Sunday, October 16, 2011

Luka

Repost dari catatan 2 September 2011 Filosofi Luka di tumblr.

Luka, bila tak membuat peka, membuat makin bebal.

Pernah dapat luka goresan di lutut atau siku? Perih kalau pas kena air (apa lagi air asin) wuih! Beberapa minggu lalu ponakanku lututnya luka, jatuh habis berlarian dengan abangnya di teras. Waktu kubilas dengan air, membuang pasir yang melengket, dia nangis, “Periih Oom..”

Air yang selama ini aku kenal berkarakter sejuk menyejukkan, buat hilangkan haus atau gerah, punya sisi perih juga. Sisi yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang terluka kulitnya.

Luka di kulit, bila tidak kita rawat dengan baik, setelah sembuh akan meninggalkan keloid, kulit menebal dan berkurang kepekaannya. Luka di hati, bila tidak kita rawat dengan baik, setelah sembuh membuat kita menjadi pribadi yang lebih buruk.

Kesampingkan penyebab dan sumber lukanya, paksa, karena seringkali apa yang kita anggap sebagai sebab dan sumber malah tidak tahu apa-apa, walau sakit. Marah dan benci di hati itu bagai reaksi berantai tanpa henti di reaktor nuklir, cari inti atomnya, nolkan, NOL tanpa kutub negatif, juga positif, elektron, proton dan kawan-kawan bisa bikin reaksi berantai apa lagi, bila tidak lagi bermuatan, kecuali floating in the silence mencari makna baru keberadaannya.