekitar 4 tahun di Maumere, dan 3 tahun di Surabaya jadi notaris, akhirnya memilih pulang kampung ke Galesong, jadi petani, ingin hidup tenang dan berkah. Cobaannya berat, harus membawa tiga bintik hitam di dahinya :D Hari itu dia nampak gusar, lebih gusar dari biasanya tiap kali aku becandai soal tanda di jidatnya. Kalimat pertamanya, "Bubarkan PNPM! Program itu merusak orang kampungku!"

Setahuku dana PNPM itu dikelola langsung oleh masyarakat. Program atau kegiatan apa berikut berapa anggarannya, juga masyarakat yang usulkan. Betul, kata dia, tapi namanya "orang kita" selalu bisa menciptakan celah dari sebuah sistem yang dirancang ideal. Lalu disebutnya beberapa celah yang membuat tekanan darahnya meninggi; 1. Saat pencairan ke kecamatan; 2. Saat mengajukan gambar teknis dari program yang bersifat teknis, perbaikan jalan misalnya, walau di kelompok mereka ada yang punya keluarga sarjana Sipil, gambar teknisnya tidak disetujui, sampai yang menggambar adalah "orang dalam", honornya 1,5juta.; 3. Saat pelaksanaan dan pengawasan program; 4. Orang yang berada di posisi "kunci" setahun kemudian taraf ekonominya jadi jauh membaik. Yah, sama saja seperti "proyek" lainnya, kataku.

Dia masih terus ngedumel. Akal sehatnya terusik. Sumber dana PNPM itu utang lunak, induk pengelola dananya ditunjuk melalui proses tender. Di Indonesia mana ada tender yang bersih?! Dari awal sudah salah. Pemberi pinjaman bank Dunia atau IMF, atau founding mana saja yang punya kepentingan supaya Indonesia tetap terpuruk. Orang kampungku itu lurus-lurus dan tidak pernah kenal "godaan" gaya hidup "hedon" ala orang kota, sampai mereka masuk membawa dana puluhan dan ratusan juta. Mereka merusaknya! Lewat sistem dan (beberapa) orang-orang di dalam sistemnya. Orang kampung tidak butuh PNPM, kami sudah punya kehidupan dan pekerjaan sebelum mereka datang, mereka yang butuh orang kampung. Coba kalau semua kampung menolak PNPM, programnya bubar sendiri.

Heheheu.. Kau kan dulu semasa masih notaris sudah biasa mengelola uang jutaan, bahkan milyar, pengalamanmu ya tugasmu, di kampungmu.. Lalu kutinggal pamit pulang, dia hanya butuh didengarkan bukan jawaban, yang aku sendiri tak punya solusinya..